WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.46 1
WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.46 1

3 Amalan yang Harus Diperbanyak di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan!

Sebagaimana yang sudah jamak kita ketahui bahwasannya, Ramadhan dibagi menjadi tiga fase; 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari terakhir. Kemudian para ulama membeberkan lebih jauh lagi tentang tiga fase tersebut. Fase pertama adalah sepuluh hari pertama yang merupakan fase rahmat dan kasih sayang Allah. Fase sepuluh hari kedua dinamakan fase maghfirah yakni ampunan dari Allah SWT, dan Fase sepuluh hari ketiga adalah Fase Itqun minan Nar yakni pembebasan dari api neraka.

Saat ini, segenap umat Islam sedang dalam fase ketiga. Berkaitan dengan hal ini, Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwasannya, Rasulullah SAW angat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut. (HR. Muslim). Hadis ini menuntun kepada umat Islam agar memaksimalkan amalan-amalan atau ibadah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Apa saja amalan-amalan itu? Pertanyaan ini harus kita kejar.

Pertama, menghidupkan shalat malam.

Masih ada waktu bagi kita untuk teruh memaksimalkan amalan ibadah di bulan Ramadhan sebelum Ramadhan tahun ini benar-benar berakhir.  Ada beberapa amalan yang dilakukan oleh Rasulullah di akhir Ramadhan, tentu saja amalan selain yang wajib.

Jika selama ini sebagian umat Islam berpandangan bahwa melaksanakan shalat tarawih dan witir secara jamaah sudah puas, sehingga malam-malam selanjutnya digunakan untuk tidur saja, maka yang demikian itu kurang tepat.  Mari kita simak secara seksama penuturan Aisyah RA ini,

“Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, memperbanyak i’tikaf.

I’tikaf dianjurkan setiap waktu, tetapi lebih ditekankan memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagaimana penuturan Abdullah bin Umar RA. Bahwa Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan. (HR. Muttafaq ‘alaih).

Baca Juga:  Jangan Jadikan Tawakal sebagai Tameng untuk Tidak Bekerja, Pahami Posisi Tawakal

Dalam riwayat lain, yakni dari Aisyah RA, bercerita: “Nabi melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian, istri-istrinya yang melakukan (meneruskan) i’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim).

I’tikaf atau berdiam diri di Masjid maksudnya adalah untuk berdzikir, tadarus Alquran, shalat, merenung, intropeksi diri dan seterusnya.  Salah satu keutamaan i’tikaf adalah sebagaimana dalam sebuah  hadis yang diriwayatkam Thabrani dan Baihaqi, Ibnu Abbas ra berkata: “Barangsiapa beritikaf satu hari karena mengharap keridhaan Allah, Allah akan menjadikan jarak antara dirinya dan api neraka sekauh tiga parit, setiap parit sejauh jarak timur dan barat.”

Mengingat di beberapa daerah di Tanah Air ditengarai ada yang menjadi zona merah penyebaran Covid-19 sehingga beberapa masjid untuk sementara di batasi jumlah jamaahnya, maka i’tikaf dalam kondisi seperti ini bisa dilakukan di rumah masing-masing. Yang demikian ini tetap sah dan keutamaannya tidak bergeser sedikitpun.

Ketiga, meraih lailatul qadar.

Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil, ada malam lailatul qadar, yang dalam bahasa Alquran disebut sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Rasulullah juga memberikan informasi terkait lailatul qadar. Nabi bersabda: “ Lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir ( bulan Ramadhan). Siapa yang bangun di malam-malam itu dengan dorongan mencari pahala-Nya, Allah akan mengampuni dosanya yang telah terdahulu dan yang berikutnya. Dan ia terjadi di malam ganjil, kesembilan, ketujuh, kelima, ketiga atau malam terakhir.” (HR. Ahmad dari Ubadah bin Ash-Shamit).

Pada intinya, semakin mendekati habisnya Ramadhan, semakin kita dianjurkan oleh Rasulullah untuk terus meningkatkan dan memperbanyak amal ibadah kita. Dengan kata lain, semakin intensif ibadah kita, maka akan semakin bagus dan maksimal dalam menjalani ibadah Ramadhan.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar of Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

perusakan masjid ahmadiyah

Perusakan Masjid Ahmadiyah Tak Sesuai dengan Syariat Islam!

Miris memang menyimak berita terkini terkait sejumlah massa yang merusak masjid milik jamaah Ahmadiyah di …

persatuan

Tafsir Kebangsaan [2]: Inilah Cara Islam Membangun Persatuan dalam Keberagaman

Realitas historis dan sosiologis menunjukkan bahwa umat Islam terdiri dari berbagai macam golongan (firqah), madzhab, …