islam nusantara

Tuduhan Islam Nusantara Kafir dengan Balutan Surat al Nisa Ayat 150-151, Tuntaskah Pemahaman Tafsirnya?

Entah mengapa selalu ada segelintir umat Islam yang memiliki hobi mengkafirkan umat Islam yang lain. Dalam sebuah video tik tok seorang ustad berjenggot dengan lantang melakukan tuduhan bahwa Islam Nusantara sebagai bentuk kekafiran yang nyata.

Dengan pedenya ia merujuk pada al Qur’an surat al-Nisa ayat 150-151. Melalui terjemahan al Qur’an yang dibaca salah satu jama’ahnya, ia menyebut Islam Nusantara “kafir haqqan” (bentuk kekafiran yang nyata) seperti disebut dalam ayat tersebut.

Image
Video Tik Tok yang mengulas Islam Nusantara

Tetapi anehnya yang disebut hanya istilah Islam Nusantara yang kita ketahui berasal dari kalangan Nahdhatul Ulama (NU). Dengan kata Nusantara dalamIslam Nusantara dianggap sebagai bentuk baru Islam. Lalu, bagaimana dengan semisal Islam Kaffah, Islam Berkemajuan, Islam Wasathiyah atau Islam Moderat, Islam Transformatif, Islam Hadhari, Islam Progresif dan istilah-istilah yang lain tidak ia singgung. Hanya menyebutkan Islam Nusantara.

Apakah karena sentimen atau karena lupa menyebut? Tidak penting mencari tahu soal itu. Yang paling penting adalah menjelaskan istilah Islam Nusantara itu sendiri. Dan, kalau sedikit saja membaca penjelasan yang disampaikan oleh para ulama NU segera akan tahu jawabannya. Bahwa istilah Islam Nusantara sama sekali tidak ada masalah, terutama dengan masalah keimanan. Bukan upaya merubah dan keluar dari Islam apalagi memunculkan corak dan bentuk Islam baru, tapi sebatas gambaran cara berislam di Nusantara yang telah dikembangkan oleh para ulama-ulama Nusantara semisal wali songo. Pola dan corak dakwah kultural nusantara terbukti ampuh membumikan nilai-nilai agama Islam sebagai rahmat bagi semesta di bumi pertiwi ini.

Tentu penceramah model seperti dalam video itu tidak akan pernah mau tahu dan mencari tahu. Baginya yang terpenting adalah mengkafirkan apa yang berbeda. Namun, yang lebih penting lagi adalah menyimak secara benar tafsir surat al Nisa 150-151. Bagaimana tafsirnya yang benar?

Baca Juga:  “Hayya ‘Alal Jihad” : Bukti Kegagalan dalam Memahami Jihad di Era Milenial

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebagian (dari rasul-rasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) diantara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir yang sebenar-benarnya, Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan”.  (QS. al Nisa: 150-151).

Dalam tafsir Wasith Lithanthawi dijelaskan, pada ayat ini Allah menjelaskan sifat buruk dan karakter jelek ahlul kitab yang mengingkari keesaan Allah dan juga tidak mengakui Rasulullah sebagai utusan-Nya. Mereka bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya. Yakni, membedakan antara iman kepada Allah dan iman kepada para rasul-rasul-Nya. Dengan terang-terangan mereka menyatakan iman kepada Allah, percaya bahwa Dia pencipta semesta, namun tidak percaya terhadap semua rasul-rasul-Nya atau sebagiannya.

Mengutip pendapat Imam al Qurthubi, Imam Thanthawi melanjutkan, memperbedakan antara keimanan kepada Allah dan rasul-rasul-Nya adalah kafir. Sebab Allah mewajibkan kepada manusia untuk menyembah-Nya sesuai dengan syari’at yang telah diturunkan kepada para utusan-Nya. Dengan demikian, jika menolak syari’at yang telah diturunkan kepada para utusan sama halnya menolak untuk mengakui status Allah sebagai pencipta.

