Kisah Nyata Pemuda Ahli Ibadah yang Mengkafirkan dan Membunuh Pimpinan Negara

0
325

Penyimpangan mungkin saja terjadi kepada orang yang bertakwa. Termasuk penyimpangan ajaran Islam bisa jadi tidak hanya dilakukan oleh orang yang awam tentang agama, melainkan dilakukan oleh orang yang dianggap sebagai seseorang yang fasih agama dan  ahli ibadah.

Penyimpangan juga bisa diartikan sebagai kekeliruan terhadap kebenaran-kebenaran pemahaman agama. Pemahaman yang tidak lurus ini menjadikan seseorang keluar dari garis kebenaran. Seperti halnya memaknai ayat-ayat Allah secara tekstual bukan kontektual, hal ini menyebabkan terjadinya penyimpangan atau kekeliruan terhadap kebenaran pemahaman.

Perihal bahaya dari pemahaman yang tidak lurus ini sudah terjadi lama, bahkan sejak masa khalifah sekalipun. Salah satu contohnya yaitu pembunuh khalifah Ali bin Abi Tholib, Abdurrahman bin Muljam (Ibnu Muljam). Ibnu Muljam bukan orang awam dan sembarangan dalam agama. Diceritakan bahwa Ibnu Muljam adalah seorang yang ahli ibadah, ahli sholat, shaum, dan penghafal Al-Qur’an serta mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain.

Kholifah Umar bin Khathab pun pernah mengirimnya ke Mesir untuk mengajarkan Al-Qur’an di sana. Bahkan ia mendapat gelar Al-Muqri’ yang berarti ahli ibadah. Namun, kuantitas ibadahnya tidak sepadan dengan kualitas pemahamanya tentang agama. Membaca Al-Qur’an, tetapi tidak memahami apa yang dibaca, bahkan dalam memahami maknanya dengan pemahaman yang menyimpang dari garis kebenaran.

Abdurrahman bin Muljam adalah salah satu anggota dari kelompok Khawarij, yaitu kelompok di pihak Ali bin Abi Thalib yang tidak mau menerima hasil tahkim. Atas dasar tersebut timbulah kerusakan pemikiran Khawarij tampak dalam pertempuran Nahrawan, pertempuran yang melibatkan Khalifah Ali bin Abi Tholib yang menumpas sebagian besar kelompok Khawarij.

Tindakan yang dilakukan Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu bukti dari sabda yang sudah diprediksi oleh Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Akan memisahkan diri satu kelompok (Khawarij) ketika kaum muslimin berpecah belah. Kelompok itu akan diperangi oleh salah satu golongan dari dua golongan yang lebih dekat dengan kebenaran.”(HR. Muslim).

Pertempuran inilah menyisakan api fitnah dan bara kebencian dalam diri Khawarij.  Sampai akhirnya benih-benih pemikiran khawarij mulai berkembang di Mesir yang berhasil memperdaya perasaan Ibnu Muljam dengan kobaran api kebencian dan balas dendam yang pada saat itu ia sedang menjalankan tugasnya sebagai muqri’. Ia bersama orang lainya merencanakan balas dendam terhadap tiga orang yang dianggap menjadi sumber peristiwa tersebut dan sumber perpecahan umat Islam, yaitu Muawiyah tugas dari Barak bin Abdullah At-tamimi, Amru bin Ash tugas dari Amr bin Bakar, dan Ali bin Abi Tholib tugas dari Ibnu Muljam.

Keinginan dan rencana Ibnu Muljam untuk membunuh Ali bin Abi Tholib semakin kuat ketika ia bertemu dengan sosok wanita bernama Fitham, yang kecantikannya sangat mahsyur. Wanita ini berhasil memikat hati Ibnu Muljam dan memiliki hasrat untuk menikahinya. Pasalnya, sosok wanita ini selain meminta mas kawin berupa harta juga meminta pembunuhan atas Ali bi Abi Tholib sebagai syarat untuk memperistrinya. Atas dukungan dari istrinya, Ibnu Muljam berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib pada malam 17 Ramadhan 41 H. Atas perbuatan pembunuhan tersebut, Ibnu Muljam dihukum mati.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Muljam: “Sebelumnya, ia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah Swt. Akan tetapi, akhir kehidupanya ditutup dengan kejelekan (su’ul khotimah). Dia membunuh Ali bin Abi Tholib dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah Swt.”

Hasil tahkim yang mereka anggap menyeleweng dan melanggar dari ajaran-ajaran Islam yang mereka sebut kafir. Pembunuhan keji tersebut mereka yakini sebagi ibadah dan jihad kepada Allah Swt.  Kesesatan yang melingkupi hati hingga timbangan kebenaran pun terbalik. Menilai manusia paling mulia sebagai orang yang pantas dibunuh.

Bukankah Allah Swt. telah memerintahkan dalam ayatnya untuk menghindari perilaku balas dendam, dan menolak kejahatan dengan cara yang baik.”…tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan diantara kamu dan dia akan menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fushilat:34)

Demikianlah ketika hati telah mengeras dan hidayah telah jauh dari seseorang. Tidaklah mereka renungkan kemuliaan sahabat Rasulullah Saw. dan tidak sadarkah mereka bahwa Rasul telah menjamin surga bagi Ali bin Abi Thalib. Kalau memang Ali bin Abi Thalib kafir, mengapa Allah memberikan jaminan surga?

Wallahu A’lam.