Virus Corona, Social Distancing dan Pentingnya Kecerdasan Beragama

0
760
social distancing
sumber foto: kompas

Kebijakan pencegahan virus corona dengan social distancing berimbas pada aktfiitas keagamaan. Umat beragama harus cerdas dalam memahami upaya ini.


Masyarakat tidak hanya diuji daya tahan tubuhnya dengan kehadiran virus corona, tetapi juga daya tahan imannya. Betapa tidak virus ini bukan hanya memberikan dampak sosial, ekonomi dan politik, tetapi juga dampak keagamaan.

Hadirnya virus ini secara nyata mendorong seseorang untuk melakukan social distancing (menjaga jarak interaksi) untuk mengurangi potensi keterpaparan. Akibatnya, perilaku ini akan berdampak tidak hanya aktifitas sosial dan ekonomi, tetapi juga aktifitas keagamaan.

Beberapa negara muslim telah mengambil langkah bijak termasuk mengatur persoalan aktifitas keagamaan. Bukan langkah mudah, misalnya, Arab Saudi haru mengeluarkan kebijakan menutup sementara umroh. Itu kebijakan besar yang melibatkan seluruh umat.

Kebijakan lain yang tidak kalah hebatnya adalah beberapa negara yang mengurangi aktifitas berjamaah bahkan shalat jumat. MUI pun telah mengeluarkan fatwa tentang ibadah dalam situasi wabah corona. Semua dilakukan untuk melakukan social distancing untuk mereduksi kerentanan pengaruh virus corona dari orang ke orang.

Lalu, timbul pertanyaan yang terlihat amat mencerminkan ketaatan dan kesholehan ; lebih takut mana kita pada virus corona atau kepada Allah? Pertanyaan itu timbul dengan membandingkan ancaman virus corona dengan ketaatan beribadah. Mungkin ini wajar dengan semangat keagamaan yang dimiliki, tapi entah ilmu yang dimiliki.

Persoalannya adalah menghadapi virus ini tidak hanya perlu ketahanan tubuh, tetapi juga ketahanan iman dan sekaligus kecerdasan beragama. Beragama membutuhkan ilmu, bukan sekedar semangat membabi buta. Beribadah tentu saja sangat membutuhkan ilmu, bukan sekedar beribadah.

Pertanyaan naif lebih takut ke virus corona dari pada Allah sebenarnya pernyataan orang beragama, tetapi tidak berilmu. Dalam beribadah juga membutuhkan ilmu agar tidak seperti ibadahnya orang bodoh yang mudah diganggu setan atas ketidaktahuannya dalam beragama.

Allah selalu memberikan kemudahan kepada hambanya dalam beragama. Dalam kondisi sakit, perjalanan, dan kondisi lain yang menyusahkan Allah memberikan rukhshoh (keringanan). Terma dan istilah ini sudah banyak ditemukan dalam Qur’an dan hadist. Lalu, ijtihad ulama berdasarkan dua sumber tersebut mengambil maqashid Syariah dengan mendialogkan dengan kondisi kontemporer.

 Karena kondisi selalu berubah dan masalah manusia semakin bertambah, ibadah dan ketaatan kepada Allah tidak boleh berubah. Ketaatan dan ibadah itu tidak boleh ditinggalkan, tetapi dimudahkan. Kata kuncinya adalah dimudahkan bukan ditinggalkan.

Karena itulah dalam Islam beribadah dalam kondisi sakit, perjalanan, mudharat, bahkan dalam kondisi perang diatur. Ibadah dalam kondisi perang pun tidak ditinggalkan tetapi diatur dengan istilah shalat khauf. Orang yang sakit pun diatur dari skala sakit ringan hingga tidak bisa bergerak. Tentu Islam tidak akan memberatkan hambanya dalam kondisi tidak normal harus shalat seperti biasanya.

Bahkan dalam Islam, kondisi mudharat yang dapat menggangu keamanan jiwa diperbolehkan untuk melakukan sesuatu bahkan perilaku yang dilarang dalam kondisi normal. Dalam kaidah fikih misalnya ditemukan al-dlarurat tubihu al-mahdhurat : “Kondisi darurat memperkenankan hal-hal yang dilarang”.

Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan dan ibadah tidak ditinggalkan tetapi menemukan bentuk kemudahan. Seperti kasus virus corona dengan pola pencegahan social distancing bukan meninggalkan ibadah, tetapi memudahkan.

Tentu saja ketika mudharat dan sebabnya telah hilang hukum akan kembali pada sedia kala bukan lantas berlarut-larut menikmati keringanan tersebut. Kebijakan meniadakan sementara berjamaah dan shalat jumat di beberapa negara sebagai bentuk social distancing merupakan bagian dari ijtihad orang berilmu dalam beribadah.

Hanya pikiran orang yang tidak memiliki keilmuan cukup dan kecerdasan yang memadai yang mengatakan lebih takut virus corona dari pada Allah. Karena itulah, beragama tidak cukup mengandalkan ketaatan, tetapi kecakapan ilmu untuk beribadah.