talqin mayit
talqin mayit

Sunnah Dituduh Bid’ah (3) : Hukum Talqin Mayit Setelah Pemakaman

Talqin adalah mendekte atau menuntun seseorang untuk mengucapkan sesuatu. Ulama’ membagi talqin kepada dua macam; Pertama, talqin ketika ruh akan dicabut dari jasad, kedua talqin ketika mayit selesai dimakamkan.

Pada macam yang pertama, tidak ada seorang pun dari umat Islam yang mempersoalkan hukumnya. Semua sepakat talqin ketika ruh mulai diangkat dari tubuh, hukumnya sunnah, karena ada hadits Nabi saw:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ

Artinya: “Tuntunlah orang-orang yang akan mati di antara kalian dengan ucapan la ilaha illallah” (HR. Muslim)

Baru ada perbedaan pendapat mengenai talqin mayit setelah dimakamkan. Menurut Salafi Wahabi talqin seperti ini tidak disyariatkan, karena tidak ada dasarnya. Bahkan lebih keras lagi, Komisi Fatwa Saudi dalam yang terkumpul dalam Fatawa Al Lajnah Ad Daimah menyimpulkan talqin mayit setelah dikuburkan termasuk perbuatan bid’ah munkaroh yang hukumnya haram.

Akan tetapi mayoritas umat Islam selain Salafi Wahabi, mengatakan talqin mayit setelah selesai pemakaman hukumnya tetap sunnah, dengan dua dalil:

1. Hadits tentang orang mati mendengar pembicaraan orang hidup

Dalam sebuah hadits diceritakan, tatkala Nabi saw mendatangi penguhuni sumur tempat orang-orang musyrik yang mati di perang Badar, lalu Nabi saw berkata: “Kalian telah mendapatkan apa yang dijanjkan Rabb kalian adalah benar”, salah seorang bertanya: Apakah anda memanggil mereka ?, Nabi saw menjawab:

مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لاَ يُجِيبُونَ

Artinya: “Tidaklah kalian lebih mendengar dari apa yang aku katakan dibanding mereka, hanya saja mereka tidak bisa menjawabnya” (HR. Bukhari)

Hadits ini memberikan memberikan penjelasan bahwa orang yang mati di dalam kubur mendengar terhadap apa yang dikatakan orang-orang yang masih hidup. Hanya saja, mereka tidak bisa membalasnya.

Baca Juga:  Sunnah Dituduh Bid’ah (4) : Hukum Bersalaman Setelah Shalat

Oleh sebab itu, maka orang mati yang berada di dalam kubur dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang disampaikan oleh orang yang masih hidup. Begitu juga talqin, yang dituntun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir.

2. Hadits riwayat at Thabarani

Dalam riwayat at Thabarani secara panjang lebar, Rasulullah saw menganjurkan ketika tanah kubur selesai diratakan, salah satu orang-orang yang menghadiri pemakaman untuk berdiri di bagian kepala, dan menuntun mayit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.

Menurut imam Nawawi dan juga ulama’-ulama’ yang lain, hadits ini dinilai dhoif, akan tetapi untuk fadhoilul a’mal, hadits ini boleh diamalkan, sebagaimana hadits-hadits dhoif lainnya. Di samping itu, dari aspek makna, hadits ini juga mendapat dukungan dari hadits lain yang shohih, sehingga derajat hadits ini naik menjadi hadits hasan.

Adapun hadits yang mendukung pemahaman terhadap hadits at Thabrani tersebut yaitu:

لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ

Artinya: (Tuntunlah orang-orang mati diantara kalian kepada ucapan lailaha illallah” (HR. Muslim)

Makna hakikat dari “mawta” adalah mati, yaitu hilangnya ruh. Manakala makna “mawta” diarahkan kepada orang yang hendak mati, berarti ini makna majaz. Oleh karena itu, manakala masih mungkin makna “mawta” diartikan kepada makna hakikat, maka tidak selayaknya dipalingkan kepada makna majaz. Dengan itu, maka hadits tersebut berkaitan dengan talqin untuk orang yang sudah mati, bukan yang akan mati.

Berangkat dari riwayat-riwayat di atas, maka para ulama’ menyatakan talqin setelah selesai penguburan hukumnya sunnah, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab al Adzkar An Nawawiyah.

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

lagu ya thaybah

Lagu Ya Thaybah Syirik, Benarkah ?

Beberapa hari yang lalu, warganet dibuat gemas dengan ujaran artis Five Vi tentang lagu Ya …

aswaja

Benarkah Abu Hasan Al Asy’ari Meyakini Allah Swt Berada di Arsy ?

Sudah berabad-abad lamanya, umat Islam yang sampai pada kita saat ini mayoritas bermadzhab Asya’iroh, yaitu …