bersalaman setelah shalat
bersalaman setelah shalat

Sunnah Dituduh Bid’ah (4) : Hukum Bersalaman Setelah Shalat

Salah satu anjuran dalam Islam adalah bersalaman ketika saling bertemu antara satu sama lain. Dalam riwayat Bara’ ra, Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Artinya: “Tidak ada dua orang muslim yang bertemu lalu bersalaman, kecuali bagi mereka berdua diampuni dosa-dosanya sebelum mereka berpisah” (HR. Abu Dawud)

Oleh Salafi Wahabi, kesunnahan bersalaman ini tidak bersifat mutlak, sunnah hanya bagi muslim yang belum pernah bertemu sebelumnya. Sebab itu, tidak sunnah lagi jika dilakukan bagi orang yang sudah saling kenal. Bahkan hukumnya bid’ah jika dijadikan tradisi, seperti yang biasa dilakukan mayoritas orang muslim setelah shalat. Dari sini lah kemudian Salafi Wahabi menganggap tradisi umat Islam bersalaman setelah shalat maktubah, hukumnya haram, karena termasuk perbuatan bid’ah sayyi’ah (bid’ah tercela).

Namun benarkah bersalaman setelah shalat maktubah hukumnya haram dan termasuk bid’ah sayyi’ah ?

Menarik jika kita melihat fatwa imam Nawawi dalam kitabnya al Masail al Mantsuroh yang membagi konteks bersalaman antar jama’ah setelah shalat selesai dilakukan:

Pertama, orang yang bersalaman sebelumnya memang belum pernah bertemu. Maka hukum bersalaman demikian inklud ke dalam hadits di atas, artinya sunnah dilakukannya. Kedua, bersalaman yang sebelumnya memang sudah kenal. Menurut imam Nawawi perbuatan ini masuk kategori bid’ah, tapi bukan bid’ah yang tercela karena tidak bertentangan dengan al Qur’an, al Hadits atau ijmak. Bid’ah yang demikian masih masuk kategori bid’ah hasanah. Apalagi hukum asal dari bersalaman memang sunnah, maka dengan dilakukan setelah shalat maktubah, berarti masih menjaga kesunnahan tersebut[1].

Sama juga dengan imam Nawawi, yaitu imam al Romli. Ketika ia ditanya tentang hukum bersalaman setelah shalat maktubah, ia menjawab:

Baca Juga:  Tidak Bisa Baca Fatihah Ketika Shalat, Ini Bacaan Penggantinya

بِأَنَّ مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا أَصْلَ لَهَا  وَلَكِنْ لَا بَأْسَ بِهَا

Artinya: “Sesungguhnya apa yang dilakukan umat manusia dengan bersalaman setelah shalat, tidak ada dalilnya sama sekali, akan tetapi itu tidak apa-apa dilakukan”[2]

Berangkat dari kedua pendapat di atas, sekalipun bersalaman setelah shalat ini tidak ada memiliki dalil khusus, tetapi hukumnya tidak sampai kepada haram. Artinya masih boleh dilakukannya.

Namun demikian, sebagian ulama lain, menilai bersalaman setelah shalat hukumnya tetap sunnah, karena ada riwayat dari Yazid bin al Aswad as Suwa’i ra:

أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ . قَالَ : ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ بِيَدِهِ يَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ ، قَالَ : فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِي ، فَوَجَدْتُهَا أَبْرَدَ مِنَ الثَّلْجِ ، وَأَطْيَبَ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ

Artinya: “Bahwa ia pernah shalat subuh bersama Rasulullah saw, lalu ia menyebutkan hadits tersebut.” Yazid ra berkata, “Kemudian orang-orang mengerumuni beliau, mereka berebut mengambil tangannya untuk kemudian mereka usapkan ke wajah-wajah mereka.” Yazid ra berkata, “Kemudian aku juga ikut mengambail tangan beliau dan mengusapkannya ke wajahku, maka aku merasakan kesejukannya melebihi sejuknya salju, dan wanginya melebihi harumnya wangi Misk” (HR. Ahmad bin Hanbal)

Secara khusus hadits ini terjadi di waktu subuh, tapi ulama mengqiyaskan shalat-shalat lain kepada shalat subuh ini, sebab sama-sama ibadah shalat.

Selain hadits tersebut juga ada hadits riwayat dari Judzaifah bin Yaman ra, yaitu:

إَنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ

Artinya: “Orang mukmin apabila saling bertemu lalu mengucakan salam padanya, dan mengambil tangannya kemudian bersalaman, maka bertaburan (hancur) dosa-dosanya sebagaimana bertaburannya daun-daun pepohonan” (HR. At Thabarani)

Secara mutlak hadits ini dapat diberlakukan bagi orang muslim yang sudah saling kenal atau masih belum, yang penting jika saling bertemu maka sunnah bersalaman karena dapat menghacurkan dosa-dosa dirinya.

Baca Juga:  Fikih Shalat Sunah (4): Shalat Menghormati Masjid

Dengan argumentasi berbeda, syeikh Abdurrahman bin Husain bin Umar Ali Ba’alawi mengutip pendapat sebagian ulama tentang hukum bersalaman setelah shalat maktubah hukumnya sunnah secara mutlak (baik sudah kenal atau pun tidak), sebab orang yang sedang shalat dianggap sama dengan orang yang tidak pernah kenal, karena ruhnya sama-sama konsentrasi sedang dalam satu jalan menuju Allah swt[3].

Jadi jelas, tidak ada seorang ulama dari bidang ilmu agama yang menilai bersalaman hukumnya bid’ah sayyiah selain Salafi Wahabi.

Wallahu a’lam


[1] Muhyiddin Syarf al Nawawi, al Masail al Mantsuroh, Hal 56

[2] Syihabuddin al Romli, Fatawa al Romli, Hal 386

[3] Abdurrahman bin Husain bin Umar Ba’alawi, Bughyah al Mustarsyidin, Hal  103

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

lagu ya thaybah

Lagu Ya Thaybah Syirik, Benarkah ?

Beberapa hari yang lalu, warganet dibuat gemas dengan ujaran artis Five Vi tentang lagu Ya …

aswaja

Benarkah Abu Hasan Al Asy’ari Meyakini Allah Swt Berada di Arsy ?

Sudah berabad-abad lamanya, umat Islam yang sampai pada kita saat ini mayoritas bermadzhab Asya’iroh, yaitu …