1575435952 Wakil Menteri Agama Zainud Tau
1575435952 Wakil Menteri Agama Zainud Tau

Wamenag; Pakar Australia Keliru Memahami Keberagamaan di Indonesia

JAKARTA – Salah seorang dosen dan peneliti dari Australian National University (ANU) Greg Fealy mengatakan bahwa Indonesia tidak ramah terhadap keberagamaan dan refresif terhadap kaum Islamis. Penilaian yang didasarkan pada penglihatan terkait celana cingkrang dan cadar dikalangan Aparatur Sipil Negara (AS) yang tidak diperbolehkan menggunakan cadar.

Penilaian Greg yang cenderung dangkal karena tidak memahami secara komprehensif tentang apa yang dinilai. Wakil Menteri Agama (Wamenag), KH. Zainut Tauhid Sa’adi menegaskan bahwa Greg Fealy keliru dalam menilai keberagamaan di Indonesia.

“Penggunaan istilah ‘Islamisme’ oleh Greg Fearly keliru atau kurang tepat. Apalagi mencontohkannya dengan celana cingkrang dan cadar,” kata Kiai Zainut melalui pesan tertulis seperti dikutip dari laman Republika.co.id, Selasa (29/9).

Dia mengatakan, pemerintah Indonesia mendukung penuh segala bentuk aktivitas umat beragama yang mengarah pada penguatan pemahaman, pengamalan, dan penghayatan nilai-nilai agamanya. Tidak hanya Islam tapi semua agama.

Menurutnya, Indonesia bukan negara agama, juga bukan negara sekuler. Indonesia adalah negara yang masyarakatnya dikenal sangat religius. Karenanya nilai dan ekspresi keberagamaan sangat mewarnai relasi antara agama dan negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu tidak mungkin dibatasi, apalagi diingkari dan direpresi.

“Upaya meningkatkan kehidupan keagamaan justru terus dilakukan oleh negara melalui Kementerian Agama yang bersinergi dengan ormas, majelis, dan lembaga keagamaan,” ujarnya.

Wamenag mengatakan, di era globalisasi, Indonesia dan juga negara lainnya, menghadapi tantangan infiltrasi paham transnasional, baik dalam bentuk liberalisme, sekularisme, maupun ekstrimisme.

Infiltrasi nilai-nilai yang berpotensi merusak tatanan kemasyarakatan Indonesia yang religius inilah yang perlu diantisipasi. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah penguatan toleransi dan pengarusutamaan moderasi beragama.

“Jadi bukan Islamisme, yang kita mitigasi dan antisipasi adalah berkembangnya paham dengan tiga karakter yaitu anti-Pancasila dan NKRI, ekstrem dan anarkis sehingga sampai menistakan nilai-nilai kemanusiaan, serta intoleran, terjebak pada klaim kebenaran dan fanatisme kelompok,” jelas Wamenag.

Baca Juga:  Lagi Virus Corona jangkiti Santri Ponpes Kuningan, 46 Santri Positif COVID-19

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan pemerintah Indonesia berdasarkan peraturan perundang-undangan. Maka penilaian Greg Fearly terkait tindakan represif jelas tidak tepat.

Wamenag menambahkan, kerukunan umat beragama di Indonesia yang harus terus dirawat, dijaga, dan ditingkatkan. Hasil survei Balitbang-Diklat Kemenag, sejak 2015-2019 angka rata-rata indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) selalu berada di atas angka 70 atau pada kategori tinggi. Indeks KUB tahun 2019 pada angka 73,83.

“Indeks ini memperlihatkan bahwa kondisi kerukunan umat beragama di Indonesia adalah baik, dan itu yang terus dijaga pemerintah dan masyarakat,” kata Wamenag.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Kepala BNPT Komjen Pol Dr Boy Rafli Amar MH saat RDP dengan Komisi III DPR RI Rabu September

Anggota MIT Tambah Jadi 12 Orang, Kepala BNPT: Ada 17 Desa di Poso Penceramahnya Dukung Ali Kalora

Jakarta – Jumlah anggota kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang semua tinggal 6 orang, …

Komjen Boy Rafli Amar

BNPT Tanggapi Positif Peringatan Jepang Terkait Potensi Aksi Terorisme di Tempat Ibadah

Jakarta – Jepang mengeluarkan peringatan potensi ancaman terorisme di Indonesia dan lima negara ASEAN yaitu …