Juga dihukumi kafir bila tidak mengakui sebagian para rasul meskipun mengakui sebagiannya karena semua utusan-utusan Allah misinya sama, yakni mengajak manusia untuk mengakui keesaan Allah, ikhlas dalam beribadah, mengajarkan akhlakul karimah di muka bumi. Karenanya, tidak mengakui sebagian para rasul sama halnya tidak mengakui seluruh rasul-rasul-Nya.

Sifat seperti inilah, yang disebut oleh Allah sebagai orang-orang kafir yang sempurna kekafirannya (kafir haqqan).

Imam Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, Allah mengecam orang-orang dari golongan Yahudi dan Nasrani karena tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai rasul-Nya. Inilah bentuk kekafiran yang sempurna atau kafir sejati. Sebab semua rasul memerintahkan kepada kaumnya untuk beriman kepada Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul yang terakhir.

Baca Juga:  Apakah Allah Memiliki Sifat Diam? (1) : Salafi Wahabi Meyakini Allah Bersifat Sukut

Kaum Yahudi beriman kepada semua Nabi kecuali Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Sedangkan kaum Nasrani beriman kepada seluruh Nabi dan hanya mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul yang terakhir.

Sikap percaya kepada sebagian para rasul dan tidak percaya kepada sebagian yang lain inilah yang menyebabkan mereka dijuluki kafir sejati atau kafir yang sesungguhnya. Sebab perintah Allah kepada manusia untuk menyembah-Nya disampaikan melalui perantara Wahyu kepada semua utusan-utusan-Nya. Jika demikian, mengingkari salah satu utusan Allah sama dengan mengingkari seluruhnya.

Sampai disini bisa ditarik kesimpulan, bahwa konteks ayat di atas sebagai informasi bahwa orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani adalah penganut kafir sejati karena hanya percaya pada sebagian rasul-rasul Allah dan menolak sebagian yang lain.

Lalu bagaimana ayat ini kemudian ditarik dalam konteks Islam Nusantara sebagaimana dikatakan oleh penceramah berjenggot tersebut sebagai kafir haqqan?. Dari sisi mana Islam Nusantara membedakan para rasul-rasul Allah. Tidak ada satu rasul pun yang mereka ingkari. Bahkan semua rasul wajib diimani menurut mereka.

Lalu bagaimana dengan istilah Islam Kaffah, Islam Hadhari, Islam Moderat, Islam Transformatif, Islam Progresif dan seabrek istilah lain yang bergandeng dengan Islam? Apakah semua kafir sejati? Tentu tidak layak berkata seperti itu karena sejatinya akan menjerumuskan dirinya sendiri kepada kekafiran yang nyata. Dan lebih penting diingatkan bahwa ceramah model ini bukan hanya sesat pada dirinya sendiri secara pemahaman, tetapi akan menyesatkan umat.

Saran penulis kepada ustad berjenggot mestinya tuntaskan dulu pemahamannya tentang tafsir dua ayat di atas. Kemudian membaca penjelasan tentang Islam Nusantara supaya tidak mengulangi gagal pahamnya. Jelas-jelas dia telah keliru menempatkan ayat al Qur’an untuk mengkafirkan orang-orang yang tidak membedakan para rasul. Dan jika seorang yang mengaku dai seperti itu dengan minim keilmuan keislaman dan wawasan yang luas hanya bermodalkan mengkafirkan, tentu harus segera membaca bahaya mengkafirkan kepada sesama muslim.

Baca Juga:  Lima Obat Hati Resep Ibrahim al-Khawwash

Marilah kita mendidik umat dengan cara benar dengan keilmuan yang benar dan memumpuni. Tanggungjawab seorang penceramah bukan sekedar pada dirinya sendiri, tetapi apakah dengan lisannya mampu membawa kebaikan kepada manusia. Ataukah lisan kita justru menimpakan musibah kepada yang lain?

Wallahu a’lam  

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Faizatul Ummah

Faizatul Ummah
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo