Tanda Diterima Amal

Tanda Ketika Allah Menerima Amal Kebaikan Hamba

Setiap hamba selalu berusaha untuk melakukan ibadah dan amalan terbaik untuk mendapatkan ridha Allah. Manusia tidak pernah tahu apakah amal ibadahnya diterima atau pun tertolak. Mereka hanya perlu melakukan ibadah tersebut dengan ketulusan dan keihklasan.

Diterima ataupun ditolaknya sebuah amal-ibadah memang sulit diukur. Itulah misteri dan murni hak prerogatif Allah. Manusia atau siapapun dia, tidak diperbolehkan menjatuhkan putusan atas penerimaan atau penolakan amal seseorang atau dirinya sendiri.

Namun, kita dapat melihat tanda-tanda penerimaan Allah atas amal yang telah kita lakukan. Syekh Ibnu Athaillah menyebutkan beberapa tanda penerimaan Allah SWT terhadap amal seorang hamba seperti dalam hikmah berikut ini.

من وجد ثمرة عمله عاجلاً فهو دليل على وجود القبول

Artinya, “Siapa yang memetik buah dari amalnya seketika di dunia, maka itu menunjukkan Allah menerima amalnya.”

Sebenarnya Islam adalah agama yang mampu menyeimbangkan antara kebahagian dunia dan akhirat. Ketika di dunia penuh dengan keberkahan dan ketenangan itulah cerminan kehidupan di akhirat. Syekh Ahmad Zarruq menjelaskan bahwa buah dari amal adalah kemaslahatan agama dan juga kemaslahatan keduniawian.

Karena itulah, buah amal itu sejatinya bisa dinikmati oleh seorang hamba tidak hanya di akhirat saja tetapi juga di dunia dengan cara melihat :

Pertama, kebahagiaan hidup yang dapat diukur dengan perasaan bebas dari rasa khawatir.

Dalam surat Yunus ayat 62-64 yang berbunyi, “Ketahuilah, para wali Allah tidak dihinggapi kekhawatiran dan kesedihan. Mereka yang beriman dan mereka itu bertakwa akan menerima kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat…” memiliki makna bahwa manusia hendaknya mengetahui tentang adanya perbandingan antara dua kelompok manusia yang berjalan dalam kebenaran dan kesesatan.

Dan tentunya orang yang memiliki ketenangan jiwa akan jauh dari rasa khawatir dan kesedihan, karena terbebas dari kekhawatiran dan kesedihan merupakan nikmat terbesar yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada umatnya.

Kedua, ketenangan hidup yang ditandai dengan keridhaan batin dan sifat qana‘ah atas segala pemberian Allah.

Baca Juga:  Kisah Ahli Kubur yang Berebut Kiriman Bacaan dan Doa

Syekh Zarruq mengutip Surat An-Nahl ayat 97, “Siapa saja beramal saleh laki-laki maupun perempuan sedangkan mereka itu orang beriman, maka kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik,”

Ketiga, keterbukaan rahasia atas penguasaan alam semesta.

Dalam Surat An-Nur ayat 55, “Allah menjanjikan orang-orang beriman di antara kalian dan mereka yang beramal saleh sebuah kekuasaan di bumi sebagaimana Ia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Ia teguhkan agama mereka yang Ia ridhai’, serta Ia mengganti ketakutan mereka dengan rasa aman…,” 

Dalam surat Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman akan dijadikan mereka berkuasa di bumi. Namun, selain dari itu semua, kenikmatan dalam menjalankan ibadah itu sendiri sudah merupakan buah dari amal.

Syekh Ahmad Zarruq menyarankan agar kita memandang amal kita penuh kekurangan. Bahkan ia menganjurkan kita untuk melepaskan kaitan kita dan amal kita sendiri karena pada hakikatnya amal itu bukan milik kita. Amal itu lahir dari kita karena Allah memberi taufiq kepada kita.

Bagikan Artikel

About Triyanto S