adab guru
adab guru

Adab Guru Terhadap Murid Menurut KH Hasyim Asy’ari

Pelecehan seksual terhadap anak merupakan peristiwa yang tak kunjung usai terjadi. Belakangan ini terjadi tindak senonoh seorang guru terhadap anak didiknya sendiri. Memang ini bukan problem satu pihak. Di phak lain ada pula persoalan kekerasan dan tindakan tidak terpuji yang dilakukan murid kepada guru.

Semua problem itu perlu disikapi dengan tegas. Mengapa demikian? Karena hal tersebut mencerminkan kurangnya etika dan moral yang tertanam dalam jiwa pendidik dan anak didik bangsa. Tentu kita akan merasa miris terhadap pelecehan seorang guru terhadap anak muridnya sendiri. Guru mestinya menjadi teladan bagi muridnya.

Lantas, bagaimana kita dapat menyikapi fenomena ini? Bagaimana alternatif yang dapat kita lakukan sebagai solusi dari minimnya etika dan moral seorang guru terhadap muridnya? Tentu perlunya ada pengajaran khusus yang perlu ditanamkan terkait nilai-nilai tersebut. Tidak hanya itu, menjadi hal yang penting memporsikan kriteria guru yang baik dan bijaksana sebagai penunjang kemajuan bagi generasi penerus bangsa.

Menurut KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, tentang adab guru tatkala bersama murid-muridnya. Paling tidak akan disampaikan dua dari empat belas poin yang ada di dalam kitab tersebut, Beliau menyampaikan bahwa,

Pertama, hendaknya seorang guru itu mengajar dan mendidik murid dengan tujuan mendapatkan ridho Allah ta’ala, menyebarkan ilmu, menghidupkan syariat islam, melanggengkan munculnya kebenaran dan terpendamnya kebatilan. Selain itu juga, seorang guru berharap keberkahan dari doa dan kasih sayang mereka (para murid), serta menginginkan tergolong dalam mata rantai pembawa risalah Rasulullah SAW yakni menyampaikan wahyu Allah ta’ala dan hukum-hukum Allah ta’ala kepada makhluk-Nya.

Mengajarkan ilmu merupakan salah satu urusan terpenting, baik ilmu eksakta, sosial, ekonomi, dan ilmu lainnya. Terkhusus ilmu agama merupakan kedudukan tertinggi bagi orang mukmin khususnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah ta`ala, malaikat, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di liangnya pada bershalawat untuk para pengajar kebaikan kepada umat manusia. Sungguh, ini adalah ganjaran yang besar dan memperolehnya merupakan keuntungan yang tak terhingga. Ya Allah, jangan Engkau halangi kami dari ilmu dengan penghalang apapun dan jangan Engkau cegah kami darinya dengan segala pencegah. Kami berlindung kepada-Mu dari pelbagai pemutus ilmu, pengeruh, penyebab terhalang dan terhindarkan darinya”.

Kedua, guru harus mendekatkan murid dengan sesuatu yang terpuji dan menjauhkan murid dari sesuatu yang tercela. Memperhatikan kemashlahatan murid dengan memperlakukannya dengan cara guru memperlakukan anak kesayangannya, penuh kasih sayang dan kelembutan, berlaku baik kepadanya, bersabar atas kekasaran dan segala kekurangannya. Karena suatu waktu, setiap manusia tidak terlepas dari kekurangan dan ketidaksopanan. Maka perlunya guru sebagai pembimbing agar murid dapat terarah kepada kebaikan serta mengingatkan dikala lupa berlaku sopan.

Kedua point ini menjadi asupan nilai etika dan moral sebagai seorang guru. Perlu amat diingat bahwa tujuan utama sebagai seorang guru ialah mendapatkan ridho Allah ta’ala bukanlah mencari kepuasan dan kesempatan “mumpung bisa dekat dengan seorang murid” dan besar kemungkinan pada akhirnya terjadilah tindakan kekerasan dan seksual terhadap murid ini terjadi. Seorang guru tanpa memahami nilai, etika dan moral tidaklah pantas disebut sebagai seorang digugu dan ditiru. Sebagai seorang guru seharusnya berusaha memberikan contoh yang terpuji bukan malahan memberikan contoh yang tidak senonoh terhadap muridnya sendiri, terlebih lagi melakukan hubungan intim terhadap anak dibawah umur.

Dengan demikian, sudah sepatutnya sebagai seorang guru itu digugu dan ditiru. Digugu diartikan  segala sesuatu yang disampaikan olehnya (guru) senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh seorang murid. Ditiru adalah seorang guru harus menjadi suri tauladan/uswah hasanah bagi semua muridnya. Bukan sebaliknya,mencontohkan kebatilan secara terang-terangan akan berdampak buruk terhadap muridnya untuk meniru hal demikian.

Ridwan Arifin Shoheh, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Menag Nasaaruddin di Konferensi Internasional di Mesir copy

Bicara di Forum Internasional, Menag Tekankan Agama sebagai Arah Kemajuan Modern

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa agama memiliki peran strategis sebagai kompas …

Masjid Al Ikhlas PIK 2 ok copy

Kehadiran Masjid Al Ikhlas PIK 2 Simbol Penguatan Toleransi dan Rekatkan Harmoni dalam Keberagaman

Jakarta – Kehadiran Masjid Al-Ikhlas PIK 2 di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, dinilai …