zaid bin tsabit

Enam Ahli Fikih Pada Masa Sahabat (4): Zaid bin Tsabit

Abu Sa’id Zaid bin Tsabit bin al Dhahhak al Najjari al Anshari adalah nama lengkapnya. Ia masuk Islam pada usia belia, saat umur 11 tahun ketika perang badar. Ia juga menjadi salah satu juru tulis wahyu.

Tentang keahliannya dalam bidang fikih dikatakan sendiri oleh Nabi, “Diantara umatku yang paling menguasai ilmu faraidh (ilmu waris) adalah Zaid bin Tsabit”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dan Ibnu Majah.

Zaid bin Tsabit wafat di Madinah tahun 45 H. Saat itu, Abu Hurairah berkata, “Orang terbaik dari umat ini telah tiada, semoga Ibnu Abbas menjadi penggantinya”. Hal ini menunjukkan dedikasi dan perjuangan yang luar biasa serta kemampuan ilmu agamanya yang sangat baik.

Ijtihad Zaid bin Tsabit

Diantara ijtihadnya, dalam hal waris kakek bersama saudara laki-laki berhak mendapatkan salah satu dari dua hal. Yaitu, berbagi atau sepertiga semua harta. Jika tidak ada ahli waris ashabul furudh, bagian kakek sama seperti saudara laki-laki. Harta dibagi dengan saudara-saudara perempuan. Saudara laki-laki mendapatkan dua bagian dari bagian perempuan (dua banding satu; laki-laki dua, perempuan satu). Kakek masuk dalam golongan saudara laki-laki mendapatkan dua bagian dari bagian perempuan. Jika tirkah (harta waris) kurang dari sepertiga, kakek mendapatkan sepertiga dari jumlah total harta. Dan, jika kakek hanya bersama dengan seorang saudara saja maka bagiannya adalah separuh. Tegasnya, jika tidak ada ahli waris ashabul furudh kakek boleh memilih mana yang lebih menguntungkan; berbagi atau mengambil sepertiganya.

Sebagai spesialis ilmu faraidh, ijtihad Zaid bin Tsabit kebanyakan dalam bidang ilmu waris. Meskipun dalam beberapa kasus berbeda dengan sahabat yang lain, namun kesantunan dan kepiawaiannya diakui diantara sahabat yang lain. Kalangan sahabat juga mengakui kepakarannya dalam bidang fikih, terutama ilmu faraidh.

Baca Juga:  Ibadah Perdamaian dalam Islam

Ijtihad-ijtihad Zaid bin Tsabit dijadikan pijakan oleh generasi berikutnya. Pendapat-pendapat yang beliau kemukakan berdasar pada hadis Nabi dan al Qur’an. Ia menguasai dengan baik dua sumber primer hukum Islam ini. Tugasnya sebagai penulis wahyu benar-benar membantunya dalam memahami ayat-ayat al Qur’an Disamping fikih, Ia juga mahir dalam ilmu tafsir.

Maka, layak kalau Zaid bin Tsabit dimasukkan dalam deretan sahabat-sahabat Nabi yang ahli fikih. Penilaian ini tentu berkaca pada profil  beliau yang menguasai ilmu agama secara kompleks.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …