Alam Semesta
Alam Semesta

Tuhan menurunkan wahyu melalui para Nabi sebagai sarana manusia mengenal Tuhan. Seluruh semesta pun diciptakan sebagai bagian ayat-ayat Tuhan agar manusia berpikir dan mencari kebenaran. Manusia pun mulai mencari kebenaran baik melalui wahyu atau perenungan alam semesta.

Namun, ayat lain sebagai bukti kehadiran dan keagungan Tuhan yang tidak pernah disentuh adalah manusia itu sendiri. Manusia sejatinya adalah bagian dari bukti kehadiran dan keagungan Tuhan. Jika ingin mencari Tuhan, kenalilah diri sendiri.

Perlu kita sadari bahwasanya mengenal diri juga merupakan kunci seorang umat untuk mengenal Allah. Imam Ghazali berpendapat dalam kitab Kimiyaa’ al-Sa’adah“Pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan.” 

Pernyataan Imam Ghazali ini pun sejalan dengan  Surat Fusshilat ayat 53 juga ditegaskan:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى؟ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di dunia ini dan di dalam diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.”

Objek paling dekat untuk mencari keagungan Tuhan adalah diri manusia itu sendiri. Apa yang dimaksud mengenal diri sendiri bukan tentang pengetahuan lahiriyah, seperti anggota badan ataupun status sosialnya. Mengenali diri adalah di saat kita mampu untuk memilah, apa yang bersifat hakiki dalam diri kita dan mana yang tidak. Butuh perenungan diri agar kita mampu mengetahui siapa kita dan bagaimana kita.

Sebab sebelum kita temukan dan ketahui hal ini, maka tidak akan bisa kita mengenali diri sendiri dan menemukan letak kebahagian kita yang sebenarnya. Jiwa yang jernih akan memicu munculnya cahaya ilahi yang member petunjuk manusia akan jalan terbaik bagi langkah-langkahnya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (muhajadah) untuk untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-‘Ankabut: 69) 

Beberapa sifat yang ada dalam diri manusia juga yang wajib kita kenali adalah sifat-sifat seperti binatang, setan dan malaikat. Ketika kita merenungi diri kita, mustinya kita dapat mengetahui mana sifat dominan yang kita miliki dalam diri kita. Apabila merasa terlalu banyak sifat buruk yang ada pada diri kita, hendaknya kita mulai merubahnya semampu kita.

Menurut Imam Ghazali ketika kita sudah mengetahui apa yang kurang pada diri kita, hendaknya kita merubah dan melakukan tiga tahapan untuk memperbaikinya.

Pertama, mencari seorang guru yang mampu membimbing kita dalam hal kebenaran. Kebenaran memang bisa digapai dengan perenungan sendiri. Namun, ketika kita merasa tidak bisa melangkah sendiri carilah guru pembimbing agar tidak salah jalan, bahkan tersesat dalam pencarian.

Kedua, mencari seorang teman yang jujur dan berpegangan pada agama. Mintalah dia untuk senantiasa mengingatkan ketika diri mulai melakukan kesalahan. Teman adalah bagian dari diri kita. Teman yang baik akan menularkan kebaikan, begitu pula sebaliknya.

Ketiga, mau mendengarkan kritikan orang lain. Manusia memang diciptakan dua mata. Namun, keduanya tidak bisa melihat seluruh badan kita. Maknanya, sungguh kita tidak mungkin menyadari kelemahan dan kesalahan kita. Karena itulah pandangan orang lain terhadap diri akan membuat kita mengetahui apa yang kurang dari diri kita.

Orang yang mempunyai mata hati jernih mampu memetik pelajaran dari berbagai keburukan dirinya yang disebutkan oleh orang lain. Jangan terlalu sombong dengan tidak menerima masukan dan kritik dari orang lain.