bekerja adalah bentuk jihad
bekerja adalah bentuk jihad

Siklus Aktifitas Manusia itu Ibadah, Termasuk Bekerja adalah bentuk Jihad

Islam mendudukan manusia sebagai hamba yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Secara fitrah berarti manusia adalah mengabdi dan beribadah. Lalu, apa seluruh kehidupan manusia harus dihabiskan dengan ibadah?

Jawaban tegasnya adalah iya harus! Seluruh aktifitas kehidupan manusia harus semata mengabdi dan beribadah. Hanya saja, kita perlu memperluas makna ibadah tidak hanya sebatas ritual. Apapun aktifitas duniawi yang diniatkan untuk kepentingan Allah adalah ibadah. Dari sejak tidur hingga bangun lagi adalah siklus ibadah.

Umat Islam jangan terjebak pada penyempitan ibadah hanya persoalan ritual. Termasuk dalam hal pemaknaan jihad, misalnya. Jihad bukan sebatas makna sempit berperang tetapi mengerahkan seluruh tenaga untuk kemashalahatan diri dan yang lain adalah jihad. Bagaimana dengan menfari nafkah?

Islam mewajibkan bagi umatnya bekerja keras mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Justru, Islam sangat mencela umat yang malas atau yang menggantungkan hidupnya hanya dari belas kasih orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Mencari nafkah dengan bekerja, dalam Islam dicatat merupakan suatu ibadah bahkan Allah menggolongkan umatnya yang bekerja sama saja dengan berjihad di medan perang, dengan catatan, pekerjaan yang dilakukan dan uang yang di dapatkan halal. Tentu saja niat dan cara itu sangat diperhitungkan dalam Islam. Bahkan berperang pun jika hanya niat ingin populer dan dianggap syahid, tidak juga terhitung di akhirat.

Allah sangat menghargai kerja keras yang secara nyata dilakukan oleh umatnya. Dalam salah satu hadis disebutkan, “Memangnya (yang tergolong) berjihad di jalan Allah itu hanya (mereka) yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia berjihad di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia berjihad di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia berada di jalan thaghut.” (HR. Thabrani)

Jadi apabila kita melihat seorang muslim yang banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dengan giat, mereka bukanlah bekerja hanya untuk mendapatkan harta keduniawiaannya saja. Namun, mereka juga bekerja untuk menyiapkan bekal akhiratnya yakni dengan memenuhi kewajibannya dengan bekerja, selama pekerjaan dan uang yang dihasilkan adalah halal, sungguh luarbiasa pahala yang akan didapatkan karena bekerja termasuk bagian dari jihad dijalan Allah.

Namun, apabila seorang muslim yang menyibukkan dirinya dengan bekerja hanya untuk berfoya-foya dan tidak memenuhi kewajibannya sebagai suami maupun orang tua, maka  jelas dalam pekerjaannya yang ia perlukan hanyalah wujud dari keduniawian. Dan dengan pekerjaannya ia justru terbuai dalam hal kemaksiatan, misalnya korupsi, maka ia termasuk dalam katagori bermaksiat kepada Allah. Karena dengan pekerjaannya dia justru malah mengambil hak-hak dari orang lain dan berbuat curang.

Dalam bekerja, kita harus memberikan manfaat ditempat kita bekerja dengan kemampuan dan ketrampilan yang kita miliki. Perlunya kontribusi terbaik  dengan bekerja sepenuh hati, karena sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang profesional dan bekerja keras dengan keterampilan yang dimiliki tersebut. Dalam hadist Rasulullah, “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (profesional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (HR. Ahmad)

Namun perlu diingat, dalam melaksanakan pekerjaan dalam mencari nafkah yang halal, kita tetap tidak diperbolehkan untuk melupakan kewajiban peribadatan kita kepada Allah seperti sholat wajib. Dan keberkahan dalam menjalankan pekerjaan juga akan semakin sempurna apabila uang yang dihasilkan ia juga sedekahkan kepada mereka yang membutuhkan, terutama sedekah kepada orang terdekat kita.

Mencari rejeki diwajibkan dalam Islam setelah dia menjalankan ibadah fardhu. Namun seorang muslim juga tidak diperkenankan untuk malas bekerja dengan alasan karena fokus beribadah kepada Allah, supaya lebih leluasa mengikuti berbagai pengajian, forum zikir, dan lain sebagainya, dan justru kewajibannya untuk menafkahi keluarganya justru terbengkalai. Padahal nafkah yang diberikan untuk keluarga sendiri terhitung sebagai ibadah sedekah meski hanya berupa suapan makanan untuk istri dan anak, yang hal ini bisa memancing keridhaan Allah kepada diri kita. Maka tercelalah bahkan zalim seorang hamba jika mereka menggunakan alasan agama untuk tidak mencari nafkah untuk kebutuhan keluarganya.

Adapun pahala sedekah untuk keluarga merupakan hal utama dan wajib hukumnya. Namun yang perlu kita pahami dalam mengeluarkan sedekah yang terpenting adalah, sedekah yang di keluarkan untuk keluarga meski memberikan sedekah kepada keluarga seakan-akan perbuatan mereka kurang berarti, namun memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib dan bersedekah kepada fakir miskin hukumnya Sunah. Dan Allah lebih mencintai amalan wajib daripada amalan Sunah.

Selain memperoleh pahala yang amat dahsyat, bekerja susah payah mencari nafkah pun dapat menghapus dosa yang tak dapat terhapus oleh amalan wajib lainnya. “Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

Lelahnya kita dalam mencari nafkah untuk keluarga, akan menghasilkan sebuah keberkahan selama nafkah yang kita dapatkan tidak merugikan orang lain atau tergolong dalam perbuatan yang tercela. Allah meridhai setiap langkah para pencari nafkah, setiap keringat yang jatuh, setiap pikiran, dan setiap kelelahan sendi tubuh yang mereka rasakan saat bekerja.

Bagikan Artikel ini:

About Novi Nurul Ainy

Avatar of Novi Nurul Ainy

Check Also

sirah nabi

Manfaat Majelis Maulid Nabi yang Jarang Dipahami

Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang dutus oleh Allah untuk membenarkan dan menyempurnakan agama-agama …

merasa paling suci

Merasa Paling Benar dan Suci adalah Sifat Iblis, Jahuilah!

“Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu …

escortescort