Kisah Sahabat

Upaya Makar Jahat Al-Walid bin Mughirah terhadap Rasulullah

Al-Walid ibn Mughirah adalah salah seorang yang berpunya (kaya) dari Bani Makhzum yang menjadi rujukan dan panutan. Kedudukan dan pengaruhnya sangat luar biasa kala itu. Namun, kedengkiannya terhadap umat Islam luar biasa. Hal ini tercermin, salah satunya, pada kisah yang disampaikan oleh Ibnu Ishaq.

Ibnu Ishaq berkata: “.. beberapa orang Quraish menggelar pertemuan dengan Al-Walid bin Mughirah pada saat musim haji datang.”

Pada pertemuan tersebut, Al-Walid menghimbau kepada pengikutnya dan masyarakat Quraish pada saat itu seraya berkata: “Hai orang-orang Quraish, musim haji telah tiba dan rombongan orang-orang Arab akan berdatangan ke tempat kalian dan mereka telah mendengar persoalan sahabat kalian (Muhammad Saw). Oleh karena itu, hendaklah kalian satu pendapat, jangan berselisih, jangan sebagian mendustakan sebagian lain, dan ucapan sebagian ditolak ucapan lain.”

Kemudian orang-orang Quraish justru menjawab dengan melemparkan pertanyaan kepada Al-Walid; “Silahkan engkau (Al-Walid bin Mughirah) angkat bicara dan berikan pendapatmu, niscaya pendapat itu pula yang akan kita ucapkan.” Akhirnya, Al-Walid tidak mau berpendapat, melainkan ia hanya akan mendengarkan pendapat orang-orang Quraish tentang Nabi Muhammad Saw.

Dalam Sirah Nabiwuyah Ibnu Hisyam ( hlm. 226) dijelaskan bahwa orang-orang Quraish itu kemudian mengungkapkan pendapatnya tentang Nabi Muhammad dengan berbagai macam. Ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad dituduh sebagai seorang dukun. Pendapat ini pun ditanggapi oleh Al-Walid; “Demi Allah, ia bukan dukun. Kita sudah mengetahui para dukun; ucapan khasnya (yang bisa dipahami dan tidak bisa dipahami) dan sajaknya.

Pendapat pertama pun mental. Lantas orang-orang Quraish kembali mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang gila. Lagi-lahi, Al-Walid belum sependapat. “Tidak, ia bukan orang gila. Sungguh kita sudah mengenali orang-orang gila dan mengenal kekusutannya, kekacauannya dan keragu-raguan yang ada padanya,” tegas orang yang dituakan dan mendapat julukan Abu Abdu Syams itu.

Baca Juga:  Ternyata, Nabi Sering Shalat Tarawih di Rumah Bersama Keluarganya

Lantas orang-orang yang melampui batas kembali memutar otak untuk mengadakan makar terhadap Rasulullah dengan mengatakan dan menyebarkan sesuatu yang buruk mengenai Rasulullah. Kali ini mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang penyair. Sampai di sini, Al-Walid masih menyanggah pendapat ini. Ia tegas mengatakan bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang penyair. “Tidak, ia bukan penyair, karena kita sudah mengetahui semua ihwal bentuk syair dan ucapannya bukan termasuk syair.

Orang-orang Quraish kembali melontarkan pendapatnya di depan Al-Walid. Kali ini mereka berkomentar sangat ekstrem dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang penyihir. Mendengar pendapat ini, Al-Walid nampak setuju. Namun ternyata ia masih menyangkalnya. “Tidak, ia bukan penyihir, karena kita sudah mengetahui penyihir; tiupannya dan tali temalinya.”

Tiba saatnya orang-orang Quraish sudah ‘menthok’ untuk  untuk siasat jahat kepada Rasulullah. Akhirnya, mereka balik bertanya kepada Al-Walid: “Kalau begitu, bagaimana pendapatmu wahai Abu Abdu Syams?”

Dia menjawab, “Demi Allah, pada perkataannya terdapat rasa manis, akar pokoknya kelapangan, cabangnya bunga yang tumbuh, dan tidaklah kalian mengarang sesuatu pun yang mirip, melainkan diketahui bahwasanya itu bathil.”

Sampai di sini, Al-Walid terkagum dan mengakui kehebatan Rasulullah sebagai penerima wahyu dari Allah dan pembawa risalah agama terakhir. Namun, ternyata perkataan tersebut hanya sekedar ‘pemanis’ saja. Dalam komentar selanjutnya, Al-Walid mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang penyihir.

“Sesungguhnya perkataan kalian yang paling tepat tentang dia ialah, hendaklah kalian mengatakan dia penyihir. Ia membawa sihir yang memisahkan orang dengan ayahnya, orang dengan saudaranya, orang dengan istrinya, dan orang dengan keluarganya. Mereka bercerai berai karena ulah sihirnya.”

Karena para pembesar Quraish sangat percaya dengan Al-Walid bin Mughirah dan mereka juga loyal padanya, pasca Al-Walid mengeluarkan pernyataan bahwa Nabi adalah seorang penyihir, lalu para pembesar Quraish berpencar; duduk di jalan yang dilalui oleh orang-orang tatkala datang musim haji.

Baca Juga:  Belajar dari Khalifah Umar Membangun Kemegahan Islam

Para pembesar Quraish lantas menyebarkan berita dusta dan membuat tipu daya tentang Nabi Muhammad SAW. Dengan harapan, orang-orang akan menaruh rasa tak hormat kepada Nabi Muhammad bahkan nama beliau agar hancur lebur di hadapan orang-orang suku Arab sehingga pengaruhnya menjadi luntur.

Namun, upaya makar jahat tersebut dibalas oleh Allah. Mereka tidak meraih sedikit pun keuntungan dari upaya makar dan menyebar berita hoax tentang Nabi Muhammad. Makar dan tipu muslihat yang disusun dengan apik oleh Al-Walid bin Mughirah malah bak senjata makan tuan. Kejadian inilah yang kemudian menjadi asbab nuzul turunnya surat Al-Muddatstsir 11-12.

Bagikan Artikel

About Muh. Ulin Nuha, MA

Avatar