wanita ghamidi
wanita ghamidi

Belajar Menghargai Orang Lain dari Kisah Wanita Ghamidi yang Berzina

Satu hari, ada seorang wanita hamil dari suku Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw. ia meminta dirajam karena berzina padahal ia sudah memiliki suami. Ia pun juga mengakui bahwa anak yang sedang dikandungnya merupakan hasil zina. Namun Rasulullah saw tidak mau merajamnya, lantaran ia masih hamil. Wanita tersebut disuruh kembali lagi nanti kalau sudah melahirkan.

Beberapa kurang lebih delapan bulan berikutnya, wanita tersebut datang lagi dengan membawa bayi yang dikandungnya sebagai bukti bahwa ia telah melahirkan. Tetap dengan permintaan yang sama, ia meminta Rasulullah saw agar mau merajamnya sebagai sangsi dari perbuatan zina yang telah dilakukan. Namun lagi-lagi Rasulullah saw menolak karena anak yang dilahirkan masih membutuhkan perawatan dirinya. Jadi wanita tersebut disuruh merawatnya dan menyusuinya, kemudian disuruh kembali lagi nanti kalau anaknya sudah cukup besar.

Tujuh tahun berikutnya, wanita suku Ghamidiyah itu datang lagi bersama anak yang sudah mulai besar. Ia mengatakan bahwa anak yang dilahirkannya sudah besar. Ia meminta lagi untuk dirajam sebagai bentuk pertobatannya. Baru kali ini Rasulullah saw menghukumnya dengan rajam.

Sebagaimana maklum, hukuk rajam dilakukan dengan cara orang tersebut dipendam dalam sebuah lobang hingga tersisa bagian wajahnya saja. Lalu dilempar dengan batu hingga mati.

Wanita Ghamidiyah juga melalui proses demikian. Ia dipendam dalam tanah yang tersisa hanya bagian wajahnya saja. Sahabat-sahabat Nabi saw saat itu melemparinya batu. Di antaranya adalah Khalid bin Walid ra, ia mengambil batu lalu melempar kepalanya hingga wajahnya berlumuran darah, kemudian wanita Ghamidiyah itu mati.

Saat melempar batu, Khalid bin Walid ra mencela wanita yang berzina tersebut karena melakukan perbuatan yang tercela. Namun oleh Rasulullah saw, Khalid bin Walid ra ditegur ketika itu. Dalam tegurannya, Rasulullah saw mengatakan:

Baca Juga:  Naudzubillah Min Dzalik, Inilah 4 Makanan dan Minuman Penghuni Neraka

مَهْلاً يَا خَالِدُ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ

Artinya: “Tunggu wahai Khalid, demi dzat di mana jiwaku di tangannya, ia telah benar-benar bertobat. Seandainya orang-orang yang beraniaya bertobat dengan cara tobatnya, maka niscaya Allah swt akan mengampuninya”

Ksiah tersebut banyak termaktub dalam kitab-kitab Hadits, Tafsir dan Tarikh Islam. Ini menunjukkan bahwa kisah tersebut benar-benar pernah terjadi pada masa Nabi saw.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah ini, diantaranya adalah:

  1. Wanita berzina tetap dihukumi Islam dan wajib mendapatkan hak dan kewajiban dalam Islam
  2. Anak zina tetap dihormati dalam agama Islam. Ia wajib dirawat dan dibesarkan selayaknya anak pada umumnya
  3. Wanita yang berzina tidak boleh dikucilkan dalam masyarakat. Teguran Rasulullah saw terhadap Khalid bin Walid ra yang mencaci wanita Ghamidyah tersebut cukup sebagai bukti bahwa orang yang berzina yang telah bertobat dari perbuatannya harus mendapatkan pelayanan dan perlakuan yang sama.
  4. Tidak boleh menilai buruk kepada siapapun lantaran perbuatan dosa lama yang pernah diperbuatnya
  5. Seseorang yang benar-benar bertaubat, Allah swt pasti akan mengampuninya

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

doa orang yang baru datang haji

Doa Orang yang Baru Datang Dari Haji

Berdo’a untuk suatu kebaikan tidak dipermasalahkan adalam agama, karena berdo’a sendiri merupakan anjuran dari Allah …

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …