gembira dan bahagia
gembira dan bahagia

Bahagia dan Gembira Termasuk Bagian Akhlak Rasulullah

Nabi mengajari kita bagaimana untuk bahagia dan gembira. Ajaran ini dibingkai dalam komitmen dan bertanggung jawab, bingkai rendah hati dan cinta, serta dalam bingkai syariat dan aqidah. Beliau tidak suka kita menjadi simpang siur atau bingung apalagi suka marah.

Oleh karena itu beliau melarang kita marah, serta melakukan perbuatan yang tidak dipertimbangkan terlebih dahulu.  Dalam sabdanya beliau menyampaikan: “Janganlah marah, dan Surga adalah milikmu”, kebahagian dan kegembiraan mempunyai nilai tersendiri.

Hadits diriwayatkan Anas RA. Yang dikeluarkan Imam Bukhori dalam kitab shahih-nya berkata: “Nabi SAW. Adalah manusia yang paling bagus budi pekerti-nya, beliau berkata : saya mempunyai saudara yang dipanggil Abu Umair,-yaitu anak kecil-, saat Nabi datang kepadanya beliau bersabda: ‘Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?, Nughar yang menemaninya bermain, kadang kala Rasulullah datang untuk shalat di rumah-ku, menyuruh memberikan tikar dibawah-nya, lalu disapu dan dibersihkan dengan air, kemudian beliau berdiri, lalu aku berdiri dibelakangnya dan shalat bersamaku.

Perkataan Nabi: ” Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan Nughair?”. Seolah-olah ada kebahagian untuk anak kecil bermain dengan Nughar, -Nughair adalah jenis burung kecil, anak-anak kecil merasa bahagia bermain dengan-nya. Tidak membuat mereka muram, tertekan, dan merasa dikucilkan, tapi sebaliknya merasa lembut, manis, dan indah. Beliau mengajarkan kita bagaimana gembira dan bahagia.

Dari Ummu Khalid binti Khalid : ”Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam datang dengan membawa beberapa helai pakaian yang bermotif kecil warna hitam. Beliau berkata : ”Menurut kalian, siapa yang pantas untuk memakai baju ini ?”. Semua diam. Beliau kemudian berkata : ”Panggil Ummu Khalid”. Maka Ummu Khalid pun datang dengan dipapah.

Nabi SAW. mengambil pakain tersebut dengan tanggannya dan kemudian memakaikannya kepada Ummu Khalid seraya berkata : ”Pakailah ini sampai rusak”. Pakaian tersebut dihiasi dengan motif lain berwarna hijau atau kuning”, lalu Nabi berkata: “Wahai Ummu Khalid, ini bagus”.

Baca Juga:  Pesan Rasulullah Saat Silaturahmi di Hari Raya Idul Fitri

Perkataan ini keluar dari lisan baginda Rasulullah untuk mengajari kita senang dan bahagia, serta bagaimana membuat gembira anak kecil, berkelakar, dan men-spesialkan mereka dengan pakaian-pakaian baru yang membuat hati mereka gembira.

Dari Bunda Aisyah RA. Beliau berkata: “Dahulu aku sering bermain dengan boneka-boneka perempuan di sisi Nabi SAW. Dahulu aku juga memiliki teman-teman yang biasa bermain denganku. Ketika Rasulullah masuk ke rumah, teman-temanku pun berlari sembunyi. Beliau pun meminta mereka untuk keluar agar bermain lagi, maka mereka pun melanjutkan bermain bersamaku.”, Bunda Aisyah bermain boneka (manekin yang terbuat dari kapas) dengan teman-teman nya, beliau mengizinkannya dengan teman-teman seumur-nya.

Hadits dari Bunda Aisyah RA. Beliau berkata: “Suatu hari, Rasulullah pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar (perawi hadits ragu, pen.) sementara di kamar (‘Aisyah) ada kain penutup. Ketika angin bertiup, tersingkaplah boneka-boneka mainan ‘Aisyah. Lalu Rasulullah SAW. bertanya, “Apa ini wahai ‘Aisyah?” Dia (‘Aisyah) pun menjawab, “Boneka-boneka (mainan) milikku”.

Beliau melihat di antara boneka mainan itu ada boneka kuda yang punya dua helai sayap. Lantas beliau pun bertanya kepada ‘Aisyah, “Yang aku lihat di tengah-tengah itu apanya?” ‘Aisyah menjawab, “Kuda.” Beliau bertanya lagi, “Apa itu yang ada pada bagian atasnya?” ‘Aisyah menjawab, “Kedua sayapnya.” Beliau menimpali, “Kuda punya dua sayap?” ‘Aisyah menjawab, “Tidakkah Engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?” Beliau pun tertawa hingga aku melihat gigi beliau.”

Hadits dari bunda Aisyah RA. : “Ia pernah bersama Nabi SAW. dalam perjalanan. ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi SAW. Tatkala ‘Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama Rasulullah, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi SAW. bersabda: “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.”.

Baca Juga:  Cerita Khusnul Khatimahnya Seorang Ahli Maksiat

Pembaca www.islamkaffah.id yang budiman, bergembiralah dan berbahagialah kalian semua, karena kebahagian dan kegembiraan termasuk bagian dari akhlak Islam.

Lebih-lebih dalam hal ibadah, sering kali kita temukan dalam diri kita, mau mendekat kepada sang Pencipta dalam keadaan sedih saja, namun saat suasana bahagia dan gembira malah melalaikan-Nya. Alangkah baiknya dalam beribadah kita menghadap kepada sang pencipta dalam suasana senang dan gembira, karena kalau kesungguhan kita menghadap sang pencipta dalam keadaan sedih saja, bisa jadi kesedihan terus melanda kita, agar terus ingat kepada-Nya.

Semoga kita senantiasa dianugerahi rasa bahagia dan gembira.

Wallahu A’lam…

disarikan dari tulisan mantan mufti Mesir, Prof. DR. Ali Jum’ah.

Bagikan Artikel ini:

About Achmad Amiruddin Lc

Avatar of Achmad Amiruddin Lc

Check Also

shalat taubat

Jangan Putus Asa Ketika Berdosa, Berbaik Sangkalah Kepada Tuhan

Setiap insan tidak lepas dari kesalahan, kecuali para para Rasul dan Nabi yang selalu dijaga …

tahun baru islam

Tadabbur Makna Hijrah di Tahun Baru 1442 H; Belajar pada Sejarah dan Tidak Mendistorsi Sejarah

Memperingati Tahun Baru Islam sekaligus mengenang sejarah hijrah. Karena itu sebuah keniscayaan kita belajar terhadap sejarah dengan baik agar tidak terjadi distorsi sejarah