petugas kesehatan menyuntikkan vaksin covid kepada santri di pondok
petugas kesehatan menyuntikkan vaksin covid kepada santri di pondok

Vaksinasi Santri, Upaya Ikhtiar Bersama Lindungi Para Calon Dai Masa Depan

Jakarta – Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan tempat menggembleng kader-kader generasi muda untuk menjadi calon pemimpin yang berakhlaqul karimah dan cinta terhadap tanah air. Cinta tanah air merupakan satu kesatuan yang diajarkan di pesantren sehingga santri yang kembali ke masyarakat selalu memegang teguh persatuan dan kesatuan disamping mengamalkan ilmunya.

Kecintaan santri terhadap bangsanya telah terpatri secara mendalam, sebab sejak mulai masuk pesantren selalu diajarkan untuk taat kepada Allah, Rasulullah dan pemimpin. Hubbul Wathan Minal Iman bahasa santri ketika berbicara tentang bangsa dan negara. Maka pemerian vaksinasi dikalangan pesantren menjadi mutlak untuk dilakukan.

Seperti yang sedang terjadi di Pondok Pesantren Al Islah Tajug, Sudimampir, Balongan, Indramayu, Jawa Barat, seorang santri memejamkan mata seraya menahan rasa sakit saat lengah kirinya disuntik vaksin Covid-19 oleh petugas kesehatan, Kamis, 29 Juli 2021.

Terpisah puluhan kilometer, wajah penuh semangat tergambar dari seorang santri Pondok Pesantren Darunnajah, Pesanggrahan, Jakarta, yang juga mendapatkan vaksinasi Covid-19. Vaksinasi yang diberikan kepada para santri itu menjadi ikhtiar pemerintah menekan penyebaran khususnya klaster pesantren yang menjadi pencetak para dai di masa depan.

Pondok pesantren merupakan ujung tombak ketahanan kita, karena di sinilah para generasi muda dididik untuk aspek religius, kemudian nasionalis dan toleran. Pernyataan dari Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan menjadi jawaban mengapa pondok pesantren menjadi salah satu prioritas utama BIN dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

Mantan kapolda Bali dan Jambi itu pun sempat melakukan peninjauan langsung pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi para santri di Pondok Pesantren Ummul Qura, Jalan Pondok Cabe Raya, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

“Ketahanan NKRI kita ada di sini, sehingga ini menjadi prioritas sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo terkait vaksinasi di kalangan pelajar,” kata Budi, Ahad (1/8).

Sebanyak 7.000 vaksinasi yang digelar BIN tersebut tersebar di wilayah Banten, Jawa Barat, hingga Jawa Timur. BIN masuk di beberapa titik di provinsi Banten, yaitu di Tangerang dan Pandeglang. Beberapa pesantren di Bekasi juga menjadi target vaksinasi. “Termasuk di Jawa Timur, ada lima pondok pesantren yang kita datangi untuk melakukan program itu,” kata Wakil Kepala Polri periode 22 April 2015 sampai 9 September 2016 itu.

Alasan dipilihnya ketiga wilayah itu karena berada di kawasan zona hitam penyebaran Covid-19. Spot-spot tersebut dipilih BIN karena lonjakan angka positif ratenya cukup tinggi. “Dan sudah menjadi zona hitam sehingga kami masuk di tiga titik tersebut,” ujar pria berkumis ini.

Saat menemani Budi Gunawan, Pimpinan Ponpes Ummul Qura KH Syarif Rahmat mengucapkan terima kasih kepada BIN dan semua pihak yang bahu-membahu berperang melawan virus corona. Ia berharap kepada para kiai, ulama, guru, seluruh pendidik, dan masyarakat, bahu membahu menolong dan menyampaikan bahwa saatnya kita berperang. “Tidak boleh berbeda pendapat,” kata Syarif.

Dukungan para ulama, pimpinan agama, dan pengasuh pondok pesantren memang diperlukan untuk mempercepat vaksinasi Covid-19, khususnya di lingkungan pesantren. Apalagi penerima vaksin diklaim memiliki peluang lebih besar untuk pulih ketika terinfeksi Covid-19, dibandingkan dengan yang tidak menjalani vaksinasi.

Seperti yang diuraikan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio, walaupun penerima vaksin bisa kembali terinfeksi, tetapi sebagian besar infeksinya tidak berat dan cepat sembuh. “Itu manfaat dari vaksin juga,” kata dia akhir Juli lalu.

Baca Juga:  71,56 Persen Ulama Menerima Konsep Negara Bangsa

Urgensi penggunaan vaksin Covid-19 karena memberikan sejumlah manfaat,, di antaranya melindungi diri dari infeksi Covid-19 karena jika sudah memiliki antibodi maka diharapkan tidak terjadi infeksi meski terpapar virus. Namun, jika tetap terinfeksi Covid-19 meski sudah mendapat vaksin, maka gejala klinis yang diderita tidak menjadi berat sehingga bisa mencegah morbiditas.

Manfaat lain adalah jika morbiditas atau kesakitan yang berat bisa dicegah, maka dapat mencegah kematian. “Tentu kalau morbiditas bisa dicegah tidak berat tentu kita bisa mencegah mortalitas atau kematian,” tutur Amin.

Diharapkan orang yang sudah divaksinasi tidak menjadi sumber penularan bagi orang lain sehingga bisa memutuskan rantai penularan. Dengan periode penyembuhan yang lebih cepat pada orang yang sudah divaksinasi, maka periode menularkan Covid-19 ke orang lain juga akan semakin kecil. Karena itu, menurut Amin penting untuk mengikuti vaksinasi dalam rangka mengurangi angka kesakitan dan kematian. “Serta menciptakan kekebalan kelompok.”

Guna menciptakan kekebalan kelompok, khususnya di lingkungan pesantren, dukungan dari para ulama memang diperlukan demi melindungi para calon dai di masa depan. Apalagi mengingat sepanjang pandemi setidaknya 900 ulama di seluruh Indonesia meninggal dunia.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang prihatin terdorong untuk mengambil langkah lebih jauh dalam upaya membantu mengatasi pandemi Covid-19 dan dampaknya. Ketua Gerakan Nasional (Gernas) Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi MUI, Lukmanul Hakim, mengatakan, MUI berkomitmen mengambil langkah lebih jauh dan lebih besar dari apa yang sudah dilakukan MUI. Sehingga MUI meluncurkan Gernas Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi MUI.

Lukmanul berkata, korban pandemi ini sudah jutaan yang meninggal, sehingga perlu ada arahan pertemuan wakil presiden dengan pimpinan MUI, para alim ulama, tokoh agama, habib pada 12 Juli adalah sebuah momentum bersama. Saat ini yang harus menanggulangi pandemi Covid-19 dengan berbagai dampaknya itu bukan pemerintah, bukan TNI-Polri, bukan ormas.

“Tapi kita harus bersama-sama menghadapi pandemi ini,” kata Lukmanul saat peluncuran Gernas Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi, Selasa (3/8).

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD berkata, peran para ulama saat dalam proses pemberian vaksin di lingkungan pesantren adalah untuk mendukung peningkatan implementasi kesehatan. Menurut Mahfud, memperkuat kolaborasi bekerja secara kolektif berdasarkan kesadaran bersama adalah langkah yang cukup efektif.

Ia berkata, tidak bisa ormas-ormas keagamaan dan berbagai kekuatan masyarakat dibiarkan bekerja sendiri. “Mari kolaborasinya diperkuat,” tutur Mahfud dalam Silaturrahim Virtual bersama Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, BNPB, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dengan Alim Ulama, Pengasuh Ponpes, Pimpinan Ormas Lintas Agama, dan Forkopimda se-Jawa Tengah, Sabtu (31/7).

Kementerian Agama (Kemenag) memang saat ini sedang mengupayakan agar ponpes, rumah ibadah, dan lembaga pendidikan keagamaan lainnya bisa dioptimalkan dalam percepatan vaksinasi dan difungsikan sebagai lokasi sentra vaksinasi. “Pemerintah sedang menggerakkan percepatan vaksinasi,” kata Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi, dalam pesannya, Kamis (29/7).

Ia menilai peran pesantren dan rumah ibadah dalam upaya percepatan vaksinasi sangat sentral di tengah masyarakat. Ia mencontohkan jika vaksinasi dilakukan di lingkungan pesantren di seluruh Indonesia, maka bisa menyasar para santri mulai dari usia 12 tahun, termasuk warga sekitar.

