Budak Hitam

Kemuliaan bukan karena Status dan Warna Kulit, Inilah Kisah Budak Hitam Kekasih Allah

Kisah ini begitu menggugah. Sebagai penegasan bahwa kemuliaan seseorang di hadapan Allah tidak ditentukan oleh nasab, warna kulit, kelamin, dan pembeda yang lain. Melainkan ditentukan oleh kualitas takwa kepada Allah.

Tersebutlah kisah seorang wali Allah dalam kitab Hikayatu al Nawadir yang ditulis oleh Imam Ahmad Syihabuddin bin Salamah al Qalyubi. Menukil perkataan Abdullah bin Mubarak, al Qalyubi mengisahkan kemarau panjang yang pernah terjadi di kota Makkah. Saking lamanya, orang-orang kala itu berkumpul di Padang Arafah pada hari Jum’at untuk berdoa supaya diturunkan hujan. Tetapi hujan tak kunjung datang.

Hari Jum’at berikutnya, mereka mengulangi hal yang sama. Berkumpul di Padang Arafah dalam upaya doa berjamaah meminta hujan. Pada saat itu, Abdullah bin Mubarak melihat seorang laki-laki hitam kurus kerempeng shalat dua rakaat, kemudian berdoa, “Ya Allah, demi kemulian-Mu, aku akan tetap bersujud dan tidak akan mengangkat kepalaku sampai Engkau berkenan menurunkan hujan”.

Abdullah bin Mubarak mendengar doa si budak hitam kurus tadi. Setelah itu, awan hitam bergumpal menyelimuti kota Makkah, langit menjadi gelap, mendung dan turun hujan. Dari mulut lelaki hitam legam yang kurus tadi keluar kalimat Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Kemudian ia berlalu pergi.

Penasaran, Abdullah bin Mubarak mengikuti langkahnya dan ternyata ia memasuki tempat khusus berlangsungnya transaksi jual beli budak, pasar budak. Segera Abdullah bin Mubarak bergegas pulang untuk mengambil uang dan berniat akan digunakan untuk membeli laki-laki hitam kurus yang ternyata adalah seorang budak.

Ia lalu membeli budak tadi seharga 27 Dinar. Budak itu bertanya tentang hal ihwal apa yang menyebabkan dirinya berkenan membeli seorang budak hitam kurus seperti dirinya yang jelas-jelas tidak produktif.

Baca Juga:  Rasulullah Model Terbaik dalam Praktek Toleransi

Abdullah bin Mubarak menceritakan kepada budak barunya itu apa yang dilihatnya pada hari Jum’at kemarin. Bahwa ia melihat apa yang dilakukan oleh dirinya sampai Allah berkenan menurunkan hujan.

Mendengar hal itu, budak yang ternyata adalah kekasih Allah berterima kasih kepada Abdullah bin Mubarak sebagai tuannya yang telah membeli dan memerdekannya. Selanjutnya, ia berwudhu, shalat dua rakaat dan berdoa.

Dalam doanya lirih ia berkata, “Aku bersyukur dan senang karena telah dimerdekakan oleh tuan baruku ini, tetapi alangkah bahagianya jika Tuanku yang Maha Agung yang memerdekakanku. Ya Allah, Engkau telah membuka rahasiaku, maka sekarang cabutlah nyawaku”.

Lelaki itu kemudian meninggal dunia. Abdullah bin Mubarak mengkafaninya dengan kain biasa, tidak terlalu bagus dan menguburkannya. Dan, pada malam harinya, ia ditegur oleh Nabi Muhammad yang datang menemuinya dalam mimpi bersama Nabi Ibrahim, mengapa tega mengkafani seorang wali Allah dengan kain kafan biasa padahal dirinya mampu membeli kain kafan yang bagus.

Kontan saja keesokan harinya Abdullah bin Mubarak mengeluarkan budak hitam kurus yang ternyata kekasih Allah itu dari kuburnya. Kemudian memandikannya lagi, memberinya kain kafan yang bagus, menshalati dan menguburkannya kembali.

Kisah ini sejatinya penegasan dari Allah, bahwa orang yang paling mulia adalah yang paling takwa. Bukan karena Nasab, warna kulit, status sosial, golongan dan seterusnya. Oleh karena itu, sejatinya sebagai umat Islam untuk menghargai siapapun tanpa melihat siapa, dari mana, keturunan, ras, golongan dan lain-lain. Sebab tidak mustahil kisah di atas dialami oleh kita. Sekali lagi, takaran kemuliaan adalah kualitas takwa, bukan yang lain.

Bagikan Artikel

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri