pertemanan
pertemanan

Etika Melanggengkan Pertemenan Menurut Imam Ghazali

Manusia terlahir sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi satu sama lain. Dalam sebuah interaksi inilah kita akan menjalin sebuah pertemanan dan persaudaraan terhadap orang yang tidak sekandung dengan kita.

Dalam sebuah pertemanan akan terjadi sosialisasi, interaksi, komunikasi dan silaturahmi. Tentu, dalam proses itulah, seseorang akan menemukan yang lain adalah berbeda. Karena itulah, dibutuhkan kesetiakawanan dan kerelaan hati untuk menerima perbedaan yang ada pada diri mereka masing-masing. Bahkan kerelaan untuk ada ketika teman sedang membutuhkan.

Karena itulah, dalam menjalin ikatan pertemanan adan etika dan prinsip yang harus dilaksanakan. Dengan memerhatikan etika dalam pergaulan, akan membuat persahabatan menjadi semakin langgeng. Imam Al Ghazali menulis risalah Al Adab fid Din yang mengemukakan adab-adab apa saja yang perlu diperhatikan dalam menjalin pertemanan.

“Adab berteman, yakni menunjukkan rasa gembira ketika bertemu, mendahului beruluk salam, bersikap ramah dan lapang dada ketika duduk bersama, turut melepas saat teman berdiri, memperhatikan saat teman berbicara dan tidak mendebat ketika sedang berbicara, menceritakan hal-hal yang baik, tidak memotong pembicaraan dan memanggil dengan nama yang disenangi.”

Dalam kutipan Imam Al Ghazali tersebut, setidaknya terdapat tujuh adab yang perlu diperhatikan dalam menjalin sebuah pertemanan. Adab pertama, menunjukkan rasa gembira ketika bertemu. Adab ini akan mendorong pertemanan yang terjalin dengan baik. Karena seseorang yang merasa tidak cocok atau tidak menyukai pertemanannya maka ia tidak akan merasa senang ketika bertemu dengan temannya.

Teman yang baik tidak hanya menunjukkan rasa gembira, tetapi juga saling menjaga perasaan masing-masing ketika bertemu dengan menghindari sikap atau kata-kata yang tidak mengenakkan.

Kedua, mendahului mengucapkan salam. Seorang teman tidak akan merasa sungkan untuk mendahului beruluk salam meskipun ia memiliki kedudukkan social lebih tinggi. Seorang teman cenderung menempatkan diri setara dengan tidak memandang yang lain lebih rendah dari dirinya.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Ketiga: Solusi Pilihan Dilematis

Ketiga, ramah ketika duduk dan bercengkerama. Pertemanan merupakan hubungan yang menyenangkan karena tidak ada jarak. Dengan demikian, memungkinkan adanya keakraban dan ketulusan antar-teman. Bahkan ketika terjadi hal-hal yang khilaf, seorang teman akan cenderung mudah memaafkan karena umumnya tidak menginginkan pertemannnya menjadi renggang.

Keempat, melepas teman yang berdiri untuk berpamitan. Perilaku ini menunjukkan sebuah penghargaan terhadap teman. Rasa menghormati yang tulus akan mendorong rasa penghormatan terhadap teman dengan baik. Jika seorang teman berdiri untuk berpamitan, maka hendaknya kita sebagai teman melepas kepergiannya dengan cara yang baik. Rasa dihargai akan mampu memupuk persahabatan yang erat terjalin.

Kelima, memperhatikan saat teman berbicara dan tidak mendebat ketika sedang berbicara, terkadang seseorang hanya ingin mencurahkan masalahnya tanpa meminta pendapat terhadap kita sebagai seorang teman.

Sikap ini juga menunjukkan penghargaan atau penghormatan terhadap teman sebagai wujud dari kesetaraan. Dalam pertemanan kedua belah pihak tidak ingin saling menyakiti. Hal-hal yang bisa merusak pertemanan akan dihindari sebanyak mungkin.

Keenam, menceritakan hal-hal yang baik. Seorang teman tidak akan menceritakan sesuatu hal yang akan menyinggung temannya atau menumbuhkan rasa malu temannya. Dia akan lebih memilih menjaga perasaan temannya tanpa menyinggung perasaan. Apabila hal seperti ini bisa dijaga dengan baik tentu hubungan pertemanan akan langgeng, dan bahkan bisa berlanjut hingga ke anak cucu.

Ketujuh, tidak memotong pembicaraan dan memanggil dengan nama yang disenangi. Dengan tidak memotong pembicaraan saat teman bercerita atau ketika curhat masalahnya, akan membuat teman kita merasa di hargai dan tenang dalam mengeluarkan segala uneg-unegnya. Kita harus pahami, tidak semua orang yang bercerita itu menginginkan penilaian atau perdebatan tentang masalah yang dihadapinya.

Baca Juga:  Mengenal Syari’at Adzan (2) : Tata Cara dan Keajaiban Kalimat Adzan

Karena banyak orang yang merasa sekedar ingin mengeluarkan segala perasaan yang ada di dalam hatinya dan itu sudah dirasa cukup. Kita juga harus tau bahwa semua orang pastilah tidak akan menyukai omongannya itu di potong ataupun di debat.

Selain itu memanggil teman sebaiknya dengan panggilan yang ia senangi. Seseorang mungkin biasa dipanggil sesuai dengan pekerjaannya. Tetapi apabila panggilan seperti ini sebetulnya tidak dia senangi, maka sebaiknya dihindari.

Teman yang baik bisa melebihi kebaikan saudara sendiri. Hal ini sering terjadi di dalam masyarakat. Apabila ketujuh adab ini dapat dipraktikkan dengan baik, tentu hubungan antar teman akan terus berlanjut dengan baik.

Bagikan Artikel ini:

About Eva Novavita

Avatar of Eva Novavita

Check Also

singgasana sulaiman

Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (3) : Kisah Raja Sulaiman dan Ratu Balqis

Setelah Nabi Daud wafat, kini Nabi Sulaiman meneruskan tahta kerajaan dan memimpin Bani Israil. Seperti …

singgasana sulaiman

Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (2) : Nabi Sulaiman dan Perempuan Korban Pemerkosaan

Sebelumnya sudah diceritakan tentang kecerdasan Nabi Sulaiman dalam memecahkan masalah. Kisah kehebatan Nabi sulaiman tak …