Di sisi lain, para penyuluh agama yang sebelumnya diterjunkan untuk menyosialisasikan manfaat vaksin, diminta menggandeng para ulama dan tokoh masyarakat sampai tingkat majelis taklim yang menjadi binaan mereka. Ia berpendapat, pesantren sangat strategis dalam percepatan vaksinasi untuk anak-anak. “Ribuan bahkan mungkin jutaan santri, usianya di atas 12 tahun,” kata Zainut.

Kementerian Kesehatan mencatat hingga 2 Agustus 2021, jumlah rakyat Indonesia yang sudah dua kali mendapat suntikan vaksin Covid-19 hampir 21 juta jiwa, tepatnya 20.934.425 orang. Angka ini bertambah 261.346 orang dari hari sebelumnya.

Baca Juga:  Warga Ragu Status Halal Vaksin Covid-19, Masjid Dijadikan Pusat Vaksinasi di Inggris

Jumlah warga yang telah mendapat suntikan dosis pertama vaksin Covid-19 pada Senin bertambah 208.315 orang menjadi seluruhnya 47.686.483 orang. Pemerintah menargetkan bisa melakukan vaksinasi Covid-19 pada 208.265.720 penduduk guna mewujudkan kekebalan komunal terhadap penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona tipe SARS-CoV-2.

Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dimulai dari sumber daya manusia bidang kesehatan dan kemudian dilanjutkan pada pekerja sektor pelayanan publik dan warga lanjut usia (lansia), warga yang berusia 60 tahun ke atas. Setelah itu pelayanan vaksinasi diperluas ke warga pra-lansia (50 tahun ke atas) hingga anak-anak berusia 12 sampai 17 tahun, termasuk para santri di berbagai ponpes.

Vaksinasi di pondok pesantren tidak hanya digelar oleh BIN. Pimpinan Cabang Nahdatlul Ulama (PCNU) Tangsel Peduli Kemanusiaan juga ambil bagian dalam ikhtiar lahir dengan mengadakan vaksinasi Covid-19 di lingkungan ponpes. Pada 2 Agustus 2021, program vaksinasi “Jaga Kiai” itu digelar di Pondok Pesantren Al Tsaniyyah.


Ketua Satgas NU Tangsel Peduli Kemanusiaan, Ahmad Syamsuddin, program vaksinasi itu berkat kerja sama PCNU Kota Tangsel, Polres Tangerang Selatan, BAZNAS RI, NU Care-LAZISNU, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Tangerang Selatan RMI Tangsel, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU), Banser, dan HPN. Sebanyak 750 peserta yang berasal dari pimpinan pondok pesantren (kiai), santri, wali santri para ustadz, dan masyarakat sekitar Ponpes Al Tsaniyyah, divaksinasi.

“Alhamdulillah antusiasme masyarakat sangat baik. Sejak pagi hari peserta vaksin sudah antri dengan tertib, kegiatan terlaksana dengan lancar dan saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah bersama dalam mendukung kegiatan ini,” ujarnya.

Ahmad Syamsuddin mengungkapkan bahwa program ini dilaksanakan dalam rangka menjaga kiai, santri, wali santri dan masyarakat sekitar pesantren. Ini bagian dari salah satu ikhtiar. “Kiai dan santri adalah aset bangsa ini, semoga kita bisa terus konsisten melanjutkan program-program kemanusiaan seperti ini,” ujar Syamsuddin.

Dalam catatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), pondok pesantren berkontribusi terhadap penambahan kasus Covid-19 di Indonesia. Pakar Kesehatan Zaenal Abidin menyebut, ada sejumlah hal yang membuat pencegahan penularan Covid-19 sulit di Ponpes. Salah satunya santri biasa tidur secara bersama-sama dalam satu kamar.

Kondisi ini yang dikhawatirkan Zaenal memudahkan penularan Covid-19. Dalam satu kamar tidur di ponpes bisa diisi 10 orang. Makan, mengaji, belajar dan main bersama-sama. “Jadi kalau ada satu anak atau ustad atau siapa saja yang kena lalu bawa masuk ke pondok maka yang lain akan ketularan,” kata Zaenal seperti dilansir dari laman Republika.co.id.

Ponpes pun menurut mantan ketua umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2012-2015 itu bisa menangani penyebaran Covid-19 dengan sejumlah cara. Pertama, setiap orang baru yang masuk atau berkunjung ke ponpes wajib memiliki keterangan negatif covid. Kemudian warga ponpes yang ke luar dan masuk juga perlu pemeriksaan berkala. “Warga pondok secara keselurhan perlu juga periksa berkala,” ujar Zaenal.

