Tafsir Quran

Tafsir Surat Al-Hujarat 13: Larangan Saling Membanggakan Keturunan

Cendekiawan Muslim Abdul Moqsith Ghazali pernah mengatakan: “Di depan manusia, seseorang bisa mulia karena nasabnya. Sementara di depan Allah, seseorang hanya mulia karena takwanya.” Menurut penulis, pernyataan tersebut muncul lantaran belakangan ini ada sebagian umat yang menaruh simpati yang tinggi terhadap seseorang karena nasabnya.

Sebut saja nasab habib/habaib. Sebagian orang menganggap bahwa orang yang memiliki ‘gelar’ habib adalah mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni dan harus dihormati karena termasuk dzurriyah atau keturunan Nabi (memiliki ketersambungan nasab dengan Nabi).

Memang, dalam tradisi Islam di Nusantara, sudah mengakar bahwa habib adalah sosok yang dijadikan sebagai sumber fatwa yang otoritatif di bidang agama dan bersamaan dengan itu, ia juga menjadi tempat berlabuh umat ketika sedang dalam deraian persoalan kehidupan dunia. Karena anggapan inilah, habib memiliki kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat.

Akan tetapi, nasab bukanlah tolok ukur seseorang mulia di sisi Allah. Apalagi karena mempunyai nasab yang tersambung dengan Nabi misalnya, umat lantas menaruh simpati berlebihan kepada sosok tersebut hingga ia terjatuh dalam fanatisme buta. Ini yang tak boleh terjadi.

Bukan Karena Nasab, Ini Orang yang Paling Mulia di Hadapan Allah

Mari kita rujuk ke Alquran tentang siapa yang paling mulia disisi Allah. Ternyata bukan orang yang memiliki nasab bagus, juga bukan konglomerat, apalagi yang berparas rupawan. Tidak. Allah menegaskan bahwa orang yang paling mulia adalah yang betakwa.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).

Baca Juga:  Metode Tafsir Al-Qur’an (Bagian II )

Ulama tafsir yang muktabar seperti Ibnu Katsir menjelaskan terkait ayat di atas sebagai berikut: “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa, bukan dilihat dari keturunan kalian.” (lihat Tafsir Alqiran al-‘Adzim, 13, hlm. 169). Bahkan At-Thabari menegaskan bahwa orang yang paling mulia di hadapan Allah dan yang akan mendapat surga adalah orang yang paling tinggi takwanya, bukan dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunn mulia. ( lihat Tafsir al-Thabari, 21, hlm. 286).

Lebih lanjut, Al-Alusi memberikan penjelasan yang cukup menohok bagi orang yang gemar mengunggul-unggulkan keturunan atau nasab. Dalam Ruhul Ma’ani, beliau menjelaskan bahwa surat Al-Hujarat ayat 11 adalah larangan untuk saling berbangga dengan keturunan. “Jika saling berbangga, maka berbanggalah dengan takwa (kalian)”, demikian tegas Al-Alusi.

Keturunan atau nasab yang bersambung dengan Nabi pun tidak bisa menjamin ia masuk surga. Bahkan Nabi Muhammad sendiri, sebagaimana ulasan M. Alfiyan Dzulfikar (Islam Kaffah, 19/11), bagi keturunan Nabi namun ia berbuat dosa dan zina, maka Nabi pun tidak mengakui bahwa ia keturunan beliau.

Bahkan, Nabi Muhammad pun melarang keras membanggakan keturunan. Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Bagikan Artikel

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir