harta rampasan perang
kunci rejeki

Tadabur Surat Hud Ayat 6 : 5 Kunci Pembuka Pintu Rejeki

Di Masa pandemi seperti ini bnayak diantara kita yang kehilangan pekerjaan. Dan akibat dari kehilangan pekerjaan tersebut banyak diantara kita yang mengeluh dan meragukan akan rizki yang diberikan Allah. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bahwa setiap makhluk di muka bumi ini pasti mendapatkan rezeki dari-Nya.

Jangankan manusia, yang merupakan makhluk yang Allah muliakan, hewan pun Allah jamin rezekinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَامِن دَآبَّةٍ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Namun rezeki tersebut harus dijemput dengan usaha dan kerja, selain usaha yang bersifat fisik Islam pun mengajarkan metode menjemput rezeki dengan cara menggabungkan usaha fisik dengan usaha spiritual.

Kunci-Kunci Pembuka Rezeki

Pertama, Takwa (Menjalankan Perintah Allah dan Menjauhi Larangan-Nya)

Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ● وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (solusi) Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (QS. Ath Thalaq: 2-3)

Sehingga, secara umum taqwa adalah salah satu pintu rezeki, sebaliknya maksiat adalah salah satu sebab terhalangnya rezeki.

Kedua, Tawakkal kepada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

Artinya: Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. Ath Thalaq: 3)

Baca Juga:  Tafsir Surat Quraisy Ayat 2: Solusi saat Terjadi Krisis Ekonomi

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalau sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan, “Hadits hasan shahih.”)

Perlu diketahui bahwa tawakkal itu tidaklah seperti yang dipahami oleh orang-orang yang tidak mengerti terhadap Islam, yang mengartikan tawakkal adalah membuang jauh-jauh sebab dan tidak beramal serta ridha dan rela terhadap kerendahan, tidak demikian.

Tawakkal adalah sebuah ketaatan kepada Allah dengan menjalankan sebab. Oleh karena itu, seseorang tidaklah berharap untuk memperoleh sesuatu kecuali menjalankan sebab-sebabnya. Adapun tercapai atau tidaknya dia serahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil berharap semoga yang dicita-citakannya tercapai, karena hanya Dia-lah yang mampu mendatangkan hasilnya. Betapa banyak orang yang menjalankan sebab, namun ternyata tidak memperoleh hasil apa-apa.

Ketiga, menyempatkan Diri untuk Beribadah

Misalnya mengerjakan amalan sunat setelah amalan yang wajib. Baik yang berupa ibadah lisan seperti dzikr, membaca Alquran dan mengajarkannya, dsb. maupun yang berupa perbuatan seperti shalat-shalat sunah dsb.

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقُوْلُ رَبُّكُمْ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ أَمْلَأُ قَلْبَكَ غِنًى وَأَمْلَأُ يَدَكَ رِزْقًا يَا ابْنَ آدَمَ لَا تُبَاعِدْ مِنِّيْ أَمْلَأُ قَلْبَكَ فَقْرًا وَأَمْلَأُ يَدَكَ شُغْلاً

Artinya: Tuhanmu berfirman, “Wahai anak Adam! Sempatkanlah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.” (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al-Baqarah 101-103 (2) : Hukum Belajar dan Mengajarkan Sihir

Keempat, menyambung Tali Silaturrahim

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka sambunglah tali silaturrahim.” (HR. Bukhari(

Silaturrahim adalah sebuah istilah untuk sikap ihsan (berbuat baik) kepada kerabat yang memiliki hubungan baik karena nasab (keturunan) maupun karena ash-har (perkawinan), bersikap lemah lembut kepada mereka, memberikan kebaikan dan menghindarkan keburukan semampunya yang menimpa mereka, serta memperhatikan keadaan mereka baik agama maupun dunianya

Kelima, bersyukur Terhadap Nikmat Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“.(QS. Ibrahim: 7)

Bersyukur kepada Allah adalah dengan mengakui nikmat yang didapatkan berasal dari-Nya, memuji-Nya dan menggunakan nikmat itu untuk ketaatan kepada-Nya.

Dengan demikian, setiap ibadah yang kita lakukan, bukanlah menunjukkan Allah butuh kepada kita dan Allah mengharapkan kemanfaatan dari ibadah kita kepada-Nya, akan tetapi ibadah kita kepada Allah merupakan keuntungan dan kemanfaatan bagi diri kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar