Noor Huda
Noor Huda

Penangkapan Pengurus MUI, Buktikan Kader JI Masuk ke Berbagai Lini Masyarakat

Jakarta – Densus 88 Antiteror Polri menangkap tiga orang ustaz yang terlibat jaringan terorisme. Ketiga ustaz itu adalah Ahmad Zain An-Najah, Farid Okbah dan Anung Al Hamat di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Zain An-Najah diketahui merupakan seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dengan jabatan anggota Komisi Fatwa, sementara Farid Okbah adalah Ketua Umum Partai Dakwah Republik Indonesia (PDRI).

Menurut keterangan Polri, ketiganya berafiliasi dengan Jamaah Islamiyah melalui Lembaga Amil Zakat Abdurrahman Bin Auf yang diduga menjadi sumber pendanaan aktivitas terorisme dari kelompok itu.

Pengamat terorisme Noor Huda Ismail mengatakan, penangkapan tiga orang tersangka kasus terorisme menunjukkan bahwa pergerakan kader Jamaah Islamiyah telah masuk ke berbagai lini di tengah masyarakat. Bahkan organisasi keagamaan tertinggi di Indonesia MUI pun berhasil mereka masuki. Itu menunjukkan bahwa kelompok ini berhasil menjalankan strategi “tamkin” atau penguasaan wilayah.

“Karakteristik JI saat ini tidak bisa dipandang hanya dari aspek teror. Pergerakan kelompok ini telah berkembang memasuki aspek sosial-keagamaan di tengah masyarakat,” ungkap Noor Huda dikutip dari laman BBC Indonesia, Jumat (19/11/2021).

Menurut dia, JI berafiliasi dengan lembaga pendidikan dan organisasi yang aktif bergerak pada isu-isu kemanusiaan. Selain itu, anggota JI juga menyebar di berbagai lini.

Sebelum penangkapan An-Najah yang merupakan tokoh MUI, Densus 88 juga pernah menangkap anggota JI yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan guru.

“Ini bentuk keberhasilan JI dalam menerapkan konsep organisasi mereka yang namanya tamkin, atau penguasaan wilayah, kelembagaan, otoritas, sehingga ketika sudah kuat mereka bisa masuk ke pergantian sistem dengan baik,” ujar Noor Huda.

Dia melanjutkan, aktivitas anggota JI melalui organisasi kemanusiaan tidak lagi menggunakan narasi yang menyerukan aksi teror. Cara ini berbeda dengan beberapa pendahulu mereka yang menjadi dalang sejumlah aksi teror di Tanah Air, termasuk Bom Bali.

Baca Juga:  PM Inggris Berterima Kasih Umat Muslim Rayakan Idul Adha Dengan Taati Protokol Kesehatan

Menurut Noor Huda, gerakan kemanusiaan inilah yang dimanfaatkan JI untuk menggaet dukungan dan kepercayaan dari masyarakat.

“Kenapa kelompok JI bisa meraup pendukung banyak, mereka menyelesaikan permasalahan umat. Sesederhana perempuan cari jodoh, mereka bisa mencarikan. Anaknya ingin disekolahkan, mereka bisa kasih beasiswanya,” papar dia.

Menurutnya, anggota JI yang ditangkap beberapa waktu belakangan juga lebih banyak terkait dengan kegiatan-kegiatan ini, termasuk pendanaannya. Sepak terjang mereka yang kemudian dipandang baik oleh masyarakat, kata dia, berpotensi menjadi bumerang bagi penegakan hukum apabila tidak bisa dibuktikan secara akuntabel.

“Mereka dicap teroris, tapi keseharian mereka ini oke banget. Dengan tetangga baik, ngomong dimana-mana santun, terlibat aksi sosial, bergelar doktor, ngajar di universitas top, how do we explain that?” ujar Noor Huda.

Hal itu lah yang menurut dia perlu dijawab dengan narasi alternatif dan pembuktian hukum yang akuntabel, sehingga masyarakat bisa memahami dimana letak keterkaitan orang-orang yang diduga terlibat itu dengan aktivitas terorisme.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

undangan non muslim

Fikih Toleransi (6): Menghadiri Undangan Non Muslim

Toleransi yang sejatinya merupakan ajaran Islam mulai menipis, bahkan dianggap bukan ajaran Islam. Ini terjadi …

toleransi

Khutbah Jumat – Islam dan Toleransi

Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ …