riya
riya

Mengenali Sumber Riya dan Cara Mengobatinya

Sebagai muslim-muslimah, kita harus mengenali potensi-potensi maksiat dalam dirinya baik yang zahir (luar) ataupun yang batin (dalam). Diantara potensi maksiat batin yang sering menjangkiti hati (qalbu) kita adalah riya. Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah mengungkapkan:
“Riya adalah keinginanmu untuk mendapatkan kedudukan di hati makhluk supaya memperoleh jabatan atau keagungan dengan amal tersebut”
Misalnya, kita ingin bersedekah dengan tujuan agar dapat diunggah di media sosial, supaya mendapatkan julukan sebagai orang yang ahli sedekah. Ini termasuk riya karena tujuan sedekahnya untuk mendapatkan pujian dari orang lain atau followernya. Celakanya, bila kita tidak tahu bahwa riya ini dapat menghapus pahala ibadah. Akibatnya, kita akan menyesal di hari kiamat nanti. Seperti dalam sebuah hadist yang dikutip oleh Al-Ghazali:
“Sesungguhnya ada seorang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk ke neraka. Ia protes: Ya Rab, aku mati syahid di jalan-Mu. Allah menjawab: Tapi, kamu ingin disebut sebagai orang yang berani, dan sudah dikatakan demikian. Itulah pahalanya”
Dari hadist ini, kita tahu bahwa amal selevel mati syahid pun masih tertolak karena mengandung unsur riya, bagaimana dengan sedekah kita yang tak seberapa itu? atau shalat kita yang tidak khusyu’ itu? Ya tentu saja akan tertolak jika mengandung unsur riya.
Kita harus mengetahui sumber-sumber riya. Ada lima sumber-sumber riya yang dihimpun oleh Imam Nawawi Al-Bantani dalam mensyarah kitab Bidayatul Hidayah:
Pertama, riya dalam urusan agama dengan perawakan tubuhnya seperti sengaja menguruskan badan agar dianggap sebagai orang yang rajin puasa; memucatkan mata supaya dianggap sebagai orang yang bertahajud atau beribadah semalam suntuk; atau sengaja tidak menyisir rambut agar dianggap sebagai orang yang sangat sibuk mengurus agama hingga tidak sempat menyisir rambut.
Kedua, riya dengan perilaku dan pakaian seperti berjalan menunduk dan tenang agar dianggap sebagai orang yang sopan; sengaja membuat bekas sujud di dahinya supaya dianggap sebagai orang yang ahli sholat; ataupun sengaja mengenakan baju sobek dan ditambal agar dianggap sebagai orang yang zuhud atau sufi.
Ketiga, riya dengan perkataan seperti berkata-kata bijak agar dianggap orang yang ahli hikmah; mengerak-gerakkan bibir dan berdzikir dihadapan orang banyak supaya dianggap sebagai ahli dzikir; atau membaguskan bacaan qur’an agar sebagai orang yang ahli qur’an bersuara bagus.
Keempat, riya dengan amal perbuatan seperti sholat di hadapan orang sengaja dipanjangkan berdiri, sujud, dan ruku’-nya; atau membaguskan shalatnya dengan berpura-pura tidak menengok dan merapihkan kaki-tangganya supaya dianggap orang yang khusyu’ saat shalat.
Kelima, Riya dengan pergaulannya seperti teman-temannya, murid-muridnya atau perkumpulannya. Misalnya, kita sengaja bersilaturahim ke orang alim, ahli ibadah, dan  pejabat supaya dianggap sebagai bagian dari orang yang punya kedudukan di dalam agama; atau kita sering menyebut syaikh/kiai supaya dianggap sebagai orang yang sering bertemu beliau dan mengambil manfaat darinya.
Lima inilah yang menjadi sumber-sumber riya itu muncul dalam setiap aktivitas dan gerak-gerik kita. Tidak ada yang tahu riya dalam perbuatan dan sikap kita kecuali diri kita sendiri dan Allah Swt. serta hamba-hamba-Nya yang terpilih. Sebaiknya kita cek and re-check dulu sebelum beramal apakah ada tujuan selain Allah? Jika ada unsur riya maka beramal dalam kesendirian itu lebih aman, karena akan memangkas potensi riya dalam diri kita.
Wallahu a’lam bisshowab.
Bagikan Artikel ini:

About Hamzah Alfarisi

Aktivis Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) dan Mudir Pesantren Mahasiswa Ma'had Jawi IPB University.

Check Also

penyakit hati

Jangan Hanya Fokus Kesehatan Fisik, Kenali 3 Penyakit Hati Yang Sering Menyerang

Apakah Anda tahu bahwa manusia itu terdiri dari unsur lahir dan batin? Apakah Anda tahu …

mencari sahabat di media sosial

Inilah 5 Kriteria untuk Mencari Sahabat di Media Sosial dalam Islam

Manusia secara tabiat memiliki kecenderungan untuk berkumpul dengan manusia lainnya. Hubungan pertemanan adalah salah satu …

escortescort