tafsir al baqarah 263
tafsir al baqarah 263

Tafsir Surat al Baqarah 263: Kalau Tidak Bisa Berbaik Kata, Diam Lebih Mulia

Terlalu banyak muslim yang dengan ringannya mengeluarkan kata-kata cacian baik itu di dunia nyata maupun dunia maya. Tuduhan-tuduhan keji, umpatan, caci maki, dan kata-kata kotor memenuhi ruang kehidupan kita saat ini.

Menelisik celah kesalahan orang lain kemudian melemparinya dengan kata-kata kasar seakan telah menjadi profesi. Bahkan, sampai ranah vital agama. Seperti tuduhan mencemarkan agama, murtad dan kafir. Kehiupan berada diambang kehancuran. Sebab, rasa persaudaraan telah hilang, harmonisasi mati, kebersamaan pun akan segera sirna.

Ancaman kehancuran itu karena sebagian dari kita menempatkan sesuatu bukan pada posisi yang tepat. Contoh teranyar yang bisa dilihat adalah fenomena penceramah asal bunyi (asbun) yang berjibun. Lebih ironis lagi sinyalir bertumpuknya penceramah radikal yang berpotensi mencabik kedamaian. Bahkan, mencemarkan agama.

Padahal, al Qur’an mengajarkan “lebih baik diam daripada berkata yang bukan-bukan” sebagaimana dalam surat Al Baqarah 263.

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. (Al Baqarah: 263).

Dalam menafsirkan Surat Al Baqarah 263 ini, Imam Thabari  menulis, maksud “perkataan yang baik” adalah perkataan yang indah, santun, tidak mencaci dan doa (kebaikan) kepada saudaranya sesama muslim. Sedangkan makna “pemberian maaf” adalah menghilangkan sifat buruk saudaranya seiman dan menutupinya seolah-olah sifat buruk tersebut tidak pernah ada.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik menurut Allah daripada sedekah yang disertai kata-kata menyakitkan. Demikian pula bersedekah tapi sambil mengeluh dan sebagainya.

Adapun makna literal/tekstual ayat di atas, seperti dikatakan oleh Imam Dhahhak, lebih baik tidak bersedekah kalau disertai dengan kata-kata yang menyakitkan.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah: 183-187 (6) : Hukum Puasa untuk Perempuan Hamil dan Menyusui

Tafsir senada disampaikan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Menurutnya, perkataan yang baik adalah tutur kata yang sopan dan santun dengan kalimat yang indah serta menyenangkan. Sedangkan maksud pemberian maaf adalah memaafkan kedzaliman seseorang kepada dirinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Ibnu Hatim berkomentar: “Tidak ada sedekah yang paling disenangi oleh Allah daripada perkataan yang baik dan santun”.

Konteks sedekah tidak hanya terbatas pada pemberian harta, namun juga sedekah ilmu melalui halaqah, seminar, pengajian dan sebagainya. Dalam kondisi ini penyampai materi mestinya harus taat kepada ayat di atas. Tidak berkata-kata kasar, caci maki dan semacamnya.

Pesan Nabi: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam”. (HR. Bukhari).

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

maulid nabi

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …