berlebihan dalam beragama
tafsir

Tafsir QS An-Nisa Ayat 171: Jangan Berlebihan dalam Beragama

Tulisan ini mengkaji persoalan ghuluw sebagai benih ekstremisme dalam beragama. Artikel ini berusaha untuk mengunkap makna ghuluw dan bagaimana respon Al-Qur’an terhadapnya. Secara etimologi ghuluw berarti berlebih-lebihan dalam suatu perkara. Adapun Ghuluw secara istilah adalah model atau tipe keberagamaan yang mengakibatkan seseorang melenceng dari agama tersebut. Beberapa sikap yang dikategorikan sebagai ghuluw di antaranya adalah: fanatik terhadap suatu pandangan tertentu, berprasangka buruk terhadap orang/kelompok lain dan bahkan bisa sampai kepada mengkafirkan orang lain. Semua sikap ini dilarang dalam agama Islam sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, yang menekankan nilai-nilai kemuliaan, perdamaian, keharmonisan dan kesimbangan. Islam melarang umatnya bertindak ekstrem, melampaui batas, fanatis, dan melakukan kekerasan.

Tafsir singkat QS An-Nisa ayat 171

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa ayat 171:

يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ ۚ

Artinya: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar”.

Allah dalam firman-Nya ini mengingatkan kepada kita, dengan kata-kata “laa tahgluw”, untuk senantiasa tidak berlebih-lebihan atau melampaui batas. Berlebih-lebihan disini bukan mencakup hal yang sempit tapi mencakup pengertian yang luas termasuk tidak diperbolehkannya melampaui batas dalam beragama. Berlebihan dalam agama ini kerap disebut dengan istilah “ghuluw”.

Rasulullah SAW juga pernah mengingatkan para sahabat melalui haditsnya dalam Kitab Shahih Bukhari untuk tidak berlebihan dalam beragama. Hadits ini berisi kisah yang bisa menjadi renungan kita semua untuk hidup dengan seimbang dan menghindari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah dan Rasulullah SAW.

Suatu ketika para sahabat datang kepada Rasulullah SAW untuk mengetahui bagaimana Rasulullah SAW beribadah. Mereka ingin menyampaikan dan melakukan perbandingan, apakah ibadah yang mereka lakukan selama ini sudah sama dengan ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah. Salah satu di antara sahabat mengatakan bahwa ia telah melakukan ibadah puasa setiap hari. Sahabat lain mengatakan bahwa ia sudah lama tidak tidur malam dan melakukan shalat sepanjang malam. Sementara satu lagi mengatakan bahwa ia sudah tidak pernah lagi berhubungan suami-isteri untuk mengekang hawa nafsu.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah 183-187 (3) : Kriteria Perjalanan yang Membolehkan Tidak Puasa

Mengetahui cerita para sahabat ini, Rasulullah tidak memberikan sanjungan atas semangat ibadah yang mereka lakukan. Para sahabat ini malah diingatkan oleh Rasulullah dengan sabdanya: “Aku ini adalah orang yang paling takut kepada Allah jika dibanding dengan kalian. Aku juga orang yang paling taat kepada Allah. Meski begitu, aku terkadang berpuasa, kadang juga tidak. Aku juga melaksanakan ibadah, shalat malam, namun aku tidur juga. Aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari golonganku”.

Dialog Rasulullah dengan para sahabatnya ini menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan secara berlebihan dengan mengorbankan sisi-sisi lain dalam kehidupan termasuk hal yang tidak baik. Rasulullah pun mengingatkan melalui haditsnya pula bahwa: “kahiral umur ausatuha” yang bermakna sebaik-baik urusan ialah yang dilakukan dengan biasa-biasa atau sedang-sedang saja, sekalipun itu sedikit.

Ini memiliki artian bahwa yang penting untuk diperhatikan dalam ibadah adalah konsistensi atau keistiqamahan walaupun dilakukan dalam kuantitas yang sedikit. Sebab, yang dihitung pahala banyak dalam ibadah adalah konsistensinya. Jika hanya sekali, kemudian berhenti, pahalanya juga akan berhenti. Berbeda jika dilakukanterus-menerus, selama ibadah itu dilakukan, ibadahnya akan terus mengalirkan pahala.

