nabi palsu
nabi palsu

Ada yang Ngaku Nabi, Lihat Gaya Slow Rasulullah Menanggapinya

Tidak perlu heran, apalagi terkejut, juga tidak perlu marah berlebihan mendengar Jozeph Paul Zhang mengaku Nabi ke-26. Kenapa? Karena setan memang tidak akan pernah mati. Setan dengan sekuat usaha mebisikkan kesesatan kepada manusia. Usaha setan untuk menyesatkan manusia baru akan berhenti bila kiamat tiba. Salah satu bisikan setan itu seperti apa yang dilakukan oleh Jozeph Paul Zhang.

Lalu bagaimana selaku muslim menyikapi orang yang mengaku Nabi seperti Jozeph Paul Zhang? Sikap yang paling baik adalah meniru sikap Nabi ketika merespon Musailamah bin Habib yang dijuluki al Kaddab (pendusta). Saat itu Musailamah al Kaddab mengaku Nabi dan bahkan mengirim surat kepada Rasulullah yang memberitakan bahwa dirinya juga Nabi.

Surat dari Musailamah tersebut bunyinya :

“Dari Musailamah Rasulullah untuk Muhammad Rasulullah. Salam sejahtera, aku telah dipilih dan ditetapkan untuk menjalankan tugas dan kekuasaan bersamamu. Aku berkuasa atas separuh negeri dan separuh untuk Quraisy. Tetapi Quraisy adalah umat yang kasar dan kejam”.

Nabi meresponnya dengan santai, tak ada raut kemarahan diwajah beliau. Kemudian Nabi Muhammad menulis surat balasan untuk Musailamah al Kaddab.

“Dari Muhammad Rasulullah kepada Musailamah al Kaddab (sang pendusta). Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk (QS: Thaha: 47). Sesungguhnya bumi ini adalah kepunyaan Allah. Diwariskan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.

Dengan surat balasannya ini Nabi masih berupaya untuk menyadarkan Musailamah al Kaddab. Nabi seakan-akan bilang kepada Musailamah al Kaddab, kalau ingin selamat ikutilah petunjuk Allah dalam al Qur’an dan tak perlu mengaku sebagai Nabi.

Pesan tersirat yang kedua dari surat Nabi adalah bagi orang-orang yang bertakwa akan mengalami akhir kehidupan yang baik. Sebaliknya, bagi yang ingkar kesusahan dan kenistaan sebagai akhir hidupnya.

Baca Juga:  Manajemen Kecerdasan IQ, EQ, dan SQ

Karena Musailamah berkeras hati dengan kedustaanya maka dirinya harus mati sebagai pendusta. Mati dalam keadaan hina. Pada masa Khalifah Abu Bakar, Musailamah terpaksa harus ditundukkan dengan cara kekerasan supaya tidak ada lagi korban dari kebohongannya.

Respon Nabi kepada Musailamah al Kaddab tersebut memberi pelajaran kepada umat Islam saat ini bagaimana menyikapi Jozeph Paul Zhang yang mengaku Nabi. Hal pertama adalah mengingatkannya bahwa apa yang dilakukan merupakan kebohongan. Bila masih berkeras hati, pihak berwenang seperti kepolisian harus menindaknya secara tegas. Apalagi selain mengaku Nabi dia juga menghina dan menistakan agama Islam.

Abdullah bin Umar juga mengajarkan kepada kita semua bagaiman merespon seseorang yang mengaku sebagai Nabi. Adalah Mukhtar al Sakafi yang saat itu mengaku dirinya telah mendapat Wahyu dari Allah.

Mendengar berita ini Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khattab, meresponnya secara slow dan santai tapi menghunjam tajam. Ketika salah seorang memberitahukan prihal Mukhtar al Sakafi, beliau menjawab, klaim tersebut adalah benar.

Beliau kemudian mengutip ayat al Qur’an, “Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya”. (QS. al An’am: 121).

Ibnu Umar hendak mengatakan, “kalau Mukhtar al Sakafi mengklaim diri sebagai Nabi adalah benar, yakni benar kalau dirinya adalah teman setan”.

Sama halnya ketika Jozeph Paul Zhang mengaku sebagai Nabi ke-26, dia benar. Yakni, benar kalau dirinya adalah kawan setan. Jadi, tak perlu marah-marah merespon perkataan teman setan, karena setan tugasnya memang seperti itu. Biarlah para aparat penegak hukum yang mengadili dengan seadil-adilnya.

Bagikan Artikel

About Khotibul Umam

Alumni Pondok Pesantren Sidogiri