pembunuh khalifah
pemuda radikal

Apakah Ada Muslim Radikal? Inilah Cirinya Menurut Rasulullah

Ciri, pengenal, penanda adalah suatu yang lekat pada seseorang untuk mengidentifikasi identitasnya. Seperti busana yang menjadi ciri khas suku tertentu. Namun tidak berarti yang memakai busana Jawa mesti orang Jawa. Sama juga yang memakai kopiah belum tentu muslim. Kekhasan hanya gambaran secara umum.

Demikian pula ketika Nabi mengidentifikasi ciri-ciri penganut Khawarij, tidak semua yang memiliki ciri-ciri tersebut adalah kelompok Khawarij. Hanya saja sebagian besar kelompok Khawarij memiliki ciri dimaksud.

Khawarij adalah kelompok pembangkang yang dedengkotnya ada sejak masa Nabi. Namanya Abdullah Ibnu Dzil Khuwaishirah yang juga dikenal dengan Hurqush Ibnu Zuhair al Sa’dy. Lelaki dari Bani Tamim yang satu klan dengan Muhammad Ibnu Abdul Wahab al Tamimi pendiri Wahabi.

Dzul Khuwaishirah dalam hadis Nabi digambarkan sebagai seorang yang shaleh. Ciri fisiknya; matanya cekung, tulang pipi dan dahinya menonjol, berjenggot lebat, kepala plontos, dan memakai celana cingkrang. Lelaki pemrotes Nabi saat membagi ghanimah (harta rampasan perang) pasca perang Hunain.

Nabi meramalkan Dzul Khuwaishirah nantinya akan melahirkan kelompok Khawarij sebagai firqah agama dan politik. Dari sisi amaliahnya, kelompok Khawarij tidak tertandingi. Tekun beribadah, rajin membaca al Qur’an, dan tangannya kapalan. Diantara dua matanya ada tanda bekas sujud.

Begitu salehnya kelompok Khawarij ini, Nabi berkata kepada para sahabatnya, “Bacaan kalian tidak sebanding dengan bacaan mereka, shalat kalian jauh di bawah mereka, puasa kalian tidak sebanding dengan puasa mereka”

Namun kesalehan luar biasa ini sirna begitu saja sebab mereka merasa paling saleh, paling benar, dan paling-paling yang lain. Yang tidak sehaluan dengan mereka adalah sesat dan kafir sehingga harus dibunuh. Mereka menganggap bahwa perbedaan harus ditiadakan. Pokoknya, segalanya harus sesuai dengan prinsip beragama mereka.

Baca Juga:  Jiwa Merdeka Suka Menebarkan Salam dan Kasih Sayang

Ciri yang lain, mereka selalu berontak kepada pemimpin. Ibnu Hajar menuturkan, disebut Khawarij sebab mereka keluar dari ketaatan kepada pemimpin, meninggalkan para pemimpin agama dan keluar dari jamaah. Ciri khusus mereka dalam bernegara adalah protes terhadap kebijakan pemimpin seperti protes Dzul Khuwaishirah kepada Nabi, setelah itu melakukan pemberontakan seperti yang dilakukan oleh Abdullah Ibnu al Kawwa’ dan pendukungnya terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Ciri selanjutnya adalah memakai ayat yang khitabnya untuk orang kafir untuk menyerang orang mukmin. Gemar mencela, bahkan tidak segan untuk membunuh bila dianggap tidak berhukum dengan hukum Allah menurut versi mereka. Walaupun sebenarnya tafsir mereka “sempit”, namun mereka menganggap apa yang dipikirannya adalah kehendak Tuhan dan yang lain dipersalahkan.

Kata Nabi, “Sungguh akan keluar dari jenis lelaki ini suatu kaum yang lancar membaca kitabullah tapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya”. Abu Sa’id al Khudri samar-samar mendengar Nabi berkata, “Jika aku jumpai mereka, akan aku perangi mereka seperti kaum Tsamud”.

Karakter beragama seperti Khawarij ini yang melahirkan doktrin muslim radikal yang kerap melakukan terorisme. Segala yang di luar mereka adalah kafir, sesat, bid’ah dan seterusnya yang harus diperangi dan dibunuh. Pemimpin yang versi mereka keluar dari syariat Islam, tidak boleh tidak harus diperangi.

Antek-antek Khawarij ini terus akan ada sampai akhir zaman. Di Indonesia, baru-baru ini doktrin Khawarij dipraktekkan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora yang dengan kejamnya membunuh satu keluarga penganut Kristen di Sulawesi Tengah.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hadiah dari non muslim

Fikih Toleransi (5): Menerima Hadiah dari Non Muslim

Rasulullah adalah manusia paling sempurna dalam segala aspek kehidupannya; paling sempurna ibadahnya, pribadi yang paling …

hidangan non muslim

Fikih Toleransi (4) : Memakan Hidangan Non Muslim

Agama Islam membolehkan memakan makanan apa saja yang penting halal, demikian juga minuman. Maka, meskipun …