Jakarta –Save the Children Foundation melaporkan sebanyak 85 ribu remaja di Yaman meninggal pada tahun 2018. Yang lebih mengejutkan, bahwa tahun ini sebanyak lima juta anak muslim Yaman terancam mati kelaparan akibat konflik perang saudara maupun wabah Covid-19 yang juga melanda wilayah itu.
Dilansir dari Theislamicinformation, Sabtu (19/6/2020), situasi di Yaman dilaporkan semakin memburuk dari hari ke hari. Bila perang saudara tak kunjung selesai, akan ada lebih banyak anak yang kehilangan nyawa karena kelaparan.
Terlebih di tengah pandemi Covid-19, dimana perdagangan tak lagi mulus dan jatuhnya nilai mata uang secara drastis menjadi hasilnya. Daerah itu bahkan tidak memiliki obat parasetamol tunggal untuk membantu keluarga yang tak berdaya di Yaman.
Ketua Save the Children Foundation International, Helle thorning-Schmidt, mengungkapkan bahwa ada banyak anak yang tidak mengetahui apakah mereka akan mendapatkan makanan berikutnya atau tidak. Saking parahnya, sebuah sumber menyatakan bahwa satu anak Yaman meninggal setiap 10 menit sekali.
Dia menambahkan bahwa risiko yang dibawa perang ini dapat menewaskan seluruh generasi rakyat Yaman, karena mereka terus menghadapi banyak ancaman mulai dari pemboman hingga kelaparan hingga bahaya penyakit seperti kolera, ditambah lagi dengan merebaknya Covid-19 yang menular dengan sangat cepat.
Save the Children telah memperingatkan bahwa sekitar empat juta anak memiliki risiko kelaparan dan bertambah satu juta lainnya yang terlibat dalam masalah kelaparan selama pertempuran Hodeida yang terus berlanjut. Diprediksi, kondisi ini berlangsung sekitar dua tahun dan terbayang betapa sulitnya kondisi mereka saat ini.
Bahkan, sebuah kabar menyatakan di salah satu rumah sakit yang terletak di sisi utama Yaman terdapat bayi yang kondisinya sudah sangat lemah, hingga tak lagi bisa menangis lantaran kelelahan menahan lapar.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah