i'tikaf di rumah
i'tikaf di rumah

Untuk Menghidupkan Ramadan, Bolehkah Wanita I’tikaf di Rumah?

Sepuluh malam terakhir bulan Ramadan lazimnya dimanfaatkan untuk meraih keutamaannya, yakni pembebasan muslim dari neraka. Menandakan bahwa dosa-dosa umat Islam diampuni oleh Allah apabila mengisis sepuluh malam ketiga bulan suci dengan ibadah, seperti membaca al Qur’an dan shalat tarawih serta shalat malam yang lain. Disamping itu, pada salah satu malam-malam tersebut adalah turunnya Lailatul Qadar menurut informasi para ulama. Malam yang lebih baik nilainya dari seribu bulan.

Nabi sendiri sangat menganjurkan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan sebagaimana hadits riwayat Ibnu Hibban.

“Siapa yang ingin beri’tikaf bersamaku, maka beri’tikaflah pada sepuluh malam terakhir”.

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid disertai dengan niat i’tikaf. Tujuannya tidak ada lain semata hanya beribadah kepada Allah.

Hukum asal i’tikaf adalah sunnah. Boleh dilakukan kapan saja, termasuk pada waktu-waktu diharamkannya shalat. Namun, apabila dinadzarkan hukumnya menjadi wajib. Demikian pula bisa haram, seperti perempuan dan budak yang beri’tikaf tanpa izin suami/tuannya. Hukumnya juga bisa makruh, seperti perempuan yang i’tikaf sementara ia berpotensi menimbulkan fitnah meskipun mendapat izin.

Dengan demikian, ada sedikit problem bagi perempuan dalam hal i’tikaf ini. Langkah paling aman bagi kaum hawa adalah i’tikaf di rumah. Tetapi, apakah ada legalitas hukum fikih mereka i’tikaf di rumah? Bukankah i’tikaf harus di masjid?

Syaikh Abdul Karim bin Muhammad al Rafi’i, masyhur dengan Imam Rafi’i, dalam kitabnya Al Aziz Syarah al Wajiz menulis, kalau di rumah ada tempat yang diperuntukkan untuk shalat, kemudian perempuan (istri/anak) i’tikaf di tempat tersebut, maka ada dua pendapat.

Pertama, menurut qaul jadid (pendapat teranyar Imam Syafi’i), Imam Malik dan Imam Ahmad hukumnya tidak sah. Alasannya, masjid rumah (tempat khusus untuk shalat tersebut) bukan masjid secara hakiki. Mereka menguatkan pendapatnya dengan adanya fakta bahwa istri-istri Nabi melakukan i’tikaf di masjid.

Baca Juga:  Covid- 19 Belum Selesai, Mesir Larang I'tikaf dan Iftar di Masjid Saat Ramadhan

Pendapat kedua, menurut qaul qadim (pendapat pertama Imam Syafi’i) dan Imam Abi Hanifah hukumnya sah. Alasannya, tempat khusus untuk shalat di rumah tersebut merupakan tempat shalat bagi kaum hawa, seperti masjid yang menjadi tempat shalat paling ideal bagi laki-laki.

Lanjut Imam Rafi’i, bahkan ketika laki-laki i’tikaf di tempat khusus untuk shalat di rumah juga ada dua pendapat. Dalilnya, bahwa tempat shalat paling utama bagi-bagi laki-laki adalah dikerjakan di rumahnya. Karenanya, semestinya i’tikaf sama dengan shalat sunnah karena hukumnya sama-sama sunnah.

Bolehnya laki-laki maupun perempuan i’tikaf di tempat atau ruangan yang dikhususkan untuk shalat di rumahnya masing-masing ternyata didukung oleh beberapa ulama kalangan madhab Maliki dan ulama-ulama pengikut Imam Syafi’i. Seperti diterangkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim li al Nawawi.

Maka, berdasarkan pada penjelasan ini, perempuan bahkan laki-laki boleh melakukan i’tikaf di rumah masing-masing dengan syarat ada tempat atau ruangan yang khusus diperuntukkan untuk shalat. Istilah yang dipakai dalam fikih adalah masjid al bait, atau masjid di rumah.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

keragaman

Dalil Toleransi Beragama dalam Al Qur’an : Kemajemukan adalah Kehendak Ilahi

Hari ini masyarakat terkadang begitu alergi dengan perbedaan. Politisasi identitas semakin menguat dan mudah menggolongkan …

ratu elizabeth

Ratu Elizabeth II Meninggal, Bolehkah Mendoakan dan Menghormati Jenazah Non Muslim?

Kepergian Ratu Elizabeth II menyisakan duka mendalam bagi rakyat Inggris. Jutaan rakyat Inggris larut dalam …