Prof Drs M Mukhtasar Syamsuddin M Hum Ph D
Prof Drs M Mukhtasar Syamsuddin M Hum Ph D

Tangkal Ideologi Transnasional, Akademisi: Kajian Logis dan Faktual Pancasila Solusinya

Yogyakarta – Kearifan lokal atau local wisdom yang dimiliki bangsa Indonesia sangatlah kaya, bahkan sulit bagi negara lain  untuk menemukan local wisdom-nya sendiri yang sehebat dan sekaya Indonesia. Karena local wisdom sendiri dipercaya dapat membentuk sebuah nilai karakter bangsa. Indonesia memiliki jalan terbuka lebar untuk menjadi negara maju melalui local wisdom yang menjadi sebuah kekuatan bangkit dan maju unjuk gigi di kancah dunia.

Sayangnya, bangsa ini masih terhimpit berbagai permasalahan yang terus menerus menjangkiti. Virus radikalisme dan intoleransi masih menjadi ancaman besar. Apalagi mereka mengusung ideologi-ideologi impor yang berupaya menghilangkan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia.

Guru Besar bidang Ilmu Filsafat dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D., mengungkapkan gagasannya menghadapi kondisi tersebut untuk menangkal masuknya ideologi transnasional melalui kajian logis dan faktual atas Pancasila sebagai ideologi  bangsa Indonesia.

“Kajian tersebut difokuskan pada upaya menemukan bukti-bukti empirik dan rasional untuk mempertegas pengertian Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai kebudayaan daerah yang bermuatan kecerdasan lokal (local genius) masyarakat,” ungkap Prof. Mukhtasar Syamsuddin di Yogyakarta, Sabtu (4/9/2021).

Prof. Mukhtasar mengingatkan kembali tentang penelitian yang pernah dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) tentang kearifan lokal yang dinilai efektif dalam menangkal paham radikalisme di negeri ini.

Itu merupakan langkah yang sangat baik dan perlu diadakan penelitian serupa kedepannya dengan melibatkan para pakar atau ahli yang berkompeten. Para ahli bisa berperan memberikan pandangan dan arahan bagaimana Pancasila itu bisa diposisikan sebagai kaidah penuntun dalam setiap program penangkalan ideologi transnasional.

Selain itu, juga harus dijabarkan temuan atau data dan informasi hasil penelitian tersebut ke dalam bentuk petunjuk operasional untuk menangkal ideologi transnasional. Tidak hanya sampai di situ, untuk memastikan efektifitas upaya tersebut diperlukan sinergi dan koordinasi kelembagaan baik antar lembaga pemerintah, maupun antar lembaga sosial masyarakat untuk ikut menyebarkan petunjuk operasional tersebut. Lembaga-lembaga itu tentunya memiliki pengalaman dalam melaksanakan program penangkalan paham asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa.

Baca Juga:  KH Ma’ruf Amin: NU Harus Jadi Lokomotif Penggerak Pemberdayaan Ekonomi Umat

“Pemerintah harus bersinergi dengan lembaga-lembaga pendidikan dalam memanfaatkan hasil digitalisasi dokumen agar nilai-nilai kearifan lokal dapat disertakan dalam materi pembelajaran di lembaga Pendidikan,” tuturnya.

Ia mengemukakan perlu juga visualisasi yang masif melalui media sosial yang digandrungi anak muda terkait nilai-nilai kearifan lokal sebagai hasil dari reproduksi dokumen yang memuat nilai kearifan lokal dari berbagai kebudayaan daerah.

“Demikian halnya dengan nilai-nilai kearifan lokal yang berbentuk perilaku, budaya, dan nilai-nilai masyarakat perlu divisualisasi secara masif melalui pementasan kebudayaan, perfilman, seni panggung, atau video yang dapat mengisi ruang-ruang media sosial,” tuturnya.

Mukhtasar  juga mengemukakan keprihatinannya tentang kondisi masyarakat saat ini yang begitu mudahnya terpengaruh budaya luar dan cenderung meninggalkan kearifan lokal. Ia menganggap rendahnya kesadaran kritis masyarakat menjadi pemicu utamanya.

“Kesadaran kritis bisa kita pahami sebagai kemampuan masyarakat dalam memilih dan memilah pengaruh budaya asing. Mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk diterima. Dengan kesadaran kritis, masyarakat tidak akan mudah meninggalkan kearifan lokalnya,” ujar pria yang meraih gelar Doktoral dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea Selatan ini.

Menurutnya, upaya yang bisa dilakukan untuk mendukung tumbuhnya kesadaran kritis tersebut adalah dengan menggalakkan program literasi budaya dan bagaimana masyarakat dapat diajarkan memanfaatkan media secara positif. Ia menilai negara melalui regulasi yang berlaku sudah cukup tegas melindungi kearifan lokal.

“Dalam konteks kekinian atau dalam era perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat saat sekarang ini, hal yang urgen dilakukan untuk mendukung tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat adalah dengan menggalakkan program literasi budaya dan pemanfaatan media bagi masyarakat,” kata Mukhtasar.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

pwnu dki jakarta menyalurkan keasiswa kepada santri

Peringati Hari Santri, PWNU DKI Jakarta Salurkan Beasiswa 200 Santri

JAKARTA  – Akar historis Hari Santri adalah tercetusnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim …

Pondok pesantren

Pesantren Berperan Besar Sebarkan Ajaran Islam ke Seantero Nusantara

Jakarta – Pesantren berperan besar dalam memperkuat pendidikan Islam dan generasi bangsa. Melalui pesantren juga, …