walisongo
walisongo

Strategi Dakwah Wali Songo : Kompromi Syariat, Tasawuf dan Lokalitas

Sebagaimana mafhum bahwa sufi memiliki peran yang cukup kuat dalam penyebaran Islam di Indonesia. Kehadiran guru sufi yang menyebarkan Islam mempunyai corak yang mampu memadukan Islam dengan budaya lokal. Pendekatan kompromi dan adaptasi ini mampu mencuri perhatian penduduk lokal dengan tanpa harus menanggalkan adat istiadat yang sudah melekat lama di tengah masyarakat. Praktek semacam ini dalam bentuk Islam mistik yang dipraktekkan oleh penduduk lokal oleh Ricklef disebut sebagai mistik-sinkretik.

Pendekatan sufistik seperti itu dilakukan oleh para Wali dalam mengenalkan Islam di nusantara. Wali songo yang dikenal sebagai penyebar Islam di nusantara merupakan tokoh karismatik yang lazim dikenal sebagai ulama-ulama sufi. Metode yang dikembangkan oleh para wali bukan pendekatan formalistik Syariah yang ketat, tetapi penanaman nilai dan ajaran Islam melalui keteladanan. Inilah senada dengan praktek sufisme al-Ghazali yang menyatakan bahwa hakikat tasawuf adalah ilmu dan amal yang menghasilkan tindakan terpuji (Suteja: 2016, 13).

Hal ini bisa dijadikan satu pijakan bahwa jalan tengah sufisme yang dilakukan oleh al-Ghazali memberikan pengaruh besar terhadap penyebaran Islam di Indonesia yang menyeimbangkan antara syariat dan hakikat. Namun, hal yang patut dicatat dari kreatifitas para Wali adalah kemampuan mereka yang tidak hanya mengkompromikan syariat dan hakikat, tetapi memasukkan harmoni itu dalam istiadat masyarakat.  

Wali songo tercatat sebagai anggota tarekat sufi selain mengajarkan Islam ortodoks. Aliran sufisme yang dipegang oleh Wali Songo adalah tasawuf sunni yang berbeda dengan tasawuf falsafi. Dalam catatan Zarkasyi, ajaran sufisme yang mengesankan dari Wali Sanga adalah bersumber dari kitab ihya ulumuddin al-Ghazali.

Karena itulah, Steenbrink mengatakan sesungguhnya peran al-Ghazali lebih kuat pengaruhnya di Indonesia daripada panteisme Ibn al-Arab ( Noor Huda: 2013, 258). Pengaruh kuat al-Ghazali menunjukkan suatu karaktek tasawuf nusantara yang dikenalkan oleh penyebar Islam di Nusantara yang dikaitkan dengan lokalitas masyarakat. Islam tidak dikenalkan secara ketat, tetapi melalui jalur sufisme yang memetingkan akhlak dan perilaku.

Baca Juga:  Ketika Rasulullah Digoda Sahabatnya dengan Madu

Untuk melihat apakah corak tasawuf para wali adalah bercirikan tasawuf sunni jalan tengah seperti yang diwariskan Ghazali memang terasa sulit. Para wali juga tidak meninggalkan karya tulis karena fokus mereka adalah melakukan dakwah. Corak dakwah dan pemikiran keagamaan para wali dapat dilihat dari beberapa tulisan muridnya dalam bahasa jawa.

Para wali sering menjadikan karya al-Ghazali sebagai referensi dalam menanamkan praktek latihan spiritual (riyadhah). Bukti ini misalnya ditemukan dalam manuskrip Drewes yang diperkirakan ditulis pada masa Wali Songo yang terdapat beberapa paragraf yang mengutip buku bidayat al-hidayah karya Ghazali (Suteja: 2016, 14).

Jejak yang ditinggalkan oleh para Wali dalam menyebarkan Islam dengan corak sufistik dapat dilihat pula dari berbagai karya para muridnya yang biasanya dikenal dengan suluk. Di Pesantren Raden Fatah (1475 M.), misalnya, pengajaran ilmu-ilmu keislaman hanya berkisar kepada ajaran tasawuf para sunan dengan rujukan utama Kitâb Sulûk Sunan (hasil tulisan para wali). Kitab ini berisikan catatan pengalaman orang shaleh dalam melakukan latihan spiritual (riyâdhah) dan pengendalian hawa nafsu (mujâhadah) sebagai proses pembersihan hati dan menjernihkan jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sampai pada abad 18, corak tasawuf jalan tengah yang dikenalkan oleh al-Ghazali melalui para Wali cukup mendominasi corak tasawuf di Indonesia. Menurut Drewes literature lokal keagamaan menunjukkan suatu supremasi tasawuf syar’i. Di Palembang misalnya literatur lokal tidak memasukkan karya-karya Hamzah. Sejumlah ulama di Palembang menyebarkan sufisme yang berorientasi pada syariat sebagaimana diajarkan oleh al-Junaid, al-Qusyairi dan al-Ghazali.

