ramadan

Tips Ramadan yang Berkualitas (2): Saatnya Investasi Akhirat!

Ramadan adalah bulan yang sangat spesial. Karena pada bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, sementara pintu neraka ditutup dan pahala dilipatgandakan. Bahkan di dalam bulan Ramadan, terdapat malam yang merupakan sebaik-baik malam, malam yang lebih utama dari seribu bulan.

Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan waktu selama Ramadan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita termasuk orang yang mendapati bulan Ramadan tetapi justru malah merugi. Karena, Ramadan yang kita jalankan tidak berkualitas, atau bahkan tidak menjadikan pribadi kita saleh secara spiritual maupun sosial.

Untuk itu, sekali lagi, mari kita manfaatkan dan penuhi waktu-waktu selama bulan Ramadan dengan amal-amal shaleh. Amal shaleh tersebut bisa menjadi modal untuk investasi akhirat. Lantas amal shaleh apa saja yang bisa dijadikan modal investasi di akhirat?

Pertama, mengamalkan dan mengajarkan ilmu.

Dalam sebuah hadis yang sangat populer di kalangan masyarakat menyebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya (HR. Bukhari).

Hal ini menandakan bahwa jika engkau menyibukkan diri selama ratusan tahun sekalipun untuk mempelajari suatu ilmu, namun engkau tidak mampu melaksanakan ilmu yang telah engkau pelajari tersebut, maka engkau akan mengalami kerugian dan kecelakaan yang amat besar di sisi Allah. ( Lihat QS. Maryam [19]: 59-60).

Mengamalkan ilmu saja juga tidak cukup. Menyampaikan ilmu dan menyebarluaskannya kepada orang lain hukumnya wajib. Allah SWT berfirman:

“…. Dan Kami turunkan kepadamu az-dzikr (Alquran) agar kamu terangkan kepada para manusia apa yang akan diturunkan kepada mereka, dan agar mereka berpikir.” (QS. An-Nahl [16]: 44).

Pada bulan Ramadan, investasi pertama ini sangat besar bisa dilakukan. Buatlah kajian-kajian kecil yang melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar untuk menggelar pengajian rutin; mengkaji kitab tertentu dan mengamalkannya.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Kedua, menjadikan wakaf sebagai gaya hidup.

Dalam sejarah peradaban Islam disebutkan bahwa Masjid Nabawi yang ada di Madinah dahulu tanahnya milik dua anak yatim dari Bani Najjar. Semula akan dihibahkan kepada Rasulullah, namun beliau menolaknya. Walhasil, Rasulullah membelinya dengan harga delapan ratus dirham, yang dibayar oleh Abu Bakar. Jadi, Rasulullah yang membeli, kemudian Abu Bakar yang membayar. Dan tanah tersebut statusnya menjadi tanah wakaf. Berkat kolaborasi apik itu, kini Masjid Nabawi tidak pernah sepi, apalagi pada saat bulan suci Ramadan seperti saat ini.

Tidak hanya terjadi di masa Rasulullah saja, wakaf juga menjadi ‘gaya hidup’ generasi setelah Nabi. Pada masa Khulafa ar Rasyidin pun demikian. Wakaf tanah Khaibar dilakukan oleh Umar bin Khatthab. Abdurrahman bin Auf memiliki tiga rumah. Salah satunya, ia wakafkan untuk menginap tamu-tamu Rasulullah. Begitu juga Ustman bin Affan, mewakafkan sumur bernama Bi’ru Rumah untuk memberi minum kaum muslimin. Dan masih banyak lagi kisah para sahabat yang dengan ikhlas mewakafkan sebagian harta yang ia cintai untu kemashlahatan umat. Inilah investasi akhirat yang harus dikejar dan digaungkan oleh seluruh umat Islam di mana pun berapa.

Ketiga, investasi SDM.

Pendiri Monash Institute Semarang, Dr. Mohammad Nasih pernah berujar: “Jika engkau ingin sejahtera bulanan, maka tanamlah ubi. Jika ingin sejahtera tahunan, maka tanamlah tebu. Jika ingin sejahtera puluhan tahun, tanamlah jati. Dan jika ingin sejahtera selamanya (dunia-akhirat), maka tanamlah SDM yang ber-IPTEK dan ber-Imtak.

Manusia adalah pewaris sekaligus penentu peradaban. Karena manusia diciptakan oleh Allah dengan potensi dan bentuk yang sempurna ( QS. At-Tin [95]: 4). Oleh sebab itu, menanam SDM yang ber-Imtak dan ber-IPTEK menjadi kunci untuk membangun peradaban yang gemilang. Dan yang demikian itu termasuk investasi akhirat.

Berkaitan dengan kualitas manusia, Nabi Muhammad bersabda:

Tidak boleh iri hati kecuali terhadap dua orang yang diberi Allah harta dan ia tertarik mempergunakan harta itu menurut yang semestinya, dan orang yang diberi Allah pengetahuan dan dia memanfaatkan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Terkadang, kita harus berpikir bahwa Ramadan kali ini mungkin adalah Ramadan terakhir. Mengapa demikian? Supaya kita benar-benar memanfaatkan Ramadan sebaik-baiknya. Investasi akhirat adalah salah satu bentuk konkretnya. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung dan berbahagia atas datangnya bulan Ramadan kali ini. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Dosen Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Ekonomi dan Perbankan Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta, mahasiswa Program Magister Universitas PTIQ dan Mahasiswa Program Doktoral UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Check Also

money politic

Benarkah Money Politik Bagian dari Jihad? Bisa Iya, Bisa Tidak!

Menarik apa yang disampaikan oleh Fauziyatus Syarifah dalam ulasannya di kolom Afkar Islam Kaffah tentang …

hutang

Menjadikan Utang sebagai Pemenuhan Gaya Hidup? Begini Pandangan Islam

Tentu kita semua sepakat bahwa utang adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Artinya, hampir tidak …