Terpaan demi terpaan, datang bertubi tubi, silih berganti. Lama didera kemarau panjang, rupanya, tak membuat puas jagat. Kini, banjir melanda di mana mana. Jabodetabek, utamanya.

Pergantian tahun yang mestinya, gebyar dengan suka-cita, ternyata membuyar air mata. Tak sedikit yang kehilangan harta benda, pun nyawa.

Lalu bagaimana cara al-Qur’an menjelaskan soal banjir ini? Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS: al-Rum:41

Beragam contoh berbeda dari ahli tafsir soal “kerusakan di darat dan di laut”. Namun dari keluruhan contoh itu, Imam Qusyairi mencoba membuat kesimpulan bahwa “kerusakan di darat dan di laut” itu, bisa dipilah menjadi dua macam. Pertama, kerusakan fisik seperti kerusakan akibat banjir. Kedua, kerusakan non fisik (mental) seperti kerusakan moral akibat perbuatan maksiat.Tafsir al-Qusyairi, 6/169.

Ulah yang Salah Berujung Musibah

Penebangan hutan liar yang menyebabkan hutan gundul, sampah yang sembarangan dibuang di sungai, hingga alirannya mampet, pemukiman liar di bantaran kali, Drainase yang diubah tanpa mengindahkan Amdal, bendungan yang jebol, salah sistem kelola tata ruang, tanah tidak mampu menyerap air adalah beberapa penyebab terjadinya banjir yang muaranya pada ulah manusia.

Ulah yang salah yang berujung musibah. Maka, petaka besar menanti didepan. Akibat banjir melanda bibit penyakit hidup dan menyebar, harta benda yang didapatkan susah payah, hanyut tak tertolong. Ladang, tanaman, lahan pertanian alami kerusakan dan terancam sulit dimanfaatkan kembali. Banyak sanak kehilangan anggota keluarganya, fasilitas umum lumpuh total dan sulit mendapatkan air layak minum karena sudah terkontaminasi limbah banjir.

Pemerintah butuh biaya mahal  untuk membangun sarana prasarana yang rusak, terjadi kenaikan harga karena bahan makanan yang langka, endingnya, rakyat menjerit karena menderita. Semua itu adalah buah dari ulah manusia yang salah yang berakibat fatal bagi manusia itu sendiri.

Butuh Keikhlasan dan Kesabaran

Bencana ini sejatinya, hendak membawa kembali manusia manusia durja ini, ke jalan yang benar dan terpuja. Kembali ke pangkuan syari’at Allah. Maka, bagi saudara, yang sedang diberi bencana ini, terima saja dengan ikhlas dan kesabaran. Karena toh, semua itu berawal dari ulah manusia yang salah.

Pelajari hikmahnya. Karena memang terkadang, untuk kembali ke jalan yang benar, butuh pengorbanan yang teramat mahal. Anggap saja, banjir yang melanda, adalah cara Allah berbicara soal keikhlasan dan kesabaran. Keikhlasan dan kesabaran adalah kunci soal ujian dari Allah.

Dan ketahuilah di setiap ujian pasti ada derajat dan keistimewaan yang akan diberikan Allah. Firman Allah

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad (bersungguh sungguh beribadah walaupun dalam kondisi tidak nyaman:penulis) dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu” QS: Muhammad:31

Dalam ayat ini terdapat tiga kata kerja, menguji, mengetahui dan menyatakan. Artinya ada proses, lalu hasil, dan kemudian reward (hadiah) yang akan diberikan. Banjir adalah proses ujian dari Allah untuk memastikan kesabaran dan kesungguhan demi sebuah hadiah kemuliaan. Maka, sambutlah kemuliaan itu, dengan menghadapi musibah banjir dengan sabar. Sadarlah itu ujian dariNya.