Di Jawa kecenderungan pada harmonisasi sufi dan syariat dilakukan oleh Kiai Saleh Darat. Bahkan Kiai Darat dijuluki sebagai juru bicara pemikiran al-Ghazali di jawa pada peralihan abad 19 ke 20. Kiai Darat mencoba untuk menyelerasakan tasawuf dan syariat yang kerap dipertentangkan. Baginya ilmu syariat, ilmu tarekat dan imu hakikat merupakan hal yang saling terkait. Ketiganya, sebagaimana al-Ghazali, dianggap sebagai fase-fase yang harus dilalui oleh seseorang dalam mencapai tingkat kesufian (Noor Huda : 2013, 274).

Baca Juga:  Wayang dan Cara Walisongo Mengenalkan Ajaran Islam

Pesantren: Pewaris dan Penjaga Tasawuf Nusantara

Saat ini corak tasawuf ini menjadi dominan di tengah masyarakat. Corak tasawuf jalan tengah yang mengkompromikan syariat dan hakikat menjadi salah satu ciri khas tasawuf nusantara yang telah disebarkan oleh para Wali Sanga dan dipertahankan sampai saat ini.  Lembaga pendidikan pesantren dan madrasah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air menjadi lembaga yang terus mewariskan corak tasawuf ini.

Sebagian besar pesantren di Indonesia menganut tasawuf yang al-Ghazali yang dikenalkan oleh para Wali. Hal ini misalnya bisa dilihat dari materi pengajaran tasawuf di pesantren yang Ulûm al-Dîn dan Mihâj al-‘Âbidîn karya al-Ghazali, sebagai materi yang hampir dipelajari di semua pesantren. Pesantren saat ini menjadi salah satu bukti bahwa para Wali yang menyebarkan Islam di Nusantara ini adalah tasawuf sunni yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran al-Ghazali.

Tidak hanya pada aspek materi yang diajarkan pesantren saat ini juga mempraktekan tasawuf dan tarekat. Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah (TQN) adalah salah satu tarekat yang hidup di Indonesia yang banyak dipraktekkan di kalangan santri. Pewarisan nilai dan ajaran tasawuf ini juga dapat dilihat dari karakter kehidupan santri yang sederhana, zuhud dan saling tolong-menolong.

Masuknya Islam di Indonesia sekali lagi tidak bisa dilepaskan dari sejarah peranan tasawuf dan tarekat. Islamisasi di Indonesia sejalan dengan pemikiran tasawuf yang menjadi corak dominan dalam dunia Islam. Pendekatan tasawuf ini pula yang menjadi daya tarik masyarakat Indonesia dalam memilih Islam. Para Wali Songo telah memainkan peran penting dalam melakukan islamisasi dengan pendekatan adaptif dan asimilatif. Corak sufisme yang dikenalkan para Wali Songo banyak dipengaruhi oleh sufisme Ghazalian yang memadukan antara syariat dan hakikat.

Baca Juga:  Penamaan dan Amalan terbaik di Hari Tasyrik

Tidak hanya itu, karakter sufisme nusantara yang dikenalkan oleh para Wali Songo adalah pendekatan dakwah yang mampu memadukan Islam dengan lokalitas. Ajaran sufisme mendudukan Islam tidak sebagai elemen yang melakukan perubahan, tetapi kontinuitas kepercayaan lokal yang dihidupi dengan sinar Islam. Pendekatan inilah yang mampu menyedot perhatian masyarakat lokal untuk memeluk Islam dengan tanpa khawatir bisa menghilangkan identitas lokal. Tasawuf Nusantara yang diajarkan oleh para wali adalah formulasi ajaran Islam yang memadukan syariat, hakikat dan adat istiadat masyarakat.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

haji 1

Arab Saudi Tangkap 15 Orang Penjahat Haji

Riyadh – 15 orang penjahat haji ditangkap otoritas keamanan Kerajaan Arab Saudi jelang puncak pelaksanaan …

Ikrar setia NKRI Khilafatul Muslimin Lampung Selatan

Ikrar Setia NKRI, Jamaah Khilafatul Muslimin Lampung Selatan Ngaku Tobat dan Lebih Tenang

Lampung Selatan – Terbongkarnya kedok Khilafatul Muslimin (KM) yang menyebarkan ideologi khilafah yang bertentangan dengan …