Ikhlas
Ikhlas

Belajarlah Ikhlas : Sungguh Tak Laik Memamerkan Amal Baik

اللَّهُمَّ اجْعَلْ سَرِيرَتِي خَيْرًا مِنْ عَلاَنِيَتِي ، وَاجْعَلْ عَلاَنِيَتِي صَالِحَةً

Ya Allah, jadikan sesuatu yang aku rahasiakan lebih baik dari pada sesuatu yang aku publikasikan. Ya Allah, jadikanlah, sesuatu yang aku rahasiakan sebagai suatu kebaikan (untuk diriku dan untuk orang lain).al-Musnad al-Jami’ karya Abu Fadhal Juz 25 hal 357.

Ini adalah sebaris doa yang diajarkan Rasulullah kepada Umar ibn Khaththab r.a.  sebait doa yang cukup sederhana namun maha luas kandungan maknanya. Rasulullah hendak memberikan pesan bahwa keikhlasan itu jauh lebih bermakna dari pada riya’ (mempublikasikan perbuatan baik). Oleh karena itu ulama’-ulama’ salaf sangat tidak suka atau membenci untuk melakukan sujud lama didepan khalayak, mereka khawatir riya’.

Abu Umamah al-Bahili pernah memergoki seorang laki-laki sedang sujud di Masjid dalam keadaan tak bisa membendung tangisnya. Bukannya berdecak kagum, Abu Umamah al-Bahili justru menegur lelaki tersebut. Engkau adalah lelaki terbaik yang pernah kutemui andai saja engkau lakukan semua itu dirumahmu, hingga tak seorangpun tahu kau begitu hanyut dalam ibadahmu. Tanbih al-Mughtarrin, hal 15

Lalu apa pengertian ikhlash itu? Al-Muhasibiy dalam kitab Ihya’ menjelaskan bahwa ikhlash itu adalah sanggup melupakan makhluk saat berinteraksi dengan Allah. Ikhlas memanglah sesuatu yang tidak sesorangpun tahu apakah si fulan itu ikhlash atau riya’. Ikhlash adalah rahasia Allah dan pelakunya. Namun walaupun begitu, ikhlash dapat diketahui dari indicator tertentu.

Seperti seorang lelaki tadi yang menangis saat sujud. Lelaki tersebut dicurigai akan memiliki rasa dan merasa ibadahnya paling khusu’ dibanding orang lain. Ibnu ‘Ajibah ketika mencoba men-syarah-i kita Hikam karya Imam ‘Athaillah berkata: termasuk salah satu tanda seseorang tidak ikhlash adalah merasa dirinya paling mulia, paling benar dan paling khusu’ dalam melakukan ibadah, dan ia merasa senang orang lain mengetahui keistimewaannya ini, maka orang seperti diklaim oleh beliau sebagai orang yang tidak benar dalam melakukan ibadah (termasuk riya’). Iqadz al-Himam Syarhu Matn al-Hikam, Ibnu Ajibah, juz I hal, 174

Baca Juga:  Adab dan Panduan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Ali Ibn Abi Thalib, Khalifah ke-4, pernah mengurungkan niatnya untuk menebas leher musuhnya saat musuhnya tak berdaya lagi, Ali Ibn Abi Thalib masih merasa batinnya berkecamuk, perasaannya bergelut. Adakah niatnya membunuh si Musyrik karena Allah semata, atau jangan-jangan niatnya membunuh si Musyrik itu karena dorongan dan bisikan hawa nafsunya. Ini tentu merupakan refleksi dari sikap ihtiyath (berhati-hatinya ) Ali Ibn Abi Thalib dalam melakukan perbuatan.

Daud al-Thaiy, seorang sufi yang kezuhudannya luar biasa, pernah melakukan puasa selama empat puluh tahun lamanya. Dan anehnya, istri dan anak-anaknya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Daud al-Thaiy, kok sampai begitunya beliau? Khawatir puasanya dihinggapi rasa riya’ bukan karena Allah semata. Syarh al-‘Ainiyyah, 64, al-Manhaj al-sawiy, 635.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo