ali bin abi thalib
ali bin abi thalib

Enam Ahli Fikih pada Masa Sahabat (2) : Ali bin Abi Thalib

Selain Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang juga memiliki keahlian dalam bidang hukum Islam atau fikih adalah sepupu sekaligus menantu Nabi, yaitu Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al Qurasyi al Hasyimi. Di kemudian hari beliau akrab disapa Abul Hasan.

Menurut pendapat yang shahih Sahabat Ali bin Abi Thalib dilahirkan pada sepuluh tahun sebelum kenabian. Beliau adalah orang yang pertama kali memeluk agama Islam menurut pendapat mayoritas ulama. Beliau selalu menyertai Rasulullah kecuali pada perang Tabuk. Fatimah putri Rasulullah adalah istrinya.

Ali termasyhur dengan kepiawaiannya menunggang kuda dan terkenal gagah berani. Pada saat perang Khaibar, Nabi berkata, “Esok hari, aku akan memberikan panji perang kepada seseorang yang Allah akan menaklukkan musuh dengan tangannya. Ia mencintai Allah dan rasul-Nya, pun demikian, Allah dan rasul-Nya juga mencintainya”.

Pada malam itu, sahabat ramai membincangkan, siapa kira-kira orang yang dimaksud oleh Nabi. Kepada siapakah esok pagi panji perang akan diberikan oleh Nabi? Pagi menjelang, sahabat-sahabat Nabi ramai menghadap beliau berharap panji perang akan diberikan kepada mereka. Saat semua telah berkumpul, Nabi bertanya, “Dimana Ali? Para sahabat memberitahu Nabi bahwa Ali sedang sakit mata. Beliau meminta sahabatnya untuk memanggil Ali. Setelah Ali menghadap, Nabi meludahi mata Ali dan seketika itu pula sakit matanya sembuh. Panji itu kemudian diberikan kepadanya.

Ini sepenggal kisah tentang kemuliaan dan keutamaan Ali dan kedekatannya dengan Nabi. Masih banyak keistimewaan Ali yang lain. Antara lain, ketika Nabi berkata, “Aku gudangnya ilmu dan Ali pintunya”. Tak heran kalau kemudian Sayyidina Ali masuk dalam kategori enam ahli fikih dari kalangan sahabat-sahabat Nabi.

Baca Juga:  Bercermin dari Al-Qur’an (2) : Memahami Motivasi Peperangan Rasulullah

Dasar Ijtihad Ali bin Abi Thalib

Sayyidina Ali adalah sahabat yang paling yang paling banyak menafsirkan ayat al Qur’an. Hal ini membuktikan bahwa beliau adalah ahli tafsir. Ia juga hafal al Qur’an dan memiliki kecerdasan luar biasa dalam menangkap rahasia-rahasia bahasa al Qur’an. Karena itu, dalam setiap istinbat (penggalian) hukum beliau pertama kali pasti merujuk pada al Qur’an. Rumusan fikihnya selalu mengacu al Qur’an.

Pijakan fikih Sayyidina Ali berikutnya adalah hadis. Sebagai orang paling dekat dan paling inten membersamai Nabi, ia merupakan sahabat yang paling banyak menerima hadis. Karena itu, beliau dapat menilai hadis-hadis yang disampaikan oleh sahabat yang lain, shahih atau sebaliknya.

Dalam perkembangannya, ijtihad Sayyidina Ali seringkali menggunakan ra’yu (akal) dalam memutuskan hukum. Namun perlu diketahui, penggunaan ra’yu disini bukan penalaran bebas. Namu hanya mengembangkan prinsip-prinsip dasar dari al Qur’an dan hadis. Dikemudian hari ijtihad ini dikenal dengan maqashid al syari’ah.

Beberapa Ijtihad Sayyidina Ali

Ditulis oleh Abu Ubaid dalam kitabnya al Amwal, suatu ketika Sayyidina Ali melewati sebuah perkampungan bernama Zararah. Penduduk sekitar menginformasikan bahwa perkampungan tersebut merupakan tempat yang menampung dan memperjualbelikan khamar. Sayyidina Ali yang saat itu menjabat khalifah memerintahkan untuk membakar perkampungan tersebut. Keputusan ini jelas menggambarkan orientasi maslahat yang didahulukan, yaitu hifdzu al aqli (memelihara akal).

Imam Malik dalam kitabnya al Muaththa’ menulis hadis riwayat Tsaur bin Zaid al Dayla, suatu ketika Umar meminta pertimbangan hukuman apa yang pantas bagi peminum khamar. Sayyidina Ali usul supaya dicambuk 80 kali. Alasannya, peminum khamar akan mabuk, setelah mabuk akan mengigau dan pasti akan mengada-ada dan berdusta. Umar menyetujui putusan hukum ini.

Baca Juga:  Mengembalikan Fungsi Masjid

Contoh lain, suatu ketika Rasulullah menyuruh Sayyidina Ali untuk mencambuk seorang wanita yang berzina. Namun, sebelum hukuman terlaksana, wanita tersebut beralasan bahwa dirinya berzina karena terpaksa dan diancam sehingga dirinya sangat ketakutan. Berdasarkan ijtihadnya, Ali urung menghukum wanita tersebut. Ia kembali menghadap Rasulullah dan menceritakan hal tersebut. Beliau menyetujui ijtihad Sayyidina Ali.

Di atas adalah beberapa contoh ijtihad Sayyidina Ali. Masih banyak hasil-hasil ijtihad hukum beliau yang kemudian dijadikan hujjah oleh empat imam madhab fikih, yakni Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Hanafi dan Imam Hanbali. Sebagi bukti bahwa Sayyidina Ali adalah seorang ahli fikih pada masanya.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

kebebasan

Makna Kebebasan dalam Islam

Islam adalah agama yang beroreintasi pada kemanusiaan dan terjalinnya hubungan manusia yang toleran dan harmonis. …

demi masa

Makna Sumpah Allah “Demi Masa”

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil …