akhlak rasulullah
akhlak rasulullah

Tiga Akhlak Rasulullah sebagai Teladan dalam Kehidupan Berbangsa

Rasulullah merupakan suri tauladan dan cerminan pribadi yang memiliki akhlak yang baik. Beliau merupakan contoh manusia dengan budi pekerti yang luhur di antara manusia-manusia lain yang diciptakan Allah. Akhlak Rasulullah seperti rendah hati, sabar, pemberani, jujur, adil dan dapat dipercaya memang selalu menjadi teladan bagi pengikut beliau.

Karena alasan inilah kita sebagai umatnya berkewajiban untuk meneruskan apa yang telah beliau contohkan. Nabi Muhammad memang diutus oleh Allah salah satunya untuk menyempurnakan akhlak manusia melalui ajaran agama yang dibawanya.

Dalam aurat al-Ahzab ayat 21, Allah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Umat nabi Muhammad telah mendapatkan teladan yang baik pada pribadi Nabi Muhammad. Teladan bagi orang-orang yang mengharap kasih sayang Allah dan kesenangan hidup di akhirat. Teladan bagi orang-orang yang banyak berzikir mengingat Allah di setiap kesempatan, kala susah maupun senang. Oleh karenanya, sudah sepatutnya kita umat muslim mencontoh suri tauladan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa ahklak mulia yang di contohkan oleh Rasulullah terhadap umatnya, yakni: Pertama, berpegang tegug kepada kejujuran. Rasulullah mendapat gelar al-amin artinya beliau merupakan orang yang dapat di percaya atau seorang yang jujur. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian dan hendaklah kamu sekalian bersama orang-orang yang jujur.” (Q.S At-Taubah 9:19).

Rasanya hari ini sangat sulit mencari seseorang yang benar-benar jujur. Teramat sulit mencari tokoh yang mengedepankan kejujuran. Padahal kunci utama kehidupan bermasyarakat adalah jujur.

Sikap jujur dalam Islam dipandang sebagai sifat yang sangat penting dan harus dimiliki oleh semua muslim. Sifat ini seharusnya menjadi bagian dari karakter diri seperti yang sudah diperintahkan oleh Allah. Sikap atau sifat jujur tidak hanya jujur dalam perkataan saja. Setiap muslim seharusnya juga jujur di dalam pergaulan, jujur di dalam perbuatan, dan jujur dalam berjanji.

Baca Juga:  Gus Mus Mohon Para Ulama Hadirkan Akhlak Mulia Rasulullah Dalam Setiap Perilaku Dan Dakwah

Kedua, amanah. Sifat kedua yakni amanah mengartikan bahwa Rasulullah merupakan hamba yang bisa dipercaya. Jika suatu urusan di percayakan kepadanya, maka beliau akan melaksanakannya dengan baik. Dengan senantiasa menerapkan sikap amanah, maka kita akan bisa dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab dan mampu mengemban suatu pekerjaan. Sikap amanah akan menghantarkan kehidupan kita menjadi lebih baik.

Dengan memiliki sikap amanah, hubungan dengan sesama manusia juga akan lebih harmonis karena kita mampu menjadi orang yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Saat ini, bukan hanya kepandaian yang diperlukan dalam menjalani kehidupan yang penuh persaingan. Apabila menjadi orang yang amanah terasa berat, maka kuncinya adalah dengan selalu mengingat kebajikan yang di contohkan kepada kita oleh Nabi Muhammad

Ketiga, Mengerjakan amal ma’ruf nahi munkar. Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.’”

Pada hakikatnya, amar ma’ruf nahi mungkar merupakan bagian dari upaya menegakkan agama dan kemaslahatan umat. Amar ma’ruf nahi munkar lebih ditekankan dalam mengantisipasi maupun menghilangkan kemunkaran. Tujuan amar makruf nahi mungkar ialah menjauhkan segala hal negatif di tengah masyarakat tanpa menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.

Dalam penerapan amar ma’ruf mungkin mudah dalam batas tertentu, namun sulit apabila sudah terkait dengan konteks bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar harus mengerti betul terhadap perkara yang akan ia tindak, agar tidak salah dan keliru dalam bertindak.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

shalat ghaib korban bencana

Shalat Ghaib untuk Korban Bencana

Pada tanggal 4 Desember 2021 telah terjadi peningkatan aktifitas vulkanik di gunung semeru. Hal itu …

reuni 212

Membaca Reuni 212 : Panggung Menguji Soliditas dan Kuantitas

Berawal dari sejumlah aksi menuntut penistaan agama yang dilakukan oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki …