Kisah Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Nabi Muhammad Saw (Bagian II)

0
834
perempuan hebat

Pada tulisan sebelumnya telah diulas 2 dari 11 istri-istri Nabi. Tulisan ini kelanjutan dari kisah perempuan mulia yang menemani sejarah agung Rasul


Dalam catatan sejarah adalah 11 wanita yang pernah menjadi istri Rasulullah Saw. Masing-masing istri itu telah memberikan makna tersendiri dan peran penting bagi kehidupan dan kelanjutan dakwah rasulullah saw.

Perempuan-perempuan yang berperan sebagai istri Rasul itu telah menjadi pendamping sekaligus wanita mulia yang menemani dan menjadi saksi sejarah kenabian. Pada tulisan sebelumnya telah diulas 2 dari 11 istri Nabi. Berikut kelanjutannya.

Aisyah binti Abu Bakar  

Rasulullah Saw sangat mencintai Abu Bakar Assiddiq dan menghormatinya. Abu Bakar sangat pantas mendapatkan posisi itu di hadapan Rasulullah Saw karena beliau adalah orang pertama yang mempercayainya ketika menceritakan peristiwa Isra’ Miraj yang dialaminya pada malam 27 Rajab.  

Pada perjalanan suci dari Mekkah ke Baitul Maqdis dan selanjutnya dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha, hanya Abu Bakar yang langsung mempercayainya. Sementara masyarakat justru menganggap itu adalah sesuatu yang mustahil. Betapa tidak, masa perjalanan yang begitu jauh hanya ditempuh dalam waktu satu malam saja. Abu Bakar juga adalah satu-satunya yang menemani Rasulullah dalam gua saat menghindari dari kejaran Quraisy yang ingin membunuhnya ketika memutuskan hijrah hijrah ke Madinah.

Rasulullah ingin menunjukkan kepada Abu Bakar As-Siddiq bahwa sesungguhnya ia juga ingin membalas kebaikan-kebaikan dan kecintaan itu kepadanya dengan memperistrikan putrinya Aisyah binti Abu Bakar. Aisyah sendiri adalah seorang wanita yang luar biasa fasih berbahasa, rajin belajar agama dan memiliki kemampuan beradaptasi serta memiliki akhlak dan karakter yang mulia sehingga sangat mendukung untuk menjadi istri seorang nabi.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Aisyah merupakan salah satu istri Rasulullah Saw yang paling banyak meriwayatkan hadis yang jumlahnya mencapai 2210 hadis yang meliputi fikih, warisan, kedokteran dan syair-syair. Rasulullah Saw mempersunting Aisya sekitar tiga tahun sebelum hijrah nabi ke Madinah dan pada saat itu Aisyah masih berumur 9 tahun. Aisyah wafat pada umur 63 beberapa bulan di Madinah dan dimakamkan di pekuburan Baqi’.    

Baca Juga:  Pertaruhan Usman bin Affan yang Menegangkan

Hafshah Binti Umar bin Khattab

Allah Swt memberikan berbagai keistimewaan kepada Rasulullah Saw karena kedudukannya di dunia dan akhirat. Beliau adalah penutup segala nabi dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Salah satu keistimewaan yang diberikan kepada Rasulullah tidak kepada umat manusia adalah dibolehkannya beristri lebih dari empat perempuan dan setiap dari istrinya memberi pelajaran dan nasihat serta kisah-kisah yang menarik.

Imam Syafi’i mengatakan bahwa sunnah nabi itu telah menunjukkan bahwa Allah tidak membolehkan selain kepada Rasulullah saja menikahi empat perempuan pada waktu yang sama sehingga istrinya mencapai 11 orang. Salah satunya adalah Hafsah binti Umar bin Khattab.

Hafshah binti Umar bin Khattab memeluk Islam sejak kecil dan hirjah bersama suaminya Khunaes bin Khuzafah Alquraisy ke Madinah. Khunaes turut serta dalam perang Uhud dan Badar. Ia meninggal pada saat perang Badar.  Ayahnya Umar bin Khattab sangat prihatin melihat nasib anaknya yang masih berumur 20 tahun tapi sudah dirundung dengan kesepian akibat kepergian suaminya.

Keperihatinan Umar dalam memikirkan nasib putrinya memutuskan ia memberanikan diri menawarkan kepada sahabatnya Abu Bakar Assiddiq dengan dua pertimbangan. Pertama, Abu Bakar adalah seorang sahabat dekatnya yang begitu paham tentang dirinya dan ingin menjadi bagian dari keluarga Abu Bakar. Kedua putrinya sendiri memiliki kelebihan karena Hafshah termasuk orang yang cerdas dan rajin belajar agama serta memiliki perilaku dan akhlak yang mulia sehingga cocok bagi Abu Bakar Assiddiq.

