Benarkah Ada Tanda Cap Kenabian di Tubuh Nabi? Lalu Seperti Apa?

0
1595
stempel kenabian

Dalam suatu riwayat yang cukup populer ketika Nabi ikut pamannya, Abu Thalib dalam perdagangan ke Syam bertemu dengan pendeta Buhaira. Pendeta ini menemukan salah satu tanda cap kenabian dalam al-kitab di tubuh Nabi. Lalu, benarkah itu dan seperti apa tanda itu?

KH. M. Hasyim Asy’ari dalam kitab Nur al Mubin fi Mahabbati Sayyidi al Mursalin menjelaskan tentang 45 ciri fisik dan penampilan Rasulullah. Penjelasan yang ditulis oleh pendiri NU ini bersumber pada beberapa hadis seperti  Sayyidina Ali bin Abu Thalib, Amr bin Huraits, dan hadis-hadis yang lain.

Salah satu ciri yang disebutkan dalam kitab tersebut bahwa di antara kedua belikat Nabi Muhammad terdapat cap kenabian (Khatam al Nabiyyin). Stempel kenabian.

Begitu juga Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al Maliki al Makki al Hasani dalam kitab al Anwar al Bahiyyah fi Isra’ wa Mi’raj Khair al Bariyyah  membahas satu tema menarik bertajuk “Khatam al Nubuwwah” yang berarti “Cap Kenabian”.

Dari kajian dua literature di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa di tubuh Nabi Muhammad memang nyata terdapat cap kenabian yang tak dimiliki oleh satu orangpun kecuali beliau. Hal ini untuk membuktikan bahwa Rasulullah benar-benar Nabi dan Rasul terakhir. Penutup para Nabi dan Rasul sebelumnya.

Di samping tanda-tanda kenabian yang lain, tanda cap kenabian dimaksudkan untuk menjadi jalan terang manusia waktu itu supaya percaya dan mengimani bahwa Nabi Muhammad memang utusan Allah.

Ali bin Abi Thalib saat menceritakan sifat-sifat Rasulullah berkata: “Di antara kedua bahu Rasulullah  terdapat khatam (tanda) kenabian, yaitu khatam para nabi.” (HR. Ahmad ‘Ubadah adh-Dhabi, Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari Umar bin Abdullah dari Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera Sayyidina Ali bin Abi Thalib).

Bentuk Cap Kenabian

Ciri-ciri dari cap kenabian tersebut secara rinci disebut dalam Syarh al-Barzanji.  Cap kenabian yang ada pada Rasulullah (Khatam al-Nubuwwah) berupa daging atau lemak yang hitam yang tampak dan timbul, bercampur warna kekuning-kuningan seperti urat. Di kelilingi bulu-bulu halus yang beriring-iringan seperti bulu kuda yang halus. Letaknya ada di antara pundak Rasulullah. Pendapat lain mengatakan posisinya ada di bahu kiri bagian atas.

Menurut Imam al-Qurthubi, dalam Faidh al-Qadir karya Imam al-Munawi menyatakan, berdasarkan pembacaannya terhadap beberapa hadis sahih, ia menggambarkan bentuk Khatam al-Nubuwwah berupa gumpalan daging berwarna merah yang letaknya ada di dekat bahu sebelah kiri. Awalnya, saat Nabi Muhammad masih kecil, daging itu hanya sebesar telur burung merpati. Kemudian membesar seukuran genggaman tangan saat beliau dewasa.

Hal senada dikatakan oleh Imam al Zurqani dalam al Mawahib al Laduniyyah Syarh kitab al Syamail al Muhammadiyyah menyebutkan ciri Khatam al Nubuwwah seperti telur burung merpati. Di dalamnya tertulis kalimat “Allahu wahdahu laa syariika lahu.” Sementara di luarnya tertulis “Tawajjahu haitsu syi’ta Fainnaka manshur.” Melengkapi keterangan ini,  Tarikh al Naisabur menambahkan bahwa di dalam stempel kenabian juga tertulis kalimat “Muhammad Rasulullah.”

Sejak Kapan Khatam al Nubuwwah Ada di Tubuh Nabi?

Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar menulis terdapat perbedaan pendapat tentang awal Stempel kenabian itu ada di tubuh Nabi. Menurut sebagian ulama adalah bawaan sejak lahir. Pendapat lain mengatakan muncul beberapa saat setelah Rasulullah dilahirkan.

Kemunculan khatam al Nabiyyin bersamaan dengan keluarnya cahaya yang menjulang tinggi ke atas langit. Dan pendapat terakhir mengatakan, stempel kenabian tersebut dilekatkan oleh Jibril sesaat setelah selesai melakukan pembedahan dada Nabi Muhammad untuk membersihkan hati baginda dan diisi dengan sifat iman, hikmah dan keyakinan.

Dari sekian ragam perbedaan pendapat di atas, bisa dipahami bahwa pada tubuh Nabi memang terdapat cap kenabian. Perdebatannya hanya soal kapan pertama kali cap kenabian itu mulai ada di badan Nabi.