Baca Juga:  Tim Densus 88 Geledah Ponpes di Sleman, Petugas Sita Sejumlah Buku, Komputer hingga Anak Panah Diruangan Pengurus

Ponpes dan dinas kesehatan setempat pun diminta memperkuat sinergi. Dengan begitu, maka perwakilan dinkes atau puskesmas terdekat bisa memantau kesehatan ponpes secara berkala, terutama terkait penularan Covid-19. Bila ada warga ponpes yang dinyatakan positif segera lapor untuk tindak selanjutnya. “Atau petugas sendiri akan menyarankan tindakan terbaik selanjutnya,” ucap Zaenal.

Relawan gerakan LaporCovid-19 mendapati kasus klaster Covid-19 di pesantren sudah beberapa kali terjadi. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar 400 santri terkonfirmasi positif Covid-19 pertengahan Februari 2021.

Tahun lalu, 550 santri dan guru di sebuah pesantren di Kabupaten Kuningan, Jabar, juga terpapar Covid-19. Tim LaporCovid-19 mencatat, hingga kini terdapat 8.291 kasus positif Covid-19 di lingkungan pesantren.

Satu kasus di antaranya meninggal dunia. Data tersebut belum mencakup kondisi keseluruhan karena tidak semua pesantren melaporkan kasus Covid-19. Kasus positif di pesantren lebih tinggi dibandingkan sekolah yang mencapai 1.142 orang.

MUI melihat dampak pandemi Covid-19 ini sangat besar, sehingga jika tidak diatasi bersama maka tidak akan selesai-selesai. Semua harus sepakat untuk berjalan bersama-sama antara pemerintah, ulama dan umat dalam mengatasi pandemi ini.

“Kami juga menyaksikan kemarin dalam masa tinggi-tingginya (penularan) Covid-19, pertolongan pertamanya sangat sulit sekali (didapat), kami menyaksikan bagaimana tokoh ulama kesulitan mendapatkan oksigen,” ujarnya.

Selain itu kebutuhan oksigen yang selama ini tidak pernah diperhitungkan, ternyata pada masa pandemi ini menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kondisi ini menggugah MUI untuk melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapi hari yang akan datang.

Sehingga gerakan Gernas Penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi juga fokus terhadap penanggulangan Covid-19 dari mulai pertolongan pertama. “Isolasi mandiri sampai kepada pemusaran jenazah,” ucap dia.

Program vaksinasi di lingkungan pesantren memang perlu mendapatkan dukungan dari para ulama. Peran serta ulama membentuk kesadaran untuk kepentingan bersama bisa mencontoh langkah KH Ahmad Mustofa Bisri yang sudah jauh-jauh hari mengikuti program vaksinasi yang digelar Pemerintah Kabupaten Rembang.

Ulama karismatik yang akrab disapa Gus Mus itu menyampaikan vaksinasi Covid-19 bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, melainkan juga menghindarkan orang lain dari tertular virus Covid-19.

“Saya alhamdulillah sudah selesai divaksin. Ternyata tidak terasa apa-apa. Enak, alhamdulillah. Mudah-mudahan sehat. Mudah-mudahan semuanya divaksin,” ujar Gus Mus, 11 Maret 2021.

Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin itu berseru agar masyarakat secara umum untuk ikut program vaksinasi. Menurutnya, vaksin penting, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga orang lain agar tidak tertular.

Ia berharap vaksinasi bisa menjadi sebab tidak ada lagi masalah terkait pandemi. Sehingga, masyarakat bisa hidup normal kembali seperti sebelumnya. Dengan kembalinya kehidupan normal, ia menekankan masyarakat bisa kembali bersilaturahim dengan saudara, tetangga, maupun kolega, serta bisa bekerja dengan lebih baik.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Dana dikorupsi berjamaah pembangunan Masjid Raya Palembang mangkrak

Dana Pembangunan Masjid Sriwijaya Dikorupsi Berjamaah, MUI: Di Luar Batas Moral dan Religiusitas

Jakarta – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Selatan (Sumsel) baru saja menetapkan tiga tersangka baru korupsi …

000101500 1632234054 830 556

Isu Perpecahan Mencuat di Tubuh Petinggi Taliban, Berikut Laporan Aljazirah

KABUL – Taliban menguasai Afganistan setelah berhasil memasuki ibu kota dan menduduki istana kepresidenan di …