Tuntunan Islam dalam Merespons Bencana Banjir

0
487
sumber foto: sindonews.com

Ibu Kota dan berbagai daerah sekitar kembali dilanda bencana banjir. Seolah kado awal tahun 2020 masyarakat dikejutkan dengan curah hujan yang cukup deras dan lama sehingga mengakibatkan banjir.

Definisi bencana dalam KBBI dirumuskan sebagai sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan yang disebabkan oleh alam. Biasanya bencana ini menyangkut segala kejadian yang menimpa dalam skala yang besar dan efek yang luar biasa. Dalam kategori bencana alam, kategori bencana dibagi dalam dua hal; bencana yang disebabkan oleh ulah manusia dan bencana sebagai proses alamiah.

Islam memberikan tuntunan kepada manusia dalam menyikapi dan menghadapi musibah. Sikap ini penting dipegang oleh umat Islam dalam melihat dan menghadapi bencana. Pertama, mengembalikan kepada Allah. Ekspresi sikap mengembalikan semua kepada Allah dilafalkan dengan kalimat Istirja‟.

Sikap ini secara ikhlas dan kepatuhan mengembalikan segala sesuatu termasuk musibah dan bencana yang menimpa kepada Allah swt. Umat Islam percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini adalah atas kehendak Allah swt.

Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang- orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah [2]: 155-157).

Artinya: “Barang siapa yang mengucapkan istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun) ketika tertimpa musibah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, dan Allah akan membalasnya dengan kebaikan, serta akan dianugerahi penerusnya (ananknya) yang saleh dan berbakti kepadanya.”

Kedua, bersikap sabar. Al-Qur‟an memberikan tuntunan agar kita bertakwa dan bersabar ketika ditimpa bencana.

Artinya : “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran [3]: 186)

Artinya : “Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 177).

Bencana dalam hal ini dipahami sebagai suatu proses Tuhan menguji kesabaran seorang hamba. Kesabaran yang akan menuntun manusia pada nikmat dan kebahagian yang telah dijanjikan oleh Allah. Allah mengatakan belum masuk surga seseorang, sampai ia bisa membuktikan kesabarannya (QS. Ali Imran [3]: 142).

Ketiga, bertawakkal. Sikap tawakkal adalah sikap menyerahkan segala sesuatu pada kekuasaan Allah. Umat Islam percaya semua yang terjadi adalah garis yang sudah ditentukan oleh Allah kepada seluruh manusia.  

Artinya : “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. al-Taubah [9]: 51).

Sikap tawakkal adalah modal bagi umat manusia ketika menerima takdir yang buruk. Tentu saja manusia bisa berusaha, tetapi sepenuhnya penentu utama dalam kehidupannya adalah takdir Tuhan. Sikap pasrah dan tawakkal merupakan obat penenang agar manusia tidak merasa bisa melampaui kekuasaan di luar batas kemampuannya.

Keempat, intropeksi diri dan kembali pada jalan Allah. Bencana kadang juga menjadi pengingat dan peringatan yang diberikan Allah kepada manusia. Umat yang beriman akan memahami peristiwa bencana untuk mengevaluasi kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan. Pintu taubat akan selalu terbuka dan Allah Maha mengampuni segala dosa.

Artinya : “Dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri- negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” (QS. al-Ahqaf [46]: 27)

Artinya : “Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. al-Sajdah [32]: 21).

Demikian Allah menuliskan dan menentukan sesuatu baik kesenangan maupun kesedihan, penderitaan maupun kebahagiaan. Manusia selalu berusaha melakukan yang terbaik tetapi pada titik akhir Tuhan adalah Maha Menghukumi segala sesuatu dengan bijak dan adil. Kebijakan dan keadilan ini yang menjadi Patokan bagi umat Islam untuk melihat makna di balik peristiwa, termasuk dalam bencana.

Tuhan sedang memberikan pelajaran, ujian, peringatan, siksaan maupun kasih sayang melalui bencana. Hanya orang yang beriman dan mengedepankan pandangan positif dan husnuddzon yang akan menemukan hikmah indah di balik bencana. Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah dari segala marabahaya dan fitnah.