Bersikap Moderat dalam Beragama

Tidak berlebih-lebihan atau keseimbangan dalam kehidupan, termasuk dalam beragama, merupakan bagian dari karakteristik ajaran Islam. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjadikan kehidupan dunia dan akhirat saling melengkapi. Kita tidak boleh hanyut dalam materialisme dan juga tidak tenggelam dan terlena dalam spritualisme. Ketika kehidupan seseorang dalam kondisi seimbang, maka ia pun akan hidup dalam ketenangan.

Selain keseimbangan vertikal yakni beribadah kepada Allah, sebagai umat Islam, kita juga harus menanamkan keseimbangan horizontal yakni antarsesama makhluk Allah SWT. Hal ini penting karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya.

Baca Juga:  Ayat-ayat Toleransi (5): Surat At-Taubah Ayat 71, Pendidikan Sosial Sebagai Jembatan Toleransi

Bukan hanya terbatas pada sesama umat Islam saja, keseimbangan hidup juga harus dibangun dengan baik oleh umat Islam bersama umat-umat pemeluk agama lain. Di sinilah pentingnya umat Islam untuk senantiasa memegang prinsip moderasi dalam beragama yakni mengaplikasikan cara beragama yang wasathiyah, moderat, toleran, dan memosisikan diri di tengah, tidak condong ke salah satu sisi.

Allah SWT berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Artinya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (Al-Baqarah: 143)

lslam merupakan agama yang Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi seluruh alam). Islam bukan agama yang mengajarkan kekerasan. Jangan sampai kita menjadi oknum yang menjadikan perwajahan Islam di mata umat Islam sendiri dan pemeluk agama lain menjadi agama yang kaku dan tidak ada toleransi sama sekali.

Saat ini kita pun perlu berhati-hati terhadap paham-paham radikal yang sering membungkus aksinya atas nama tuhan dan membela agama. Banyak provokasi dilakukan melalui media yang dilakukan dil uar nilai-nilai keislaman serta tidak menggambarkannya sebagai orang yang beragama. Aksi oknum-oknum inilah yang kemudian menyebabkan munculnya persepsi buruk umat lain atau sering disebut Islamphobia.

Terapkan Nilai-nilai Islam yang Sebenarnya

Sebagai umat yang baik, marilah kita mengaplikasikan nilai-nilai Islam dengan menunjukkan bahwa Islam adalah agama damai, mari jauhi perbuatan yang mengacu pada perpecahan. Jauhkanlah diri dari membenci sesama muslim dan juga non-muslim karena menjadikan kita akan tidak berbuat adil kepada mereka. Untuk menghindari perpecahan ini, ada tiga ukhuwah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita yakni Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam), Ukhuwah Wathaniyyah (persaudaraan sesama satu bangsa), dan Ukhuwah Basyariyyah (persaudaraan sesama manusia).

Baca Juga:  Tafsir Surat al-Furqan 63 : Muslim Istimewa Memiliki Sifat Ramah dan Lemah Lembut

Hindari saling menuduh dan menyalahkan orang lain karena ketika kita menunjuk orang lain dengan satu jari telunjuk kita, lalu berapa jari lainnya yang menunjuk kepada kita sendiri? Ini menjadi contoh agar kita tidak merasa “paling” namun kita harus “saling”. Jangan merasa paling benar, tapi mari kita harus saling bertoleransi dan menghormati. Jangan merasa paling shaleh, tapi mari kita harus saling menasihati. Jangan merasa paling berkuasa, tapi mari kita harus saling berbagi.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

datang ke dukun

Apa Hukum Datang ke Dukun? Berikut Penjelasannya menurut Islam

Akhir-akhir ini media sosial di hebohkan dengan terbongkarnya trik perdukunan berkedok agama yang di lakukan …

george bin todzira

Belajar Dari Kisah George Bin Todzira: Hidayah Datang Saat Di Medan Perang

Memang hidayah itu istimewa, mahal dan berharga. Kedudukan dan status sosial bukanlah ukuran mendapatkannya. Gelimang …