jibril
jibril

Tidak Hanya Membawa Wahyu, Ternyata Jibril Mempunyai Tugas Penting Lainnya, Ini Salah Satu Kisahnya!

Telah menjadi pengetahuan umat Islam secara umum bahwa Jibril datang kepada Nabi untuk menyampaikan wahyu. Menyampaikan ajaran, ketetapan, hukum, ataupun hanya berupa kisah yang saat itu sedang dibutuhkan oleh Nabi. Saat menyampaikan wahyu tersebut, tentunya berdasarkan perintah Allah yang akan sangat bermanfaat bagi Nabi dan para pengikutnya.

Namun, siapa sangka  berita yang disampaikan jibril tidak hanya berupa wahyu semata. Adakalanya jibril datang untuk menyampaikan rahasia beberapa kaum kafir Quraisy yang akan sangat bermanfaat bagi Nabi. Dan lebih uniknya lagi, hal inilah yang nanti menjadikan mereka percaya bahwa Nabi adalah Rasulullah.

Kisah pertama datang dari paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthallib. Ia merupakan paman Nabi yang kaya raya, namun ia sempat melawan dakwah Rasulullah sebelum ia masuk Islam. Ketika itu ia menjadi salah satu tawanan perang Rasulullah. Nabi mewajibkan setiap orang yang ditawan wajib ditebus oleh kerabatnya dengan harga tertentu. Begitu juga kepada pamannya sendiri, Abbas. Bersamaan itu juga, kedua keponakan Abbas juga menjadi tawanan perang.

Karena Abbas merupakan orang yang sangat berllimpah harta, maka Nabi meminta Abbas untuk menebus dirinya sendiri. Beliau berkata, “Tebuslah dirimu sendiri dan dua keponakanmu, Aqil dan Nawfal, dan sekutumu, ‘Utbah, karena engkau orang kaya,” Kata Nabi. Abbas protes, “Aku telah menjadi muslim, tapi aku dipaksa mereka untuk melawanmu,” Bela Abbas.

Nabi menjawab, “Hanya Allah yang tahu tentang keIslamanmu. Jika engkau benar, Dia yang akan memberikan ganjarannya. Tapi kenyataannya engkau telah melawan kami. Maka, bayarlah tebusanmu sendiri.”

Abbas menjawab bahwa ia tidak memiliki uang. Nabi pun berkata, “Mana uangmu yang telah engkau tinggalkan kepada Ummu al-Fadhl? Engkau sendiri yang mengatakan, ‘Jika aku terbunuh, maka banyak yang aku tinggalkan untuk Fadhl, ‘Abd Allah, Qitsman, dan Ubaydillah.”

Saat itulah keyakinan sejati benar-benar meresap ke dalam hati Abbas. “Demi Dia yang telah mengutusmu membawa kebenaran,” katanya, “tidak ada yang tahu pembicaraan kami itu selain aku dan istriku. Kini aku benar-benar yakin bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Ia pun setuju untuk membayar tebusan untuk dirinya, dua keponakannya, dan sekutunya.

Kisah lain datang dari  dua orang kafir Quraisy, Shafwan dan Umayr yang dengan kebencian luar biasa memperbincangkan kematian para pemimpin mereka pada saat Perang Badr. Saat itu Umayr mengadu pada Shafwan tentang anaknya yang sedang ditawan oleh umat Islam, namun dia tak sanggup untuk menebusnya karena dililit banyak hutang.

“Andai kata aku tidak menanggung hutang yang belum dapat kulunasi dan aku dapat meninggalkan bekal penghidupan untuk keluargaku, tentu akan ku datangi Muhammad dan ku bunuh dia,” Kata Umayr. “Jangan khawatir, hutangmu akan ku lunasi dan akan ku tanggung seluruh penghidupan keluargamu. Aku akan menjaga mereka sepanjang hidupku.” Umayr segera menerima tawaran ini dan mereka berjanji untuk merahasiakan rencana itu sampai tujuan mereka berhasil.

Maka, Umayr pulang untuk mengasah pedangnya, melumurinya dengan racun. Ia pun segera berangkat ke Yatsrib dengan alasan ingin menebus anaknya yang ditawan. Ketika Umayr telah sampai di Madinah, ia langsung mencari Nabi dan mendapati Nabi sedang duduk di Masjid.

Ia mengucapkan salam kepada Nabi-salam yang biasa dilakukan kaum musyrik-dan Nabi menjawab, “Allah telah mengajarkan salam yang lebih baik dari yang kau ucapkan itu, Umayr. Inilah kedamaian, salam dari para penghuni surga.”

Beliau lantas menanyakan maksud kedatangan tamunya itu, dan Umayr mengutarakan niatnya untuk menebus anaknya. “Mengapa kamu membawa pedang?” tanya Nabi. “Tuhan membenci pedang-pedang!” kata Umayr. “Katakanlah terus terang apa maksudmu sebenarnya, Umayr,” kata Nabi.

Ketika Umayr kembali menjawab ia ingin menebus anaknya, Nabi mengulangi pembicaraan Umayr dengan Shafwan di dekat Hajar Aswad. “Jadi Shafwan akan melunasi seluruh hutangmu dan menanggung nafkah keluargamu asal kamu berhasil membunuhku, tapi Allah mencegahnya,” kata Nabi.

“Siapa yang mengatakannya kepadamu? Padahal tidak ada orang lain saat itu.” Tanya Umayr kaget. “Jibril telah menyampaikannya kepadaku,” kata Nabi. “Selama ini, ketika engkau mengaku telah membawa kabar dari langit, kami menganggapmu pembohong. Tapi kini, segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah untuk segera masuk Islam. Aku bersaksi di hadapanmu hai Rasulullah, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Itulah beberapa kisah berita mengenai rahasia kaum kafir yang diketahui Nabi melalui malaikat jibril. Semoga dapat selalu menambah keimanan kita dalam beragama dan lebih mencintai Rasulullah sebagai pemberi syafaat kita di hari akhir kelak.

 

Bagikan Artikel ini:

About Nilna Husnayain

Avatar of Nilna Husnayain
Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Mahasantri Monashmuda Institute, Alumni PonPes Al Hikmah Purwoasri Kediri

Check Also

tafsir

Hati-hati! Salah Kaprah Menafsirkan Ayat, Bisa Kufur Nikmat

Hampir seluruh umat muslim di berbagai negara gemar mendengarkan kajian ataupun ceramah keagamaan. Tujuan mereka …

nabi yusuf

Belajar Kisah Nabi Yusuf (1): Bermimpi, hingga Menjadi Penakwil Mimpi

Nabi Yusuf AS merupakan anak dari Nabi Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim. Ia merupakan anak …