Islam Dan Seni
Islam Dan Seni

Islam adalah agama yang penuh dengan keindahan. Al-Qur’an pun diturunkan dengan bahasa yang sangat indah yang tidak bisa dibuat oleh sastrawan dan pujangga manapun ketika itu. Bahkan Allah menantang siapapun yang bisa menyamai apalagi mengalahkan susunan keindahan dan subtansi al-Qur’an.

Islam dan seni sebagai ekspresi keindahan menjadi sangat dekat sekali. Lalu, mengapa dalam bidang tertentu semisal seni melukis dan memahat menjadi cukup krusial dalam Islam. Seolah Islam agama yang membenci seni ekspresi lukisan dan patung dengan tujuan keindahan?

Dalam membuat kesenian melukis ataupun memahat patung merupakan problematis hukum yang masih menjadi pembicaraan hangat hingga saat ini di kalangan umat Islam. Padahal sangat cukup jelas bahwa melukis dan memahat patung pada masa sekarang memiliki tujuan yang sudah sangat berbeda dengan masa Rasulullah dahulu.

Pada masa Rasulullah, patung identik dengan sesembahan. Hadits yang melarang lukisan dan membuat patung itu memang ada, tapi konteks kala itu, manusia baru saja meninggalkan tradisi penyembahan terhadap berhala. Dan di masa sekarang ini sudah tidak ada lagi illat (sebab) itu.

Dalam konteks saat ini, Jika seni lukis dan pahatan itu tidak mengarah kepada penyembahan selain Allah, tetapi bagian eksrpesi keindahan kenapa cukup dipersoalkan. Nabi Sulaiman pun memerintahkan untuk membuat antara lain patung-patung (QS. Saba’ [34]: 13) yang tentunya bukan untuk disembah, tetapi antara lain untuk dinikmati keindahannya.

Di zaman sekarang, patung tidak selalu disembah. Membuat patung juga memiliki banyak tujuan seperti tujuan sebagai hiasan dan bagian dari seni. Patung pada masa lalu memiliki beberapa perbedaan dengan patung yang di buat di era sekakarang kini.

Memang tidak dipungkiri ada beberapa hadist yang melarang membuat patung dan gambar makhluk hidup, tapi hadist itu tidak bisa dipahami secara tekstual. Sebab, ada perbedaan konteks patung dan gambar pada masa sekarang dengan masa Rasulullah dulu.

Nabi memang menghancurkan patung yang berada di sekeliling Ka’bah ketika penaklukan Makkah. Tujuan ini sungguh jelas untuk membersihkan area suci itu dari penyembahan berhala. Tetapi, lihatlah kenapa ketika umat Islam menduduki mesir menduduki Mesir yang merupakan negeri dengan banyak seni patung peninggalan dinasti-dinasti Fir’aun, tetapi masih utuh hingga saat ini. Para sahabat tidak menghancurkannya karena ketika itu, ia tidak disembah tidak juga dikultuskan.

Perlu dipahami bahwa ada prinsip dalam ajaran agama Islam yang perlu dipahami. Hukum agama bisa berkaitan dengan ibadah, dan bisa juga berkaitan dengan non ibadah. Apabila berkaitan dengan ibadah maka hukumnya tidak bisa diubah sama sekali. Kalau non ibadah boleh dilakukan selama tidak ada larangan. Yang non ibadah itu juga ditinjau, mengapa dilarang?

Selain itu hukum agama juga mengacu pada illat nya. Jika illatnya ada maka hukum tetap ada. Dalam sebuah hadist disebutkan: “Hukum itu berputar bersama illatnya dalam mewujudkan dan meniadakan hukum”

Maka apabila melukis atau memahat patung memiliki tujuan untuk seni dan sebagai pengingat akan jasa-jasa seseorang dengan catatan bukan untuk di sembah, maka diperbolehkan. Seperti bisa kita lihat patung Jenderal Sudirman, dapat membantu kita mengingat bahwa tokoh dalam patung ini merupakan tokoh pahlawan yang memiliki jasa besar dalam Negara Republik Indonesia ini. Justru patung seperti ini akan mampu membuat orang yang melihatnya semakin mencintai negrinya.

Apabila di telaah masalah seni lukis dan patung memang ada beberapa dalil yang melarangnya, tapi kita juga tidak boleh melupakan substansi dari alasan pelarangannya tersebut. Jadi jika di masa inipun tujuan pembuataan patung atau lukisan untuk tujuan menyembah atau disembah orang, maka hukumnya tetaplah haram.

Perlu diingat bahwasanya seorang seniman hendaknya tetap mengindahkan nilai-nilai Islam dalam karyanya. Jangan sampai membuat patung atau lukisan yang dapat menimbulkan kemudaratan, seperti patung telanjang atau menggambar komik porno yang mampu menimbulkan syahwat bagi orang yang melihat dan membacanya.