mencari sahabat di media sosial
media sosial

Inilah 5 Kriteria untuk Mencari Sahabat di Media Sosial dalam Islam

Manusia secara tabiat memiliki kecenderungan untuk berkumpul dengan manusia lainnya. Hubungan pertemanan adalah salah satu dari pola interaksi manusia dengan manusia lainnya. Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak sembarang orang dapat dijadikan sebagai teman dekat (sahabat) bahkan di dunia maya khususnya media sosial.

Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda:

المرء على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang itu mengikuti agama sahabatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian melihat siapakah yang patut dijadikan sahabat” (HR. Abu Daud)

Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah membagi pola interaksi (selain guru-murid dan orang tua-anak) menjadi 3, yaitu (1) orang yang tidak dikenali, (2) sahabat karib, dan (3) orang yang dikenali (bukan sahabat).

Dalam konteks mencari sahabat, Al-Ghazali memberikan lima syarat termasuk syarat ini bisa digunakan ketika mencari pertemenan di media sosial:

Pertama adalah orang yang berakal. Jangan Anda bersahabat dengan orang yang bodoh. Mengapa demikian? Karena hal terbaik yang Anda dapatkan darinya adalah Anda selamat dari kemadlaratannya. Hingga, ada sebuah quote menarik dari Al-Ghazali bahwa “musuh yang pintar itu lebih baik dari sahabat yang bodoh”.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga berwasiat: “Janganlah Anda bersahabat dengan orang bodoh, jauhi dia. Berapa banyak orang jahil yang telah membinasakan orang alim ketika ia bersahabat dengannya. Seseorang itu akan dinilai mengikuti tingkatan sahabat yang bersamanya.”

Kedua adalah orang yang berakhlak baik. Janganlah Anda bersahabat dengan orang berperangai jahat, yaitu orang yang tidak dapat mengontrol amarahnya dan selalu mengikuti hawa nafsunya.

Dalam hal ini Sayyidina Ali Bin Abi Thalib berwasiat: “Saudaramu yang sesungguhnya adalah ia yang selalu menolongmu (di waktu senang dan susah) dan ia sanggup berkorban untuk bermanfaat untukmu. Dan ia sanggup mendatangkan segala urusannya  karena menolongmu dalam menghadapi bala’ dan ujian”

Ketiga adalah orang yang sholeh. Janganlah Anda berteman dengan orang fasik, yaitu orang yang melalukan dosa-dosa besar, seperti syirik, berzina, dan lainnya. Orang yang melalukan dosa besar ini hakikatnya mereka tidak takut kepada Allah Swt., karena orang yang takut kepada Allah tidak akan melakukan dosa-dosa besar dan mereka ini sulit untuk dipercaya sepenuhnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Kahf ayat 28:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا

“Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”

Bersahabat dengan orang fasik secara terus menerus akan menghilangkan kebencian Anda kepada maksiat, lalu akhirnya merasa ringan memandang maksiat. Sebagai contoh, menganggap ringan maksiat ghibah, karena sudah terbiasa melakukannya.

Keempat adalah jangan Anda bersahabat dengan orang yang tamak terhadap dunia, yaitu cinta kepada dunia berlebihan sehingga berisiko tidak mempertimbangkan hukum-hukum syariat. Berteman dengan orang tamak dunia ini, kata Al-Ghazali diibaratkan seperti racun yang dapat membunuh. Mengapa demikian? Karena tabiat seseorang itu cepat sekali meniru dan mengikuti tabiat orang lain. Bahkan orang baikpun cepat sekali menjadi jahat. Berkumpul dengan orang tamak, akan menambah kadar ke-tamak-an Anda. Begitu juga sebaliknya, berteman dengan orang zuhud, akan menambah kadar ke-zuhud-an Anda.

Imam Mawardi dalam karyanya Adab Al-dunya wa Ad-din mengatakan: “tamak terhadap dunia tidak akan menambah rizkinya, justru akan merendahkan dirinya”

Kelima adalah orang yang jujur. Janganlah Anda bersahabat dengan orang yang pendusta, karena ia seperti fatamorgana yang seakan-akan mendekatkan yang jauh atau menjauhkan yang dekat.

Lima kriteria inilah yang harus menjadi pegangan untuk mencari sahabat, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Untuk melihat kecenderungan orang di dunia maya, Anda bisa dilihat dari siapa yang mengikutinya (follower) dan siapa yang diikuti (following). Bahkan, Anda bisa melihat konten apa yang sering disukai.

Wallahu a’lam bisshowab

Bagikan Artikel ini:

About Hamzah Alfarisi

Aktivis Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) dan Mudir Pesantren Mahasiswa Ma'had Jawi IPB University.

Check Also

penyakit hati

Jangan Hanya Fokus Kesehatan Fisik, Kenali 3 Penyakit Hati Yang Sering Menyerang

Apakah Anda tahu bahwa manusia itu terdiri dari unsur lahir dan batin? Apakah Anda tahu …

riya

Mengenali Sumber Riya dan Cara Mengobatinya

Sebagai muslim-muslimah, kita harus mengenali potensi-potensi maksiat dalam dirinya baik yang zahir (luar) ataupun yang …

escortescort