Namun, ternyata Abu Bakar tidak memberikan jawaban atas tawaran sahabatnya itu. Umar pun menyadari sepenuhnya bahwa tidak semua yang kita tidak suka itu jelek bagi kita, tetapi kadang yang kita tidak sukai itu justru baik bagi kita. Iapun membesarkan hatinya dan mencoba mendekati sahabatnya Usman bin Affan dengan pertimbangan bahwa kemungkinan besar Usman bin Affan akan menerima tawaran itu karena istrinya Ruqayyah putri Rasulullah Saw juga baru saja meninggal.

Baca Juga:  Kisah Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Nabi Muhammad Saw (Bagian I)

Apa yang dialami oleh Hafshah. Dalam pikiran Umar, mirip dengan apa yang dialami oleh Usman bin Affan. Keduanya sama sama mengalami suasana kebathinan yang menyedihkan. Usman ditinggal oleh istrinya yang tercinta Ruqayah putri Rasulullah Saw dan Hafsah ditinggal suaminya karena korban dalam perang Uhud.

Namun sekali lagi harapan Umar bin Khattab juga tidak memberi hasil. Usman bin Affan mengatakan bahwa dirinya belum ingin menikah lagi tahun ini. Umar pun gelisah dan terus perihatin terhadap putrinya. Ia pun menghadap kepada Rasulullah dan menceritakan kepadanya tentang yang dialami. Lalu Rasulullah saw menyampaikan bahwa Hafshah menikah dengan seorang yang lebih baik dari Usman bin Affan dan Usman bin Affan akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafshah. Usman menikahi putri Rasulullah Saw Ummi Kaltsum setelah kakaknya Ruqayyah meninggal karena itu Usman disebut Zunnuraeni karena menikahi dua putri Rasulullah Saw.

Rasul pun menikahi Hashah. Ketika Hafshah masuk ke dalam keluarga Rasulullah Saw, sudah ada dua istri Rasulllah saat itu yaitu, Saudah bin Zam’a dan Aisyah binti Abu Bakar. Keduanya dinikahi ketika Nabi masih di Mekkah dan dibawa hijrah ke Madinah.

Hafshah menyadari sepenuhnya bahwa akan ada tantangan berat yang akan ditemukan dalam keluarga Rasulullah saw. Bagi Hafshah mungkin untuk mengimbangi peran Aisyah agak susah karena ia sudah jauh lebih dekat kepada Rasulullah, namun untuk Saudah tidaklah berat bagi Hafshah karena ia sudah begitu tua ketika dinikahi Rasulullah.

Meskipun demikian, kehidupan keluarga Rasulullah tetaplah damai dan penuh kebahagian bersama istri-istrinya, sementara Aisyah dan Hafshah seperti saudara dalam keluarga itu. Mereka menjadi bagian penting dalam dakwah dan perjuangan Rasul.   

Baca Juga:  Ketika Khalifah Umar Hampir Gagal Memperluas Masjid Nabawi

Zainab binti Khuzaimah

Zainab binti Khuzaimah merupakan istri kelima rasulullah Saw yang dipersunting setelah suaminya Ubaidah Bin Al Harist bin Abdul Muttalib meninggal dunia  pada saat perang Uhud atau pada tahun keempat hijrah. Ubaidah adalah sepupu Rasulullah Saw yang hanya beda 10 tahun dengan Rasulullah dan beriman kepadanya sejak awal Islam datang dan hijrah ke Madinah bersama Rasulullah Saw. 

Zainab binti Khuzaimah dikenal sebagai orang yang paling suka menyantuni orang-orang miskin dan para kaum lemah. Sebelum ia masuk Islam sudah dikenal sebagai Ummul Masakin atau ibu kaum miskin dan setelah masuk Islam, kecintaannya terhadap orang-orang miskin semakin meningkat dan bertambah. Setiap harinya ia sibuk mengurus orang-orang miskin dan membantu orang-orang lemah.

Ketika Zainab diperistrikan Rasululullah, Hafshah dan Aisyah agak khawatir karena Zainab juga masih muda kala itu umurnya baru sekitar 30 tahun. Namun, ternyata Zainab memiliki keperibadian yang kokoh. Ia tidak terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang kecil dalam rumah tangga Rasulullah atau turut bercerita tentang ini dan itu. Zainab hanya fokus beribadah di tengah malam dan membantu orang-orang miskin di sekitarnya.

Zainab dikabarkan hanya sekitar delapan bulan bersama Rasulullah Saw dan juga ada yang mengatakan hanya sekitar dua bulan lebih bersama Rasulullah. Ia meninggal dan wafat  setelah beberapa bulan bersama Nabi. Zainab dikuburkan langsung oleh Rasulullah Saw di pekuburan Baqi’. Zainab adalah ummul mukmininan yang kedua yang pergi meninggalkan Rasulullah Saw setelah Khadijah binti Khuwailid.

Dari cerita itu 5 kisah istri Nabi dalam tulisan ini dan sebelumnya, terlihat bahwa Aisyah yang memang masih perawan dan belum pernah menikah. Selebihnya, istri-istri Rasul adalah perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya. Dua di antaranya adalah istri dari suami yang meninggal karena perang.

Tinggalkan Balasan