Di Madinah, Nabi Muhammad SAW tidak hanya sebagai pemimpin agama, tetapi juga memiliki kedudukan sebagai kepala pemerintahan. Dengan kesibukan beliau dalam menjalani dua peran yang sama-sama penting itu, Nabi tentu membutuhkan para juru tulis untuk membantu penulisan wahyu dan sekretaris kenegaraan yang bertugas menulis serta membalas surat untuk keperluan kenegaraan dan juga menulis hal yang berhubungan dengan administrasi Negara (Madinah).

Zaid bin Tsabit adalah salah satu dari sekian banyak sekretaris Nabi. Awalnya Zaid mengajukan diri sebagai tentara muslim untuk menjadi mujahid dalam menghadapi tentara Quraisy di Uhud. Sambil menghampiri nabi, Zaid berkata “Aku mengabdikan diriku untukmu wahai utusan Allah, Izinkan aku bersama anda untuk melawan musuh dibawah panji-panjimu, ya rosul.” Begitu pemuda ini lantang dengan semangat membara.

Karena melihat usianya yang masih belia, Nabi menolak Zaid untuk terlibat dalam peperangan. Dalam penolakan tersebut, Zaid tetap ingin suatu saat bisa dizinkan untuk bersama Rasul dalam membela Islam. Tibalah umur 16 Tahun sebagaimana janji Nabi, ia ikut dalam perang Khandaq.

Dalam perang itu, ia menyadari medan perang adalah sangat ganas dan berat. Memperjuangkan Islam melalui perang butuh energi dan keberanian kuat. Namun ia tetapi ingin mendampingi Rasulullah dengan cara lain yang tak harus memikirkan batasan usia.

Memilih Berjuang Melalui Tulisan

Akhirnya Zaid memutuskan untuk menjadi penghafal Al-Quran. Karena sangat senang melihat anaknya berusaha dan dapat menghafal dan menulis alquran, ibu Zaid, Nawat bin Malik mengabarkan berita ini kepada kaum anshar.

Setelah mendengar kabar itu, para kaum anshar pergi menemui rosulullah “Wahai Rasul Allah, anak kami Zaid telah menghafal tujuh belas surah dari Kitab Allah dan membacakannya sama seperti diwahyukan kepadamu. Selain itu, dia piawai membaca dan menulis. Dengan ini dia berusaha ingin dekat dengan Anda.”

Seketika Rasulullah memanggil Zaid dan menyuruhnya untuk membaca dan menulis alquran yang dia pelajari. Dan mulai saat itu Zaid bin Tsabit resmi menjadi sekretasis Nabi.

Dalam sebuah hadis diceritakan:

عَنْ عُثْمَان بْن عَفَّانَ قَالَ ” كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا يَأْتِي عَلَيْهِ الزَّمَان يَنْزِل عَلَيْهِ مِنْ السُّوَر ذَوَات الْعَدَد ، فَكَانَ إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ الشَّيْء يَدْعُو بَعْض مَنْ يَكْتُب عِنْده فَيَقُول : ضَعُوا هَذَا فِي السُّورَة الَّتِي يُذْكَر فِيهَا كَذَا “

Dari Usman bin Afan berkata, dahulu Rasulullah Saw. jika datang waktu ketika wahyu diturunkan dari beberapa surat yang memiliki banyak ayat. Saat ayat-ayat itu diturunkan kepada Nabi, beliau akan memanggil beberapa sekretaris untuk menuliskannya di sampingnya, beliau lalu berkata, “Letakkanlah ini di surat yang menyebutkan tentang  hal ini di dalamnya seperti itu.” (HR. Nasai, Abu Daud, Tirmizi, Ahmad)

Tentu saja, sekretaris Nabi dalam mencatat wahyu juga tidak hanya satu orang. Setidaknya ada 65 sahabat yang juga mencatat Wahyu baik dalam skala yang banyak atau hanya sedikit. Zaid bin Tsabit adalah salah satu sekretaris nabi yang paling sering dipanggil dan dipercaya Nabi untuk menulis ayat Allah saat wahyu turun. (Abu Ubaid dalam Fadhail halaman 280, Ibn Hajar dalam Fath al-Bari juz 9 halaman 22, Ibn Abi Daud dalam al-Masahif halaman 3 dan al-Bukhari dalam Shahihnya bab Fadhail al-Quran halaman 4).

Zaid bin Tsabit sebagaimana sekretaris lainnya juga tidak hanya bertugas mencatat wahyu. Ia kerap juga diperintahkan untuk mencatat hal kenegaraan. Para sekretaris Nabi dari sisi profesionalisme dalam menulis ternyata terbagi dalam tugas khusus. Zaid bin Tsabit di samping menulis wahyu juga diberikan tugas untuk menulis surat kenegaraan yang sangat penting, yakni surat untuk para raja-raja.