Tenaga Medis Covid-19 Tetap Bisa Salat, Begini Tata Caranya

0
1030

JAKARTA – Setelah Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin meminta supaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa agar tenaga medis yang menangani virus corona dapat tetap salat tanpa wudhu maupun tayammum karena pakaian yang harus dikenakan tidak memungkinkan untuk dilepas dalam waktu singkat setelah menangani pasien

Kini, masyarakat juga mulai bertanya tentang tata cara tenaga medis yang menangani pasien covid- 19 melaksanakan ibadah lima waktu. Tenaga medis yang merawat pasien harus menggunakan pakaian khusus atau yang dikenal dengan alat pelindung diri (APD) yang tidak dibuka delapan sampai 10 jam sehingga sangat sulit untuk wudhu maupun tayammum.

Menjawab pertanyaan sebagian masyarakat, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menjelaskan, pada prinsipnya agama Islam memudahkan, bukan menyulitkan. Nilai Islam mendahulukan kemanusiaan daripada ibadah mahdhah (ikatan kepada Allah saja).

“Oleh karenanya, ada dua cara bagi para medis dan perawat pasien Covid-19 agar tetap dapat melaksanakan shalat saat wajib saat merawat dan mengobatinya,” ujar Kiai Cholil seperti dikutip dari laman Republika.co.id, Rabu (25/3).

Pertama, jadwal merawat dan mengobati dilakukan sesuai dengan jadwal waktu shalat. Misalnya, mulai bekerja dari pukul 06.00 sampai pukul 14.00 sehingga ia dapat melaksanakan shalat tepat waktu. Namun, jika waktunya mepet dengan waktu shalat Ashar, ia bisa melakukan jamak; menggabungkan shalat ke waktu dan shalat sebelum atau berikutnya.

Kedua, jika tak memungkinkan shalat pada waktunya dan juga jamak, ia dikategorikan orang yang tak bisa bersuci sebagai syarat shalat, yaitu tidak bisa wudhu dan tayamum. Dalam syariat, ia dikategorikan sebagai faqiduth thahurain.

“Cara shalat bagi yang faqiduth thahurain telah dijelaskan menurut empat mazhab fikih,” kata mantan wakil ketua Bahtsul Masail PBNU ini.

Menurut mazhab Hanafi, orang yang tak bisa wudhu dan tak bisa tayamum (faqiduth thahurain) dapat melakukan shalat dengn gerakan shalat, tetapi tak perlu membaca Fatihah dan bacaan lainnya. Namun, setelah memungkinkan, ia harus mengganti shalatnya secara sempurna atau qadha.

“Menurut mazhab Maliki, bagi faqiduth thahurain tak wajib shalat dan tak wajib qadha. Cukup dalam hatinya menunjukkan ketundukan kepada syariat Allah,” kata Kiai Cholil.

Menurut mazhab Syafi’i, orang yang faqiduth thahurain wajib shalat seperti apa adanya yang penuh rukunnya untuk menghormati waktu (lihurmatil waqti). Setelah memungkinkan shalat secara sempurna, ia wajib mengulangi shalatnya secara sempurna.

Sementara itu, mazhab Hambali menjelaskan, bagi faqiduth thahurain, ia sholat sebagaimana mestinya meskipun tidak berwudhu dan tidak tayamum. Lalu, ia tidak wajib mengulangi shalatnya karena shalat seperti itu sudah dianggap cukup.

Dari beberapa pendapat ulama mazhab fikih tersebut, menurut Kiai Cholil, dapat diambil pendapat yang lebih kuat dan lebih hati-hati, yaitu pendapat mazhab Syafi’i. Menurut mazhab tersebut, tenaga medis dan perawat shalat sebagaimana mestinya dengab memakai pakaian APD. Namun, mereka wajib mengulangi shalatnya setelah bisa melaksanakan secara sempurna meskipun sudah lewat waktunya.

“Mengulangi shalat selain karena kehati-hatian juga dapat memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala,” kata pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, ini.