zakat fitrah
zakat fitrah

Zakat Fitrah (6) : Siapa yang Bertanggung Jawab Atas Zakatnya Anak Zina ?

Keberadaan anak zina tidak hanya menjadi perbincangan khusus dalam masyarakat, tetapi dalam Fiqh pun mendapatkan sorotan tersendiri. Anak zina memiliki hukum tersendiri yang tidak sama dengan hukum bagi anak-anak lainnya. Persoalan anak zina sehingga menjadi pembahasan spesial karena berangkat dari status nasab anak zina dengan orang tuanya. Sebab ada hadits yang berbunyi:

الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجْرُ

Artinya: “Anak bagi mereka yang menikah, sementara bagi orang yang berzina, terputus” (HR. Bukhari dan lainnya)

Ulama sepakat bahwa hadits ini adalah dasar bahwa anak zina tidak memiliki nasab dengan laki-laki yang menzinahi ibu yang melahirkan anak tersebut. Sekalipun mereka berbeda pendapat tentang apakah status nasab tersebut dapat bersambung kembali.

Berangkat dari ini, kemudian banyak persoalan terangkat yang membedakan antara anak zina dengan anak yang diperoleh dengan pernikahan yang sah. Di antara persoalan tersebut menyangkut tentang wali nikah seandainya anak zina tersebut wanita, statusnya sebagai ahli waris, kebolehan dinikahi ayahnya, nafaqah dan sebagainya.

Sekalipun kondisi anak zina seperti demikian, namun ia tetap manusia yang sama-sama mendapatkan hak dan kewajiban dalam agama sama seperti anak yang bukan hasil zina. Seperti wajib melakukan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadlan, zakat dan haji. Anak zina juga terkena taklif (beban hukum) mengeluarkan zakat fitrah layaknya umat Islam lainnya. Hanya saja siapa yang wajib membayarkan zakat fitrahnya anak zina jika ia masih belum mampu membayar sendiri karena faktor kekanak-kanakan ?

Dalam kitab Nihayatul Muhtaj, dijelaskan:

وَانْظُرْ وَلَدَ الزِّنَا وَوَلَدَ الْمُلَاعَنَةِ هَلْ فِطْرَتُهُ عَلَى أُمِّهِ أَوْ لَا؟ فِيهِ نَظَرٌ، وَالْأَقْرَبُ الْأَوَّلُ لِوُجُوبِ النَّفَقَةِ عَلَيْهَا

Artinya: “Lihatlah kepada anak zina dan anak yang disumpah li’an, apakah zakat fitrahnya wajib terhadap ibunya atau tidak ?, Persoalan tersebut perlu dipikir kembali, tetapi pendapat yang paling mendekati kebenaran yaitu yang pertama (wajib terhadap ibunya), karena kewajiban memberi nafaqah”

Begitu juga dalam kitab Tuhfatul Habib dengan mengutip perkataannya al Shaimiri, dijelaskan:

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Boleh Mengambil Harta Orang Lain Asal...

قَالَ الصَّيْمِرِيُّ : فِطْرَةُ وَلَدِ الزِّنَا عَلَى أُمِّهِ إذْ لَا أَبَ لَهُ كَمَا تَلْزَمُهَا نَفَقَتُهُ

Artinya: “Al Shaimiri berkata: Zakat fitrahnya anak zina dibebankan kepada ibunya, karena anak zina tidak memiliki ayah, sebagaimana ibunya juga wajib terhadap nafaqahnya anak zina tersebut”

Dari keterangan ini, yang bertanggung jawab untuk membayarkan zakat fitrahnya anak zina adalah ibunya. Sebab anak zina tidak memiliki hubungan nasab dengan ayah yang menzinahi ibunya tersebut. Sehingga kewajiban membayar nafaqah berpindah alih kepada ibunya. Manakalah nafaqah ditanggung ibu, maka zakat fitrahnya pun berpindah kewajiban kepada ibu. Karena dialah sekarang yang berkewajiban memberikan nafaqah kepada anak zina tersebut.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aswaja

Benarkah Abu Hasan Al Asy’ari Meyakini Allah Swt Berada di Arsy ?

Sudah berabad-abad lamanya, umat Islam yang sampai pada kita saat ini mayoritas bermadzhab Asya’iroh, yaitu …

4 madzhab

Mengapa Ahlussunnah Wal Jama’ah Hanya Mengikuti 4 Madzhab Saja ? Ini Penjelasannya !

Dalam Risalah fi Taakkudi bi Madzahibil Arba’ah, KH. Hasyim Asy’ari berkata: وَلَيْسَ مَذْهَبٌ فِي هَذِهِ …