hilmi firdausi
hilmi firdausi

Ada yang Keliru dari Tweet Ustadz Hilmi Firdausi

Pagi tadi, saya membaca tweet seorang yang sering disapa Ustadz Hilmi Firdausi. Entahlah, saya tidak mengenalnya secara langsung. Hanya saja, beberapa orang di wall twitter mereply dan mengomentari tweetnya tersebut.

Saya tertarik sedikit membahas tweet si Ustadz. Ada setidaknya dua poin kekeliruan yang saya cerna.

Pertama, membandingkan zaman Nabi dengan zaman ini adalah sebuah kekeliruan serius. Di zaman Nabi, para Mualaf sekaligus murid (yang mana oleh Rasulullah SAW disebut sebagai sahabat) bisa berguru langsung kepada Rasulullah SAW. Sehingga sanad keilmuannya jelas dan bersambung langsung.

Sedangkan kita? Kita tidak hidup sezaman dengan Rasulullah. Sehingga kita sebagai umat Islam di zaman ini, tidak bisa berguru langsung kepada Beliau melainkan melalui perantara ahli ilmu agama, yakni para Ulama.

Jujur saya merasa miris melihat penceramah-penceramah zaman ini yang mengklaim tidak belajar melalui perantara Guru yang bersanad, namun justru mengatakan ia belajar agama secara otodidiak. Dengan bangga ia menyebut dirinya berguru langsung kepada Rasulullah SAW. Sontak saja reflek saya katakan bahwa orang-orang itu sedang halu.

Logika sederhananya begini, tidak ada ilmu tanpa guru. Kita bersekolah selama kurang lebih 12 tahun, ditambah Perguruan Tinggi 4 tahun, belum lagi yang nambah S2 dan S3. Semua jenjang pendidikan, pasti ada gurunya. Tidak ada yang belajar sendiri, mandiri, otodididak. Sebab, berilmu tanpa berguru dapat menyesatkan seseorang.

Begitu juga agama. Belajar ilmu agama sangat butuh guru dengan sanad keilmuan yang jelas. Sebagaimana bunyi sebuah Maqalah berbahasa Arab yang artinya, “Siapa saja yang tidak memiliki guru, maka syaithonlah yang menjadi gurunya”. Belajar agama pun tidak bisa instan dan kilat. Butuh guru dan butuh waktu yang tidak sebentar. Ada Kyai yang belajar ilmu agama hingga berpuluh tahun di Pesantren. Keluar dari Pesantren pun, ia tidak sembarangan berbicara agama meskipun dipandang sudah mumpuni. Ia tetap jeli, teliti dan sangat hati-hati.

Baca Juga:  Memahami Hadis Bid'ah dengan Kaidah Ushul Fikih

Kembali kepada konteks tweet Ustadz Hilmi, jika mualaf zaman nabi disandingkan dengan mualaf zaman ini, kita akan menemukan sangat banyak perbedaannya. Mulai dari kualitas ilmu, sanad hingga kualitas akhlak.

Para Sahabat sangat menjunjung tinggi akhlakul karimah saat berdakwah. Berbeda dengan zaman ini, dimana orang-orang bebas mencaci-maki, menghina, memprovokasi bahkan menyebar fitnah dan teror di mimbar dakwah. Tentu ini sangat berbeda jauh dengan kualitas akhlak para Sahabat. Belum lagi kualitas keilmuan Sahabat yang sangat tinggi dengan guru yang jelas, sedangkan di zaman ini banyak pendakwah yang keilmuannya diragukan dan sanad perguruannya tidak jelas. Bahkan baru mualaf dan baru hijrah langsung diberikan mic dan berbicara soal permasalahan terkait agama Islam. Tentu akan sangat kacau karena bukan ahlinya, bahkan belajar pun tidak.

Belum lagi mereka yang berdakwah bukan untuk tujuan syiar Islam, namun semata-mata untuk kepentingan komersil. Segala macam cara akan dilakukan, termasuk dengan mengada-ada dan memalsukan identitas diri.

“Halah, cuma identitas diri aja kok direpotkan!”

Masalahnya bukan hanya di identitas diri. Namun pada kejujuran. Identititas diri sendiri saja berani dipalsukan, lalu bagaimana dengan konten-konten dakwahnya? Padahal sangat jelas, Islam tidak mengajarkan berdakwah dengan kebohongan. Sedangkan Rasulullah SAW memiliki gelar Al-Amin yang berarti jujur dan amanah.

Kedua, si Ustadz menyebut “Para Sahabat setelah masuk Islam langsung berdakwah dan membela agama.” Lagi-lagi, selain beda zaman, beda penerapan. Membela agama di zaman ini bisa melalui beragam cara. Kalau orang-orang yang belum berilmu namun sudah berani berbicara tentang agama di mimbar dakwah, sama saja akan menyesatkan umat.

Oleh karenanya, sangat penting orang-orang yang baru hijrah dan baru mualaf untuk dididik ilmu agama terlebih dahulu. Entah melalui majelis taklim ataupun Pondok Pesantren. Supaya mereka bisa memahami agama secara lebih luas.

Baca Juga:  Tasawuf dalam Pandangan al-Quran

Membela agama bisa dengan banyak cara. Belajar, mencari guru dan menjadi seorang santri adalah sebagian dari upaya jihad membela agama. Atau bisa dengan cara lebih ringan, dengan rajin beribadah, rajin bersedekah, ramah kepada orang lain yang berbeda, menghargai dan menghormati orang lain adalah salah sedikit dari banyaknya tafsir perbuatan tentang membela agama Islam.

Bagikan Artikel ini:

About Vinanda Febriani

Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Check Also

muktamar nu

Menanti Kebijaksanaan Sang Pemimpin, Mungkinkah NU Kembali ke Khittah?

Saya bersyukur dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-34 yang diselenggarakan di Lampung pada22-24/12/2021 lalu menghasilkan keputusan …

Terorisme di Abad 21

Akar Permasalahan Terorisme di Abad 21

Salah satu Jubir Al-Qaidah pernah berujar bahwa internet merupakan “Universitas Studi Jihad Al-Qaidah”.