Jakarta – Pemerintah Sri Lanka akan menutup 1000 sekolah Islam dan melarang penggunaan burqa. Pemerintah Kolombo berdalih langkah itu dilakukan sebagai pencegahan terorisme yang dilakukan oleh para ekstremis Islam.
Menteri Keamanan Publik Sarath Weerasekara dikutip dari BBC mengungkapkan, pihaknya telah menandatangani perintah kabinet dan tinggal menyisakan persetujuan parlemen. Langkah ini utamanya diambil setelah terjadinya pengeboman gereja Katolik dan hotel yang menewaskan 250 warga sipil pada tahun 2019 lalu.
Langkah Sri Lanka itu mendapat kecaman keras dari Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Ketua Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas, Minggu (14/3/2021) menilai larangan tersebut alih-alih produktif, malah mengesankan Islamopobia.
Meski turut mengecam aksi terorisme, Anwar Abbas berharap Pemerintah Srilanka menghentikan rencana itu.
“Penutupan sekolah Islam dan pelarangan burqa kontraproduktif, bertentangan dengan Hak Asasi Manusia dan menyakiti hati umat Islam,” kata Anwar dikutip dari laman Muhammadiyah.or.id.
Anwar juga menyarankan pemerintah Sri Lanka lebih mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menberantas terorisme.
“Kalau seandainya pemerintah Sri Lanka terlalu dihantui oleh tindakan-tindakan kekerasan dan terorisme, maka langkah-langkah yang harus ditempuh dan diambil bukanlah dengan menutup sekolah-sekolah Islam, tapi dengan meningkatkan kemampuan aparat intelijennya,” katanya.
Anwar juga meminta agar Pemerintah Indonesia segera melakukan upaya agar Pemerintah Sri lanka menempuh cara lain di luar kebijakan yang bersifat Islamofobia.
“Sehingga hal-hal yang bersifat Islamofobia dan tidak proporsional serta tidak etis ini tidak harus terjadi,” pungkas Anwar.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah