aisyah
sayyidah aisyah

Diabadikan dalam al-Qur’an, Ini kisah Aisyah yang Dituduh Berzina

Ummul mu’minin Aisyah RA adalah salah satu istri terbaik baginda Nabi Muhammad SAW. Dia adalah putri kesayangan Khalifah pertama, Abu Bakar as-Siddiq RA. Perempuan yang menadapat julukan al-Humaira (yang kemerah-merahan) juga merupakan sosok perempuan sholehah yang memeliki pengetahuan yang sangat luas mengungguli isteri-isteri Nabi yang lain.

Aisyah lahir pada masa empat sampai lima tahun setelah masa kenabian. Kemudian, Rasulullah menikahinya ketika dirinya berumur 6 tahun dan memasuki rumah tangga Nabi pada usianya yang menginjak 9 tahun. Sedari kecil telah membersamai Nabi menjadikan Aisyah RA terus berkembang menjadi perempuan yang berbeda dengan perempuan yang lain pada saat itu.

Banyak sekali kisah dan peran Aisyah RA di dalam sejarah perkembangan islam. Salah satunya ialah, saat dia dituduh berzina oleh orang-orang munafik yang ingin memecah belah islam pada saat itu. Kisah tersebut kemudian diabadikan oleh Allah SWT dalam QS. an-Nur ayat 11. Yang berbuny :

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang diperbuat.”

Kisah bermula pada saat Aisyah RA yang terpilih menjadi pendamping Nabi Muhammad SAW pada perang Bani Musthaliq pada tahun 5 atau 6 hijriah. Terpilihnya Aisyah RA menjadi pendamping Nabi Muhammad SAW merupakan hasil dari undian yang biasanya dilakukan Nabi untuk menentukan siapa yang menjadi pendampingnya selama peperangan.

Pada perang kali ini, Pasukan muslim yang langsung dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW meraih kemenang atas Bani Musthaliq. Perang kali ini juga diikuti oleh sejumlah orang-orang munafik yang hanya ingin mendapatkan harta rampasan perang.

Saat perjalanan pulang dari peperangan, Nabi dan rombongan menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak. Saat para pasukan beristirahat, Sayyidah Aisyah RA keluar dari sekedupnya (tandu yang diletakan di atas punggung unta) untuk membuang hajatnya. Setelah itu, Sayyidah Aisyah kembali ke rombongan. Akan tetapi, Sayyidah Aisyah tersadar bahwa kalung yang dikenakannya tidak lagi melingkar di lehernya. Karena itu, Sayyidah Aisyah kembali ke tempat buang hajatnya tanpa disadari oleh para rombongan.

Baca Juga:  Tidak Hanya Viral karena Romantis, Aisyah Istri Rasulullah adalah Pejuang dan Ahli Hadits

Setelah kembai untuk kedua kalinya, Sayyidah Aisyah tidak menumukan rombongannya yang tadi sedang beristirahat. Mereka meninggalkan Sayyidah Aisyah yang sedang mecari kalungnya yang hilang. Rombongan juga tidak sadar bahwa istri ketiga Nabi itu belum masuk kedalam sekedupnya karena pada masa itu perempuan-perempuan Arab hanya makan sedikit dan tidak begitu berat.

Sadar akan hal itu, kemudian Sayyidah Aisyah menunggu di tempat peristirahatan. Aisyah yakin bahwa para rombongan akan kembali ke tempat semula untuk mencari dirinya yang tidak ada dalam rombongan. Lama menunggu rombongan datang dan saat itu sudah larut malam, membuat Sayyidah Aisyah merasa kelelahan dan akhirnya rasa kantuk mengalahkan matanya. Namun, saat Aisya tertidur, ada seseorang sahabat Nabi yang bernama Shafwan bin Al-Mu’aththal As-Sullami Adz-Dzakwani yang tertinggal jauh dari rombongan karena ditugaskan Nabi untuk mengecek barang rampasan perang telah terangkut semua, Dia melihat hitam-hitam sosok seseorang dari kejauhan.

Melihat ada sosok aneh itu, membuat Shafwan penasaran dan menghampirinya. Saat itu juga Shafwan kaget dan langsung ber-istirja (inna lillah wa inna ilaihi raji’un). Mendengar itu, Aisyah terbangun dan langsung menutupi wajahnya dengan hijab, karena pada saat itu, ayat tentang wajib menggunakan hijab tidak lama turun.

Tanpa mengucapkan apapun, Shafwan langsung turun dari untanya dan mempersilakan Aisyah menunggangi unta milikknya. Bahkan, Karena kealiman dan kesholihan sahabat Nabi satu ini, Dia tidak berani melihat cara Aisyah menaiki unta miliknya. Setelah Sayyidah Aisyah naik, mereka berdua melanjutkan perjalanan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Hingga pada siang hari, mereka berdua bertemu kembali dengan rombongan yang pada saat itu sedang beristirahat karena terik matahari yang sangat menyengat. Peristiwa ini akhirnya dimanfaatkan kaum munafik untuk menyebarkan berita palsu. Mereka menyebarkan berita bohong tentang perselingkahan Aisyah dan Shofwan. Orang munafik yang sangat gencar menyebarkan berita buruk itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Berita bohong itupun menyebar dari mulut ke mulut. Hingga hampir tidak ada seorang sahabat yang tidak mempercayai berita tersebut.

Baca Juga:  Jaringan Ulama Pesantren dan Otoritas Sanad Keilmuan

Setelah sampai di kota Madinah, Sayyidah Aisyah jatuh sakit selama satu bulan. Keadaanya yang sedang tidak sehat membuat dia tidak tahu mengenai fitnah tentang dirinya yang selama ini tersebar di kalangan umat muslim. Dia tahu berita tersebut dari Ummu Misthah ketika menemaninya untuk buang hajat. Akan tetapi Sayyidah Aisyah tidak begitu percaya dengan kabar tentang fitnahnya yang tersebar.

Setelah sembuh dari sakit yang menimpanya, Sayyidah Aisyah yang sebelumnya tinggal di Rumah ayahnya, Abu Bakar, kembali ke kediaman Rasulullah. Akan tetapi, Rasulullah pada saat itu hanya menjawab salam dan menanyai kabarnya. Rasulullah juga bersikap tidak seperti biasanya kepada Asiyah. Karena pada saat itu, belum ada wahyu dari Allah SWT yang menjelaskan tentang kebenaran berita tersebut.

Melihat sikap Rasulullah yang berubah menjadikan Sayyidah Aisyah bingung dan kembai pulang ke Rumah ayahnya dan menanyakan kembali tentang fitnah tentang dirinya. Ayahnya, Abu Bakar pun menceritakan semuanya kepada putri tercintanya itu. Mendengar hal itu, Sayyidah Aisyah langsung menangis berlinang air mata. Bahkan ada pendapat yang mengatakan, Sayyidah Aisyah menangis selama dua malam tanpa henti.

Selama menunggu wahyu dari Allah SWT yang tidak kunjung datang, Nabi Muhammad SAW kemudian menceritakan masalah ini kepada para sahabatnya, Ali bin Abi Thalib dan Usama bin Ziyad tentang rencananya menceraikan Sayyidah Aisyah. Usama kemudian menyarankan kepada Nabi untuk meminta pendapat kepada Barirah, budak yang dimerdekakan oleh Sayyidah Aisyah. Balirah berkata pada saat itu, “Tidak mungkin wahai Nabi, bahwa Siti Aisyah melakukan perbuatan perzinaan, mengingat sifat Siti Aisyah sendiri masih kekanak-kanakan”. Karena perkataanya, Nabi Muhammad SAW kembali mempertimbangkan kabar buruk tersebut dan lebih memilih untuk mengumpulkan para pemuka dari suku-suku muslim dan menanyakan tentang siapa yang pertama kali menyebarkan kabar buruk tersebut.

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW  berkunjung ke kediaman Abu Bakar untuk menjenguk Sayyidah Aisyah. Nabi mendapatinya sedang menangis. Kemudian Rasulullah mengatakan: “Wahai Aisyah, apabila engkau memang tidak berzina maka tentu Allah SWT akan memberikan kemudahan untukmu, namun jika engkau memang melakukan itu, maka bertaubatlah.”

Baca Juga:  Viral Lagu Aisyah Istri Rasulullah : Ini Fakta-Fakta tentang Sayyidah Aisyah yang Wajib Kamu Ketahui (1)

Kemuadia Aisyah menjawab: “Aku ini wanita muda, aku ini juga belum hafal Al-Qur’an. Demi Allah, jika aku memang mengatahakan tidak terkait hal tersebut engkau tentu tetap tidak akan mempercayainya wahai Rasul karena berita tersebut memang sudah seakan menjadi kebenaran. Namun apabila aku mengatakan “Ya” terkait kejadian tersebut tentulah aku membohongi Allah SWT”.

Mendengar jawaban Sayyidah Aisyah, Nabi Muhammad SAW semakin yakin bahwa Aisyah memang benar tidak melakukan perbuatan tersebut. Ketika itu juga, QS. An-Nur ayat 11-20 turun. Nabi Muhammad SAW kemudian berkata dengan penuh keringat padahal pada saat itu udara kota Madinah sangat dingin. “ Wahai Aisyah, Allah SWT telah membebaskanmu dari kebohongan ini.” Mendengar apa yang dikatakan  Nabi, Ibu Aisyah langsung menyuruh Aisyah untuk bersyukur kepada Nabi tetapi beliau menolak dan berkata : “Aku tidak akan bersyukur Kepada Nabi tetapi aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menurunkan (wahyu) kebebasanku dari tuduhan.”

Setelah ayat pembebasan tuduhan Sayyidah Aisyah turun, Abu Bakar yang sebelumnya memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah bersumpah untuk tidak akan memberikan nafkah lagi kepadanya. Karena Misthah juga termasuk orang yang menyebarkan berita bohong tentang Sayyidah Aisyah. Namun, tindakan Abu Bakar RA langsung ditegur oleh Allah SWT melalui firman-Nya pada surat an-Nur ayat 22. Yang artinya:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Begitulah kisah Sayyidah Aisyah yang dituduh melakukan perbuatan yang keji (berzina) dengan Shafwan oleh orang-orang munafik. Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Jika dikontekstualisasikan dengan keadaan yang sangat mudah memberikan kabar dan sangat cepat meluaskanya sepserti saat ini maka kita seharusnya lebih jelih lagi dalam  bertabayyun dan mencari kebenaran akan kabar dan berita yang kita dengar.

Bagikan Artikel ini:

About Muhamad Firdaus

Avatar of Muhamad Firdaus
Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Mahasantri Monashmuda Institute, Alumni MTA Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Check Also

doa rizki halal

Bacalah Do’a ini agar Dicukupkan dengan yang Halal dan Dijauhkan dari yang Haram

Rasulullah ﷺ bersabda: Mencari rezeki yang halal hukumnya wajib atas setiap Muslim. (HR Thabrani) Hadits …

bulughul maram

Ngaji Bulughul Maram (1) : Setiap Kebaikan adalah Sedekah

Berbuat baik adalah hal yang mudah dan seharusnya dilakukan oleh setiap muslim. Orang yang melakukan …