Hari-hari, seperti biasanya, belalu sangat cepat, beriring dengan perputaran waktu yang berjalan terus. Tak terasa umat Islam sudah memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan 1441 H., dan tentu saja orang yang beriman tidak akan menyia-nyiakan hari-hari yang masih tersisa dari bulan yang mulia dan penuh berkah ini, meski mereka harus melaluinya di rumah saja karena upaya memutus mata rantai penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Setelah melewati 10 pertama Ramadhan 1441 H. di rumah aja, terasa bahwa Ramadhan tahun ini memang berbeda dan memiliki berbagai keistimewaan tertentu yang mungkin tidak akan terulang lagi dalam sejarah Ramadhan selanjutnya. Kita harus memenangkannya dan menjadikannya sebagai Ramadhan terbaik dalam hidup kita.

Pada bulan suci Ramadhan Allah mewajibkan puasa sebagai media untuk mencapai tingkat orang-orang yang bertaqwa. Ia memerintahkan zakat harta untuk membersihkan jiwa orang-orang yang berzakat, dan mensyariatkan zakat fitrah sebagai pensucian bagi orang-orang yang berpuasa.

Umumnya umat Islam lebih suka membayar zakat mereka pada bulan Ramadhan supaya mendapatkan nilai pahalanya yang berlipat ganda, dan itu tidak masalah. Meskipun pada hakikatnya seorang muslim harus membayar zakat sesuai dengan haul-nya, yaitu setiap objek zakat (yang mencapai nishab-nya) memiliki haul (masa jatuh tempo) tertentu.

Masa jatuh tempo zakat adalah 12 bulan klender hijriah atau satu tahun hijriah. Jika haulnya jatuh tempo pada bulan Rajab – misalnya – maka zakat harta harus di bayar pada bulan Rajab setiap tahun, tetapi jika ia ingin membayarnya pada bulan Ramadhan (memindahkan) karena mengharapkan pahalanya berlipat pada saat itu ia harus menambahkan 2 bulan (selisi waktu jelang Ramadhan) menjadi 14 bulan, dan selanjutnya ditetapkan haul parmanennya pada bulan Ramadhan berikutnya.

Keutamaan Memajukan Pembayaran Zakat Masa Pandemi Covid-19

Allah berfirman:

(خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ)

Terjemahannya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. At-Taubah: 103).

Sepakat para ulama bahwa menunda pelaksanaan pembayaran zakat adalah dosa, karena hukum asal pada zakat itu adalah mengeluarkannya tepat pada waktunya. Akan tetapi boleh memajukan tempo pembayaran zakat sebelum masuk haul-nya karena alasan-alasan (kemanusian) tertentu, dengan syarat harta zakat tersebut sudah mencapai nishab-nya.

Adalah rasulullah SAW memajukan tempo pembayaran zakat sebagian orang-orang yang sudah berumur di Madinah, dan mengambil zakat dari pamannya Al-Abbas bin Abdul Mutthalib selama satu tahun atau bahkan sampai 2 tahun lebih awal sebelum jatuh tempo. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits:

(عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ الْعَبَّاسَ سَأَلَ النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في تعجيلِ صَدَقَته قبل أنْ تَحُلَّ، فرَخَّصَ في ذلك). رواه أبو داود

Artinya: “Dari Ali ra., sesungguhnya al-Abbas (paman nabi) memohon pada nabi SAW agar diizinkan mempercepat tempo pembayaran sedekah (zakat)nya sebelum tiba masa jatuh temponya, maka nabi mengizinkan hal itu” (HR. Abu Daud).

Tujuan syariat kewajiban membayar zakat bagi orang-orang kaya adalah untuk meringankan beban sesama saudara yang kurang beruntung atau miskin. Zakat dalam hal ini merupakan kewajiban sosial bagi umat Islam untuk mensucikan jiwa mereka.

Penyebaran pandemi covid-19 telah melumpuhkan dunia, khususnya negeri kita yang tidak kalah terdampaknya. Semenjak pemerintah mengumumkan status Karantina Wilayah dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), secara tidak langsung berdampak secara menyeluruh dari segi ekonomi khususnya bagi masyarakat menengah kebawah. Terutama yang pada dasarnya menggantungkan hidupnya baik itu dari berjualan asongan, dari mengojek bahkan nelayan, yang langsung memberikan dampak negatif atas pendapatan mereka.

Oleh karena itu, maka inilah saatnya digugah rasa empati dan solidaritas orang-orang kaya muslim, terutama di dalam bulan suci Ramadhan ini untuk menyegerakan pembayaran zakat hartanya. Bahkan kalau memungkinkan merapelnya dengan zakatnya untuk satu tahun ke depan, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Al-Abbas ibnu Abdul Mutthalib (paman nabi) pada masanya, untuk membantu sesama kita yang sangat membutuhkan karena dampak buruk dari penyebaran pandemi Covid-19.

Zakat fitrah pun dianjurkan untuk segera dikeluarkan, dan dibagikan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, yaitu terkena dampak virus corona langsung. Tidak perlu menunggu sampai akhir Ramadhan sebagaimana lazimnya kita mengeluarkan zakat fitrah karena kita sedang berada pada masa darurat virus corona. 

Semoga Zakat harta, zakat fitrah, infaq dan sedekah lainnya yang dikeluarkan umat islam di bulan suci Ramadhan ini untuk meringankan beban saudara-saudaranya yang terdampak langsung penyebaran pandemi Covid-19, diterima dan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT. Amin.

1 KOMENTAR

  1. […] Islam mengajarkan pemeluknya tidak hanya peduli, simpati dan empati, tetapi juga beraksi dalam memberikan solusi sosial. Karena pentingnya kepedulian dalam bentuk aksi nyata itulah, Islam memiliki solusi sosial bernama zakat. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.