Panggilan Pak Haji
Panggilan Pak Haji

Haji adalan panggilan prestisius yang disematkan hanya kepada seseorang seusai menunaikan ibadah haji. Seseorang yang sudah menunaikan ibadah ini, mendapat tempat dalam stratifikasi sosial keagamaan. Dihormati, diprioritaskan dan dimuliakan.

Secara simbolis, panggilan ini menggambarkan keshalihan prilaku dan pitutur seseorang. HR.Ibnu Hibban.07. Karena sepulang berhaji, “pak Haji” selalu berpenampilan bersih, berbaju gamis berwarna putih juga berkopyah putih. Tak heran, bila dalam momen momen keagamaan “pak Haji”  senantiasa mendapatkan panggung kehormatan.

Namun, tak sedikit orang salah alamat menyematkan panggilan terhormat ini. Gara gara hanya berbaju dan berkopyah putih, panggilan “pak Haji” sudah ia dapatkan. Lalu bagaimana hukumnya memanggil seseorang dengan sebutan “pak Haji”? sementara orang  yang di panggil “pak Haji” belum berhaji?

Sebuah panggilan atau nama merupakan sintesa dari wujud benda dengan karakteristik yang dimilikinya. Syaikh Hasan Ibn Muhammad Ibn Mahmud al-‘Aththar berkata: “Tidak boleh memberikan nama kepada benda di luar karakteristiknya”. Hasyiyah al-‘Aththar ‘Ala Syarh Jam’u al-Jawami’. 2/427.

Maka berarti pula, memanggil “pak Haji” kepada seseorang yang tidak memiliki karakter haji hukumnya juga tidak boleh. Tetapi bila seseorang yang dipanggil “pak Haji” itu memiliki karakteristik seperti layaknya orang yang menunaikan ibadah haji, maka hukumnya boleh memanggilnya “pak Haji”.

Syaikh al-Jamal yang memiliki nama lengkap Sulaiman Ibn ‘Umar Ibn Manshur al-‘Ujaili al-Mishri al-Syafii memapar, bahwa  jika panggilan “pak haji” itu dimaksudkan ta’dhim (memuliakan) sementara yang bersangkutan belum melaksanakan ibadah haji hukumnya haram. Alasannya, karena orang yang memanggil demikian itu dianggap telah melakukan kebohongan publik dan menjerumuskan orang yang dipanggil  “pak haji” terseret dalam tindakan fujur (keji) itu.

Tetapi bila panggilan “pak haji” itu dimaksudkan dengan pengertian haji secara bahasa yang berarti orang yang bermaksud ke Mekah misalnya, dan orang yang dipanggil “pak haji” itu memang akan menunaikan ibadah haji namun masih mununggu waiting list, maka panggilan “pak haji” itu tidak bermasalah alias boleh memanggilnya “pak haji”. Hasyiyah al-Jamal, 2/372

Nama memiliki kedalaman makna dalam ajaran Islam. Nama menjadi doa sekaligus harapan. Namun tidak berarti doa dan harapan itu dibungkus oleh sebuah kebohongan.

Nasehat Lukman kepada anaknya, patut untuk direnungkan

يا بني إياك والكذب ، فإنه شهي كلحم العصفور عما قليل يقلي صاحبه

“Wahai anakku, waspadalah terhadap tindakan berbohong, karena berbohong itu sama lezatnya dengan daging burung gereja yang jarang digoreng sebagai menu masakan oleh pemiliknya.Syu’ab al-Iman, al-Baihaqi, 10/402

Berbohong itu nikmat rasanya, apalagi sukses menjatuhkan rival. Berbohong itu nikmat, apalagi berhasil mendapatkan keinginan yang diinginkan, namun akibat dibalik itu teramat dahsyat sekali.

Susah mendapatkan kepercayaan dari orang lain, hidup penuh kegelisahan. Kecanduan untuk menutupi ketidakjujuran, sulit mendapatkan kesempatan untuk berkata jujur, adalah beberapa hal yang tidak akan pernah disadari oleh pelakunya. Maka, janganlah berbohong, walaupun hanya sekedar urusan panggil memanggil. Panggillah seseorang itu sesuai dengan status yang memang pantas disandangnya.