amplop kiayi
amplop kiayi

Tradisi Sowan dan Kontroversi “Amplop Kiayi”; Bagaimana Sesungguhnya?

Tradisi nyabis atau sowan, yaitu mengunjungi ulama atau kiai yang dilakukan oleh murid, wali murid, atau masyarakat. Hal ini berupa aktifitas meminta doa dan barokah, biasanya disertai dengan memberikan uang/amplop ketika bersalaman dengan ulama atau kiai yang dituju sambil cium tangan. Demikian pula kalau ada ulama atau kiai yang berkunjung ke suatu daerah, ramai-ramai santri dan simpatisan datang untuk nyabis.

Tradisi sowan banyak dijumpai di kalangan Nahdliyyin (pengikut Nahdlatul Ulama). Kaum Nahdliyyin memang dikenal kental dalam hal ketaatan kepada ulama atau kiai. Nyabis atau sowan bertujuan untuk mendapatkan barokah dan doa, dengan harapan apa yang diinginkan dapat terkabul.

Baru-baru ini tradisi nyabis atau sowan dikritik sebagai tindakan ilegal, bahkan dikatakan money politik. Adalah Suharso Minoarfa, Ketua Umum PPP saat berpidato di acara Pembekalan Anti Korupsi Politik Cerdas Berintegritas (PCB) untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia menyinggung tentang “Amplop Kiai” untuk Kiai.

Suharso menilai seakan-akan nyabis atau sowan kepada wajib memberikan salam tempel. Padahal, yang terjadi sejatinya tidak demikian. Maka yang penting kita pahami adalah bagaimana sesungguhnya pandangan agama Islam terhadap tradisi nyabis atau sowan kepada ulama atau kiai sambil memberikan uang?

Syaikh Wahbah al Zuhaili dalam Subul al Istifadah min al Nawazil wa al Fatawa wa al Amal li Fiqh fi al Tathbhiqat al Mua’shirah menjelaskan, menurut ulama mutaakhkhirin guru ngaji, imam shalat, khatib, muazin, dan semua aktifitas keagamaan yang lain seperti shalat, puasa dan haji, mereka boleh menerima insentif. Fatwa ini berbeda dengan pendapat ulama madhab semisal Madhab Syafi’i, Hanafi dan madhab lainnya yang tidak membolehkan memberi insentif kepada guru ngaji, khatib dan seterusnya.

Syaikh Wahbah al Zuhaili menilai, bila guru ngaji, khatib dan seterusnya sibuk beraktifitas di luar aktifitas keagamaan, seperti berdagang, menjadi petani, buruh dan pengusaha, dikhawatirkan syiar keagamaan akan terbengkalai.

Insentif adalah dana yang dianggarkan dari kas negara. Bagaimana kalau masyarakat biasa yang nyabis sambil memberikan uang kepada ulama atau kiai?

Dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Abdullah bin Abbas, bahwa serombongan sahabat Nabi melewati pemukiman di dekat sumber air dimana salah seorang penduduk disitu tersengat binatang berbisa. Salah seorang penduduk mendatangi rombongan para sahabat, kalau berkata: “Adakah salah seorang diantara kalian yang bisa merukyah (pengobatan dengan membacakan doa-doa yang diambil dari al Qur’an), ada salah seorang dari kami tersengat di air ini”? Salah seorang sahabat mendatangi korban, kemudian merukyah dengan membacakan surat al Fatihah dengan imbalan kambing. Korban sembuh, lalu ia membawa kambing yang dijanjikan. Tetapi, para sahabat yang lain tidak setuju. Dalam perjalanan ke Madinah sahabat-sahabat yang lain berkata kepadanya, “Apakah engkau menerima upah atas membaca kitabullah”? Setelah tiba di Madinah, mereka mengadu kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, “Ia mengambil upah atas bacaan al Qur’an”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya upah yang paling layak kamu terima adalah kitabullah”. (HR. Bukhari)

Sampai disini telah jelas, boleh mengambil upah dari bacaan al Qur’an yang digunakan sebagai doa untuk pengobatan. Hal ini sama dengan seseorang yang sowan atau nyabis kepada ulama atau kiai, kemudian meminta didoakan supaya hajatnya terkabul, lalu orang tersebut memberikan uang kepada kiai atau ulama.

Maka, tentu tidak ada masalah nyabis sambil memberi amplop. Lagi pula, ulama atau kiai tidak pernah memintanya, apalagi sampai menetapkan jumlah. Hal ini tidak pernah dijumpai sepanjang perjalanan penulis nyabis dan sowan kepada beberapa ulama atau kiai.

Andai kata, ada seorang ulama atau kiai seperti yang diceritakan Suharso, maka Kiai tersebut sangat pantas untuk dipersoalkan keulamaan dan kekiaiannya. Tetapi, sekali lagi, itu tidak terjadi di lingkungan ulama-ulama NU. Bahkan, tidak sedikit kiai-kiai atau para ulama yang menerima amplop dari seseorang yang dipergunakan untuk kepentingan pesantren, tidak dipakai untuk kepentingan pribadi atau keluarganya.

Kesimpulannya, “Amplop Kiai” selama itu tidak diminta ditargetkan maka no problem. Tradisi nyabis atau sowan dilakukan tanpa paksaan. Masyarakat hanya sekadar ingin mendapatkan barokah dari seorang ulama, minta didoakan supaya hajatnya terkabul dan kemudian bersedekah kepada ulama tersebut. Tidak lebih dari itu. Dan, ternyata hukumnya boleh.

 

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Check Also

ilmu agama di internet

Viral Anak Membunuh karena Media Sosial, Inilah 4 Aturan Fikih Mendidik Kesalehan Bermedia Sosial Anak

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang siswa sekolah menengah atas terhadap seorang bocah berumur …

Abdullah bin Abbas

Kisah Ibnu Abbas Menginsyafkan 2000 Muslim Radikal

Kisah ini diriwayatkan oleh beberapa orang perawi hadits seperti Thabrani, Baihaqi, Hakim dan Nasa’i. Satu …

escortescort